SENDI NEGARA ISLAM SEMASA RASULULLAH

SENDI NEGARA ISLAM SEMASA RASULULLAH


Pada periode Mekkah, di tahun kesebelas dari permulaan kenabian, Nabi Muhammad SAW pernah mengadakan perjumpaan dengan enam orang dari suku Khazraj, Yatsrib (Madinah sekarang) yang mengadakan haji ke Mekkah. Mereka berjumpa di Aqabah, Mina. Dari perjumpaan itu, enam tamu dari Yatsrib itu memberikan kesaksian dan menyatakan masuk islam. Mereka juga mengutarakan harapannya bahwa Allah akan mempersatukan suku Khazraj dan Aus-yang waktu itu selalu dicekam oleh permusuhan antargolongan dan antar suku-melalui Nabi. Mereka berjanji kepada Nabi akan mengajak penduduk Yatsrib untuk masuk islam.
Pada musim haji berikutnya, dua belas orang laki-laki penduduk Yatsrib menemui Nabi di tempat yang sama, Aqabah. Mereka mengakui kerasulan Nabi dan memeluk islam serta berbaiat kepada Nabi bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak berbohong, dan tidak mengkhianati Nabi. Baiat ini dikenal dalam sejarah sebagai baiat aqabah pertama
Selanjutnya pada musim haji di tahun berikutnya, sebanyak tujuh puluh tiga penduduk Yatsrib yang telah memeluk islam menemui Nabi di tempat yang sama, Aqabah. Mereka mengundang Nabi untuk hijrah ke Yatsrib (Madinah) dan menyatakan kesaksian bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan pemimpin mereka. Mereka juga berbaiat bahwa tidak akan menyekutukan Allah. Mereka akan membela Nabi. Dalam pada itu, Nabi juga akan memerangi musuh-musuh yang mereka perangi dan bersahabat dengan sahabat-sahabat mereka,  dan mereka adalah satu. Baiat ini dikenal dengan baiat aqabah kedua. Oleh kebanyakan pemikir politik islam, kedua baiat diatas dianggap sebagai batu-batu pertama dari bangunan negara islam. Berdasarkan dua baiat inilah tak lama kemudian Nabi menganjurkan pengikutnya hijrah ke Madinah.

Piagam Madinah
            Setelah umat islam hijrah ke Madinah, terbentuklah komunitas muslim yang terdiri dari kaum muhajirin dan anshor dibawah kepemimpinan Nabi Muhammad SAW. Selain komunitas muslim, di Madinah juga terdapat komunitas lain yaitu kaum Yahudi dan beberapa suku Arab yang belum mau menerima islam dan masih memuja berhala. Sehingga dapat dikatakan bahwa komunitas muslim adalah bagian dari suatu masyarakat yang majemuk.
            Untuk mengatur hubungan kehidupan antar komunitas-komunitas yang merupakan komponen dari masyarakat yang majemuk di Madinah itu, Nabi membuat suatu piagam yang dikenal sebagai piagam Madinah. Banyak diantara pakar ilmu politik islam beranggapan bahwa piagam Madinah adalah konstitusi atau undang-undang dasar bagi negara islam yang pertama yang didirikan oleh Nabi di Madinah.
            Dari piagam Madinah tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa :
1.    Semua pemeluk islam merupakan satu komunitas
2.    Hubungan antar komunitas islam juga antar komunitas lainnya didasarkan atas prinsip bertetangga baik, saling membantu, membela yang teraniaya, saling menasehati, dan menghormati kebebasan beragama.

Nabi Dan Musyawarah
            Menarik untuk dikaji tentang bagaimana Nabi membuat mekanisme pengambilan keputusan menyangkut kepentingan bersama. Sebab, dari mekanisme itu akan dapat diketahui seberapa jauh anggota masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan urusan kenegaraan dan tentang siapa yang memiliki kata akhir.
            Di Madinah, sesuai dengan petunjuk Al-qur’an, Nabi mengembangkan budaya musyawarah dengan para sahabat. Kadang kala Nabi bermusyawarah hanya dengan beberapa sahabat senior saja, terkadang hanya meminta pertimbangan dari orang yang ahli (profesional), juga terkadang melemparkan masalah-masalah pada pertemuan besar.
            Dari musyawarah itu, nabi tak selalu mengikuti nasehat para sahabat, seperti pada saat menetapkan perjanjian Hudaibiyah. Dalam memutuskan sesuatu juga terkadang tidak selalu karena Nabi mendapat petunjuk Allah melalui wahyu, seperti pada peristiwa menetapkan posisi pada pertempuran Badar. Nabi juga pernah bertentangan dengan sahabat kemudian turun wahyu yang membenarkan pendapat yang tidak diterima oleh Nabi itu, seperti pada masalah tawanan badar dan masalah perlakuan terhadap jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul. Demikianlah beberapa model pengambilan keputusan Nabi. Namun semuanya tetap dalam mekanisme musyawarah.
            Baca juga artikel sebelumnya, Kandungan Al-qur’an Tentang Kehidupan Bernegara. Dan artikel sesudahnya, KepemimpinanUmat Islam Pasca Rasulullah SAW.

Diresume dari buku “Islam dan Tatanegara.
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.
Yang ditulis oleh Munawar Sadjali.



Medan, 5 september 2013
Suramah (bang sur)
Buka Komentar