Sekulerisme Ali Abd Al-Rasiq

Sekulerisme Ali Abd Al-Rasiq


Ali Abd Al-Rasiq termasuk sahabat atau murib Abduh. Mungkin karena pergaulannya dengan Abduh, ia termasuk tokoh yang cenderung ke arah nasionalisme dan sekulerisme. Salah satu buah pikirannya adalah menurutnya khilafah adalah satu pola pemerintahan di mana kekuasaan tertinggi dan mutlak berada pada seorang kepala negara dengan gelar khalifah, pengganti Nabi, dengan kewenangan mengatur kehidupan dan urusan rakyat baik kehidupan dunia maupun keagamaan yang hukumnya wajib bagi umat untuk menaatinya. Namun ia tidak sependapat dengan kebanyakan ulama yang menyatakan bahwa mendirikan khilafah merupakan suatu kewajiban bagi umat islam. Ia tidak menemukan dasar yang kuat yang menyatakan wajib hukumnya bagi umat islam mempunyai khalifah baik dalam qur’an atau hadis maupun ijma’. Menurutnya, tiap bangsa harus mempunyai pemerintahan, tetapi baik bentuk maupun sifat pemerintahan itu tidak harus satu, khilafah, dan boleh beraneka ragam. Apakah konstitusional atau kekuasaan mutlak, apakah republik atau diktator dan sebagainya.
Ali Abd Al-Rasiq juga menyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah semata-mata seorang utusan Allah untuk mendakwahkan agama murni tanpa maksud untuk mendirikan negara. Nabi tidak mempunyai kekuasaan duniawi, negara ataupun pemerintahan. Nabi tidak mendirikan kerajaan dalam arti politik atau sesuatu yang mirip dengan kerajaan. Dia adalah Nabi semata seperti halnya para nabi sebelumnya. Dia bukan raja, bukan pendiri negara dan tidak pula mengajak umat untuk mendirikan kerajaan duniawi.
Pendapat-pendapat Ali Abd Al-Rasiq ini bukan tanpa kelemahan. Justru pendapat-pendapatnya ini memiliki banyak kelemahan. Misalnya, dalam pendapatnya yang lain ia mengungkapkan bahwa Nabi dahulu juga melaksanakan banyak hal yang lazim dilakukan oleh raja dan kepala negara. Seperti mengadili sengketa, menjatuhkan pidana, menyatakan perang, mengangkat komandan ekpedisi militer dan beberapa penguasa di wilayah yang ditaklukan serta mengangkat pejabat secara ad hoc untuk jangka waktu tertentu. Pendapatnya ini, menunjukkan ketidakkonsistenannya tentang tugas Nabi yang hanya mengurusi agama murni.
Baca juga beberapa pandangan kenegaraan tokoh-tokoh berikut :
1.     Afgani, Abduh dan Ridha (salafiyah)
2.     Al-Ikhwan Al-Muslimin
3.     Maududi
4.     Mohammad Husain Haikal

Diresume dari buku “Islam dan Tatanegara.
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.
Yang ditulis oleh Munawir Sadjali.



Medan, 8 september 2013 
Suramah
Buka Komentar