Skip to main content

Uraian singkat pandangan politik Syi’ah


Ketika Nabi wafat, dan kepemimpinan umat islam dipegang oleh Khalifah Abu Bakar, terdapat sejumlah sahabat yang berpendirian bahwa yang lebih berhak menjadi khalifah adalah Ali bin Abi Thalib. Itulah titik awal lahirnya golongan syi’ah atau golongan pengikut dan pendukung Ali. Seiring berkembangnya waktu, pengikut syi’ah pun berkembang dengan pesatnya, lebih-lebih saat sepeninggalnya Ali bin Abi Thalib. Namun perkembangan syi’ah itu juga diikuti oleh banyaknya kelompok-kelompok syi’ah. Diantaranya ada kelompok yang masih mendewa-dewakan orang suci, terutama di kalangan orang-orang Persia meski mereka telah memeluk islam.
Syi’ah terpecah menjadi berpuluh-puluh kelompok yang disebabkan oleh berbagai faktor yaitu karena perbedaan prinsip dan ajaran yang berakibat timbulnya kelompok ekstrem dan kelompok moderat. Juga karena perbedaan pendirian tentang siapa yang harus menjadi imam sepeninggal Husein bin Ali dan seterusnya.
Diantara kelompok syi’ah yang paling besar pengikutnya di Irak, Iran dan sekitar Teluk adalah kelompok Imamiyah Itsna Asyariyah. Dalam pandangan mereka selama imam yang maksum masih ada, maka hukum yang berlaku adalah hukum yang diberikan oleh imam-imam itu. Apa yang mereka perintahkan adalah perintah Allah, dan larangannya adalah larangan Allah. Dalam kehadiran imam itu, tidak ada ruang untuk ijtihad rasional.
Ketika Rapublik Islam Iran berdiri yang didirikan oleh pimpinan almarhum Khumaini, dalam UUD Iran dinyatakan antara lain bahwa kekuasaan negara dan umat dalam Republik Islam Iran selama Imam Mahdi menghilang, berada di tangan ilmuan agama (faqih) yang adil dan takwa, atau sejumlah ilmuwan agama (fuqaha). Di Iran juga terdapat lembaga eksekutif, legislatif, dan sebagainya. Tetapi di atas lembaga itu semua, terdapat kata akhir yang dipegang oleh ilmuan agama, yang dapat menolak atau menerima keputusan yang diambil lembaga-lembaga itu.
Baca juga artikel sebelumnya, pemikiran tentang islam dan tatanegara di Indonesia. Serta pandangan-pandangan politik Khawarij dan Mu’tazilah.

Diresume dari buku “Islam dan Tatanegara.
Ajaran, Sejarah dan Pemikiran”.
Yang ditulis oleh Munawir Sadjali.

Medan, 26 september 2013 
Suramah
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar