Kepemimpinan Umat Islam Pasca Rasulullah SAW (Semasa Empat Al-Khulafa Al-Rasyidin)

Kepemimpinan Umat Islam Pasca Rasulullah SAW (Semasa Empat Al-Khulafa Al-Rasyidin)


Setelah Nabi Wafat, kepemimpinan umat islam dibawah komando Nabi yang sangat unik itu (sebab dibawah otoritas spiritual dan temporal/duniawi yang berdasarkan kenabian dan bersumberkan wahyu Ilahi) pun berakhir.
Mengingat bahwa dalam al-qur’an maupun hadis Nabi, tidak terdapat petunjuk bagaimana cara menentukan pemimpin umat atau kepala negara sepeninggal Nabi. Selain itu, petunjuk yang diberikan sifatnya sangat umum agar umat islam mencari penyelesaian dalam masalah yang menyangkut kepentingan bersama melalui musyawarah, maka diunjuklah pemimpin umat pengganti Nabi melalui proses musyawarah. Hanya saja, tentang bagaimana proses musyawarah itu berlangsung masih beraneka ragam dan tidak ada ketetapan baku mengenai bagaimana cara musyawarah itu dilakukan.
Berikut keragaman proses pengangkatan empat
Khulafa Al-Rasyidin :

a. ABU BAKAR
Abu Bakar menjadi khalifah pertama setelah wafatnya Nabi. Abu Bakar dipilih sebagai khalifah di saat-saat yang genting dan tanpa persiapan serta terkesan mendadak. Persis di saat hari ke dua setelah Nabi wafat, terdengar berita oleh Umar bahwa kelompok Anshor sedang melangsungkan pertemuan di balai pertemuan Bani Saidah, Madinah, untuk mengangkat Saad bin Ubadah, seorang tokoh anshor dari suku Khazraj sebagai khalifah.
Umar dengan tergesah-gesah menyuruh seseorang untuk menghubungi Abu Bakar agar keluar. Semula Abu Bakar menolak dengan alasan sibuk, namun kemudian keluar setelah diberitau bahwa ada peristiwa yang mengharuskan kehadiran Abu Bakar. Umar, Abu Bakar beserta Abu Ubaidah bin Jarah yang bertemu di jalan, segera pergi ke pertemuan Bani Saidah.
Setelah sampai di tempat tujuan, mereka mendapati perdebatan yang sangat sengit antara kelompok anshor dan muhajirin yang kala itu sudah berada di tempat tersebut. Dalam pertemuan itu, Umar hampir tidak dapat menguasai diri, namun dihentikan oleh Abu Bakar.
Abu Bakar pun mulai berbicara, kepada kelompok anshor ia mengingatkan bahwa Nabi pernah bersabda bahwa kepemimpinan umat islam seyogyanya berada di tangan suku Quraisy. Ia juga mengingatkan bahwa suku Khazraj dan Aus pernah bermusuhan sebelum masuk islam. Ia mengingatkan jika seandainya salah satu dari suku utama itu menjadi khalifah maka besar kemungkinan suku yang lain tidak menerimanya. Maka kambuhlah permusuhan seperti pada zaman jahiliyah.
Selanjutnya Abu Bakar menawarkan dua tokoh Quraisy, Umar atau Abu Ubaidah bin Jarah untuk dipilih sebagai khalifah. Orang-orang anshor tampak terkesan oleh ucapan Abu Bakar. Pada saat itu, Umar pun tak menyia-nyiakan kesempatan, dia bangun dari tempat duduknya dan menuju Abu Bakar untuk berbaiat dan menyatakan kesetiaannya kepada Abu Bakar sebagai khalifah, seraya menguatkan bahwa bukankah Abu Bakar yang selalu diminta  menggantikan Nabi sebagai imam sholat saat Nabi sakit, dan bahwa Abu Bakar adalah sahabat yang paling disayangi oleh Nabi. Gerakan Umar, diikuti oleh Abu Ubaidah bin Jarah setelah sebelum keduanya telah didahului oleh Basyir bin Saat untuk mengucapkan baiat. Kemudian diikuti oleh kelompok Muhajirin dan Anshor, termasuk Asid bin Khudair, seorang tokoh Anshor dari Aus dan Basyir bin Saad, tokoh Anshor dari suku Khazraj. Baiat ini dikenal dalam sejarah islam sebagai baiat saqifah atau baiat di balai pertemuan. Pada hari berikutnya, Abu Bakar naik mimbar di mesjid Nabawi dan berlangsunglah baiat umum.
b. UMAR BIN KHATTAB
Pemilihan Umar sebagai kholifah setelah Abu Bakar, relatif lebih mudah dibandingkan pendahulunya. Umar dipilih menjadi kholifah tidak melalui forum musyawarah terbuka, tapi melalui wasiat oleh Abu Bakar.
Di tahun ke-3 sejak menjabat kholifah, Abu Bakar jatuh sakit. Di saat-saat sakit tersebut, timbul perasaan khawatir pada diri Abu Bakar jika tidak segera menunjuk penggantinya sementara ajalnya segera datang.
Pengangkatan Umar diawali dengan proses musyawarah tertutup dan rahasia dengan beberapa sahabat senior, diantaranya Abd Rahman bin Auf, Ustman bin Affan, dari kelompok Muhajirin, serta Asid bin Khudair dari anshor.
Abu Bakar meminta Ustman menuliskan wasiatnya. Namun, baru saja setengah dari pesannya itu didiktekan, Abu Bakar jatuh pingsan, namun Ustman terus saja menuliskannya. Ketika Abu Bakar sudah tersadar, dia meminta Ustman agar membacakan apa yang telah ditulisnya. Ustman membacakannya, yang pada pokoknya menyatakan bahwa Abu Bakar telah menunjuk Umar bin Khattab supaya menjadi penggantinya.
Sesuai dengan pesan tertulis tersebut, sepeninggal Abu Bakar, Umar bin Khattab dikukuhkan sebagai khalifah kedua dalam suatu baiat umum dan terbuka di masjid Nabawi.
c. UTSMAN BIN AFFAN
Ustman dipilih menjadi kholifah ketiga setelah Umar, melalui sistem formatur yang telah diunjuk oleh Umar.
Pada pertengahan tahun kesebelas dari kekhalifahan Umar, ia menderita luka-luka berat akibat enam kali tikaman seorang Persia bernama Fairus yang lebih terkenal dengan nama Luluah. Sejumlah tokoh mendatangi Umar untuk segera menunjuk penggantinya, karena dikhawatirkan dengan luka tikaman itu, Umar tidak akan hidup lama lagi, dan terjadi perpecahan di kalangan umat jika Umar tak menunjuk penggantinya. Namun Umar menolak permintaan tersebut.
Hari berikutnya, mereka mendatangi Umar kembali, mengingat bahaya perpecahan makin tampak. Akhirnya Umar menunjuk enam sahabat senior sebagai tim formatur. Kepada salah satu dari mereka yang dipilih nantinya lah kekhalifaan digantikan.
Keenam formatur tersebut adalah :
1.      Ali bin Abu Thalib
2.      Utsman bin Affan
3.      Saat bin Abi Waqqas
4.      Abd Al-Rahman bin Auf
5.      Zubair bin Awwam
6.      Thalhah bin Ubaidillah
7.      Serta Abdullah bin Umar, anak Umar bin Khattab (dengan tanpa hak suara)
Menurut Umar, mereka dipilih karena dahulu Nabi menyatakan bahwa mereka calon-calon penghuni surga, dan bukan karena mereka mewakili kelompok atau suku tertentu.
Pesan Umar kepada mereka, bahwa sepeninggalnya nanti agar mereka berenam segera berunding dan dalam waktu paling lama tiga hari sudah dapat memilih salah seorang di antara mereka menjadi khalifah. Ia menuturkan, berbahagialah jika mereka mencapai kesepakatan yang bulat tentang siapa yang menjadi khalifah. Namun, jika 5 atau 4 orang diantara mereka setuju memilih seorang menjadi khalifah, sedangkan 1 atau 2 orang lain menentang dan tidak dapat disadarkan, maka yang menentang itu lebih baik dipenggal saja lehernya. Jika suara terbelah sama, 3 orang memilih seorang, dan 3 orang lainnya memilih seorang yang lain lagi, maka agar ditanyakan kepada Abdullah bin Umar. Siapa yang didukung Abdullah maka ialah yang diangkat menjadi khalifah. Namun, jika campur tangan Abdullah tidak dikehendaki, maka calon yang dipilih oleh kelompok Abd Al-Rahman bin Auf yang diangkat menjadi Khalifah. Dan kalau masih ada yang menentang agar dibunuh saja.
Setelah Umar wafat, keenam formatur tersebut berkumpul minus Thalhah bin Ubaidillah yang kebetulan waktu itu tidak ada di Madinah. Sejak awal musyawarah itu sangat alot. Abd Al-Rahman mengimbau agar diantara mereka mau mengundurkan diri memberi kesempatan kepada orang yang benar-benar paling memenuhi syarat sebagai khalifah. Namun, tidak ada yang mau mengundurkan diri. Kamudian Abd Al-rahman sendiri mengundurkan diri, namun tidak diikuti oleh keempat lainnya.
Abd Al-Rahman pun bermusyawarah dengan tokoh-tokoh selain keempat itu. Dan sempat terjadi polarisasi di kalangan umat islam. Mereka terbelah menjadi dua kubu, yaitu kubu Ustman dan kubu Ali.
Pada pertemuan selanjutnya, terhadap keempat rekannya itu, Abd Al-Rahman menanyakan kepada Ali bahwa seandainya bukan dia, siapa menurutnya yang patut menjadi khalifah? Ali menjawab : “Ustman”. Pertanyaan yang sama diajukan kepada Zubair dan Saad, dan mereka juga menjawab “Ustman”. Begitu pula terhadap Ustman diberikan pertanyaan yang sama, namun Ustman menjawab “Ali”. Maka semakin mengerucutlah bahwa hanya dua calon untuk menjadi khalifah : “Ali” dan “Ustman”.
Kemudian Abd Al-Rahman memanggil Ali dan menanyakan seandainya dia dipilih menjadi khalifah, sanggupkah dia melaksanakan tugasnya berdasarkan al-qur’an, sunnah rasul dan kebijaksanaan 2 khalifah sebelumnya. Ali menjawab bahwa ia berharap dapat berbuat sejauh pengetahuan dan kemampuannya. Abd Al-Rahman berganti mengundang Ustman dan mengajukan pertanyaan yang sama seperti yang diajukan kepada Ali, dan Ustaman menjawab “Ya! Saya sanggup”. Berdasarkan jawaban itu Abd Al-Rahman menyatakan Ustman sebagai khalifah ke tiga. Dan segera dilaksanakan baiat. Maka, terpilihlah Ustman sebagai khalifah ketiga melalui proses musyawarah formatur. Ustman memerintah selama 12 tahun.
d. ALI BIN ABU THALIB
Ali diangkat menjadi khalifah keempat melalui proses pemilihan, yang penyelenggaraannya jauh dari sempurna. Pengangkatan Ali pun boleh dikatakan pada saat situasi yang kosong, di mana sahabat-sahabat senior ketika itu banyak yang tidak berada di Madinah. Setelah para pemberontak membunuh Ustman bin Affan, mereka mendesak Ali agar bersedia diangkat menjadi Khalifah. Ali menolak desakan para pemberontak dan menanyakan di mana peserta pertempuran Badar seperti Thalhah, Zubair dan Saad karena merekalah yang berhak tentang siapa yang harus menjadi khalifah. Maka, muncullah 3 tokoh senior itu dan berbaiat kepada Ali, dan segera diikuti oleh orang banyak baik kelompok Muhajirin maupun Anshar.
Pada pengangkatan Abu Bakar atau Ustman, meski ada sedikit pertentangan, namun setelah mereka terpilih sebagai khalifah, orang-orang tersebut menerimanya dan menyatakan kesetiaannya terhadap khalifah yang terpilih. Namun, tidak demikian terhadap Ali. Ada sebagian kelompok yang menolaknya antara lain oleh Mu’awiyah bin Abu Sufyan, gubernur Suria yang termasuk keluarga Ustman. Ia menolak dengan dua alasan :
a.    Ali harus mempertanggungjawabkan tentang terbunuhnya Ustman
b.   Berhubung wilayah islam telah meluas dan muncul komunitas islam di daerah-daerah baru itu, maka hak menentukan khalifah tidak hanya milik mereka yang berada di Madinah saja.
Hubungan Penguasa-Rakyat
            Di masa kekhalifahan, hubungan antara penguasa dengan rakyat dapat dilihat pada serasinya tradisi musyawarah. Para Kholifah dalam menyelesaikan masalah-masalah kemasyarakatan termasuk sengketa dan peradilan terhadap pelanggaran hukum, mereka selalu meminta pendapat dan nasehat sahabat senior baik secara bersama atau perorangan yang dilembagakan.
            Sang kholifah juga tak segan-segan meminta kritik dan koreksi dari rakyatnya jika mereka menemukan kesalahan atau kecendrungan duniawi. Seperti pada pidato-pidato mereka yang terkenal semenjak mereka dikukuhkan sebagai kholifah.
KESIMPULAN
            Dari beberapa keragaman proses pengangkatan Khulafa Al-rasyidin yang empat dapat ditarik kesimpulan bahwa :
1.    Tidak terdapat pola yang baku mengenai cara pengangkatan khalifah atau kepala negara. Abu Bakar dipilih melalui musyawarah terbuka. Umar melalui wasiat dari Abu Bakar dan tanpa pertemuan terbuka. Ustman melalui pertemuan terbuka oleh “dewan formatur” dan Ali melalui pertemuan dan pemilihan terbuka, tetapi dalam suasana kacau dan di saat hanya ada beberapa tokoh senior yang tinggal di Madinah yang oleh karenanya keabsahan pengangkatan Ali ditolak oleh sebagaian masyarakat.
2.    Masyarakat islam pada saat itu belum cukup matang diajak menyelesaikan masalah-masalah seperti penentuan kepala negara melalui musyawarah yang bebas dan terbuka.
3.    Hubungan antara khalifah dengan rakyat adalah seyogyanya seperti hubungan antara 2 peserta dari suatu kesepakatan atau “kontrak sosial” yang memberikan kepada masing-masing hak dan kewajiban atas dasar timbal balik. Hal ini dapat dilihat pada pidato pengukuhan mereka saat diangkat menjadi khalifah.
4.    Tidak terdapat petunjuk tentang cara mengakhiri masa jabatan seorang kapala negara. Mereka mengakhiri tugasnya karena wafat.
Demikian gambaran umum tentang kepemimpinan umat islam setelah Nabi Muhammad SAW wafat. Baca juga artikel sebelumnya, Sendi Negara Islam Semasa Rasulullah SAW. Dan artikel sesudahnya, kepemimpinan pasca Khulafa Al-Rasyidin.


Diresume dari buku “Islam dan Tatanegara.
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.
Yang ditulis oleh Munawir Sadjali.



Medan, 5 september 2013 
Suramah
Buka Komentar