Bolehkah Istri-Istri Rasul Dinikahi Ketika Rasul Wafat?

Ditulis di : Trans Tanjungan. Lampung
Pada : Ahad, 1 nopember 2015
Oleh : Suramah, S.Pd

Seorang muslimah yang telah ditinggal wafat atau diceraikan oleh suaminya, sejatinya boleh dinikahi oleh orang lain. Seorang janda boleh saja dinikahi oleh lelaki lain setelah lepas masa iddahnya. Hal ini sesuai dengan dalil sebagai berikut :

“Orang-orang yang meninggal dunia di antaramu dengan meninggalkan isteri-isteri, hendaklah mereka (isteri-isteri) itu menunggu empat bulan sepuluh hari. Kemudian apabila telah sampai (akhir) iddah mereka, maka tidak ada dosa begimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka menurut cara yang patut. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Baqarah : 234)”
Bolehkah Istri-Istri Rasul Dinikahi Ketika Rasul Wafat

Yang dimaksud dengan “.....tidak ada dosa bagimu mengenai apa yang mereka lakukan terhadap diri mereka....” misalnya seperti berhias, bepergian maupun menerima lamaran. Hal ini mengisyaratkan bahwa seorang wanita yang ditinggal mati suaminya atau dicerai suaminya, boleh menikah lagi dengan lelaki lain setelah massa iddahnya selesai.

Lalu, bagaimana istri-istri Rasulullah ketika ditinggal wafat oleh Beliau? Bolehkah dinikahi oleh muslim yang lain? Bolehkah Aisyah dinikahkan dengan lelaki lain sepeninggal Rasulullah?

Istri-istri Rasul terdiri dari sebelas orang. Semua istri Rasulullah SAW tersebut disebut sebagai “Ummul mukminin” atau “Ibu bagi orang-orang mukmin” baik laki-laki atau perempuan. Sebutan itu melekat pada diri setiap istri-istri nabi Muhammad SAW. Apakah Khadijah, Aisyah, dan istri Nabi yang Lainnya.

Sebutan “Ummul Mukminin” atau “Ibu bagi orang-orang mukmin”, bukan tanpa maksud. Dalam penjelasan kitab tarjamah Shahih Bukhari yang diterjemahkan oleh Zein Husein Al-Hamid pada bab Bad’il Wahyi (Permulaan Wahyu) ketika menjelaskan tentang aisyah pada hadist yang pertama (dimana pada hadist yang pertama tersebut bersanadkan dari Aisyah). Dijelaskan bahwa Aisyah adalah Putri Abu Bakar Ash-Shiddiq, sekaligus istri Rasulullah SAW yang dinikahi Rasul pada tahun 2 hijriah. Aisyah adalah “Ummul Mukminin” atau ibu kaum mukminin. Yang dimaksud dengan ibu kaum mukmin adalah dalam hal penghormatan dan pengharaman menikahinya. Hal ini didalilkan dari firman Allah SWT dalam surat Al-Ahzab ayat 6. “Dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka”

Maka setiap istri Rasulullah SAW disebut sebagai “Ummul Mukminin”, dengan maksud menjadi ibu bagi seluruh orang beriman baik laki-laki maupun perempuan. Dengan demikian, menikahi istri Rasul walaupun Rasulullah SAW sudah wafat adalah diharamkan. Layaknya seorang anak yang diharamkan menikahi ibunya seperti firman Allah sebagai berikut : “............diharamkan atas kamu (menikahi) ibu-ibumu...... (QS. An-Nisa : 23)”.

Referensi :
1. QS. Al-Baqarah : 234
2. QS. An-Nisa : 23
3. QS. Al-Ahzab : 6
4. Al-Mubarakfuri, Syaikh Shafiyyurrahman. 2011. Sirah Nabawiyah. Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. Hlm : 563-570 (Penerjemah : Kathur Suhardi)
5. Al-Abyari, Ibrahim. Tarjamah Shohih Bukhari. Surabaya : Mutiara Ilmu. Hlm : 4 (Penerjemah : Zeid Husein Al-Hamid)

Jika menemukan sumber lain yang menguatkan dan menyempurnakan tulisan di atas baik dari Al-Qur’an maupun Hadist, mohon kesediaannya untuk membalas postingan ini.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel