Pola Kehidupan Politik Menurut Mohammad Husain Haikal

Pola Kehidupan Politik Menurut Mohammad Husain Haikal


Mohammad Husain Haikal dilahirkan di desa Kafr Ghanam, wilayah Mesir Hilir pada tahun 1888. Diantara pokok-pokok pikiran Haikal tentang kenegaraan adalah bahwa prinsip-prinsip dasar kehidupan kemasyarakatan yang diberikan oleh al-qur’an dan sunnah tidak ada yang langsung berkaitan dengan ketatanegaraan. Menurutnya yang paling penting dari prinsip dasar yang diajarkan oleh islam bagi pengaturan perilaku manusia dengan hubungannya antar sesama mereka, yang pada gilirannya mewarnai sistem politik adalah iman akan Tuhan Yang Esa dan bahwa Ia satu-satunya yang wajib disembah. Kemudian dari prinsip ini berkembanglah prinsip-prinsip dasar persamaan, persaudaraan dan kebebasan.
Menurut Haikal, islam hanya meletakkan prinsip-prinsip dasar bagi peradaban manusia atau ketentuan-ketentuan dasar yang mengatur perilaku manusia dalam kehidupan dan pergaulan dengan sesamanya, yang pada gilirannya akan mewarnai pola kehidupan politik. Adapun prinsip-prinsip yang diletakkan oleh islam bagi peradaban manusia menurut Haikal adalah, iman akan keesaan Tuhan (tauhid), percaya tentang adanya hukum alam atau sunah Allah yang pasti dan tidak pernah berubah dan yang terakhir persamaan.
Terhadap corak atau sistem pemerintahan, Haikal mengatakan bahwasannya itu tidak semata-mata hanya ditentukan oleh prinsip-prinsip ajaran saja, tetapi juga oleh situasi lingkungan, sejarah, latar belakang budaya, dan tingkat perkembangan intelektual serta peradaban. Singkatnya, menurut Haikal, di dalam islam tidak terdapat satu sistem pemerintahan yang baku. Umat islam bebas menganut sistem pemerintahan yang bagaimanapun asalkan sistem tersebut menjamin persamaan antar warga negara, baik hak maupun kewajiban, dan di muka hukum, dan pengelolahan urusan negara diselenggarakan atas musyawarah dengan berpegang pada tata nilai moral dan etika yang diajarkan islam bagi peradaban manusia.
Baca pula beberapa pandangan kenegaraan tokoh-tokoh berikut :
1.     Afgani, Abduh dan Ridha (salafiyah)
2.     Ali Abd Al-Rasiq
3.     Al-Ikhwan Al-Muslimin
4.     Maududi
Baca juga artikel selanjutnya, pemikiran tentang islam dan tatanegara di Indonesia.

Diresume dari buku “Islam dan Tatanegara.
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.
Yang ditulis oleh Munawir Sadjali.



Medan, 8 september 2013 
Suramah
Buka Komentar