Skip to main content

3 Pelajaran Dari Isra’ Mi’raj

Ditulis di : Trans Tanjungan. Lampung
Pada : 1 nopember 2014
Oleh : Suramah, S.Pd

Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”. (QS. Al-Isra’ : 1)
            
Peristiwa isra’ dan mi’raj adalah peristiwa penting dalam kepercayaan umat islam. Peristiwa isra’ mi’raj ini terjadi pada 27 rajab tahun ke 10 kenabian. Isra’ adalah perjalanan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW pada malam hari dari Masjidilharam menuju ke Majidil Aqsa. Sementara mi’raj adalah perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsa menuju Sidratul Muntaha untuk mendapatkan perintah sholat wajib lima waktu.

Peristiwa Isra’ Mi’raj ini terjadi dalam waktu hanya satu malam saja. Menjelang pagi hari, Nabi Muhammad SAW sudah berada di Mekkah kembali. Ketika Rasulullah menceritakan peristiwa ini kepada umatnya waktu itu, banyak yang tidak percaya. Bahkan Rasulullah sampai dikatakan gila. Sebab, peristiwa tersebut aneh dan tidak masuk akal. Hanya keimananlah yang mampu membenarkannya sebelum ilmu pengetahuan membuktikannya. Dan pada saat itu, muncullah Abu Bakar sebagai orang yang membenarkan peristiwa Nabi Muhammad SAW tersebut. Sehingga ia dijuluki sebagai “Ash-Shiddiq” yang berarti “Yang Membenarkan”.

Peristiwa ini begitu menakjubkan. Bahkan dalam ayat di atas, diawali dengan kalimat “Subhanallah”. Namun, apa hikmah yang bisa diambil dari peristiwa isra’ mi’raj ini? Berikut 3 pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa isra’ mi’raj, yaitu :

1. Isra’ mi’raj menunjukkan bahwa Allah itu maha kuasa. Ia mampu memperjalankan hambaNya dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa hanya dalam 1 malam (hal yang mustahil terjadi pada masa itu, karena tidak ada kendaraan yang mampu memperjalankan manusia dengan jarak yang sangat jauh hanya dalam waktu 1 malam saja).

2. Peristiwa isra’ mi’raj adalah peristiwa aneh, yang seolah-olah mengajak manusia untuk mau memikirkan gejalah yang aneh tersebut sebagai wacana pengetahuan. Perjalanan Nabi dalam 1 malam yang menempuh jarak sangat jauh tersebut tidak lah berlebihan jika menjadi rangsangan agar manusia berpikir. Bagaimana mungkin Nabi melakukan perjalanan itu? Dengan kendaraan apa? Pada zaman modern ini ternyata tidaklah mustahil Nabi melakukan perjalanan itu. Sebab, sudah ada teknologi yang menjadi jawaban bagi keanehan tersebut semisal kendaraan berupa pesawat. Maka, pelajaran kedua dari peristiwa isra’ mi’raj adalah bahwa Allah menghendaki manusia untuk berpikir, untuk menuntut ilmu.

3. Bahwa sholat adalah ibadah yang istimewa. Kewajiban menjalankan sholat dijemput oleh Nabi, bukan diantarkan. Hal ini mengindikasikan bahwa sholat itu istimewa. Salah satu keistimewaannya adalah bahwa sholat tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan bagaimana pun di mana pun. Kecuali bagi yang belum baligh dan wanita yang terhalang. Bahkan ketika seseorang sakit sekalipun. Jika tak mampu sholat dengan berdiri, diperbolehkan duduk. Jika tak mampu duduk, boleh berbaring. Jika berbaring kesulitan, boleh dengan isyarat. Dalam perjalanan pun sholat tidak boleh ditinggalkan. Sekalipun sulitnya perjalanan yang kita lalui, tetaplah kita harus melaksanakan sholat. Untuk mempermudahnya, Allah juga sudah memberikan rukhsoh berupa diperbolehkannya jama’ maupun qoshor dalam perjalanan. Demikian juga bahkan dalam keadaan perang sekalipun seseorang tidak boleh meninggalkan sholat. Dalam fiqih sholat yang dilaksanakan di waktu perang disebut dengan sholat khouf.

Demikian 3 pelajaran yang bisa diambil dari peristiwa isra’ dan mi’raj. Semoga bermanfaat.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar