Pertanyaan Tentang Mahram

Pertanyaan Tentang Mahram

Pertanyaan Tentang Mahram

Pertanyaan:
Assalamua’alaikum Wr. Wb.
Pak saya seorang pelajar berumur 17 tahun, yang ingin saya tanyakan adalah selain keluarga saya, siapa saja yang termasuk muhrim saya?

Jawaban:
Sebelumnya kami lebih dulu mengingatkan bahwa kata “muhrim” dalam bahasa arab berarti “orang yang sedang berihram”. Sedangkan yang dimaksud oleh penanya dalam bahasa Arab disebut “mahram”. Mahram adalah orang perempuan atau laki-laki yang masih termasuk sanak saudara dekat karena keturunan, sesusuan, atau hubungan perkawinan sehingga tidak boleh menikah di antara keduanya.

Definisi di atas, dapat diketahui bahwa hubungan mahram dapat terjadi karena 3 sebab, yaitu:

1.      Mahram sebab keturunan
Orang-orang yang termasuk mahram sebab keturunan ada 7, sebagaimana firman Allah:
Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu isterimu (mertua); anak-anak isterimu yang dalam pemeliharaanmu dari isteri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan isterimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) isteri-isteri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (An-Nisa’ [4]: 23).

Berdasarkan ayat di atas, dapat diketahui bahwa orang-orang yang termasuk mahram, yaitu yang tidak boleh dinikahi dengan sebab keturunan ada 7 golongan, yaitu:
1. Ibu-ibumu
2. Anak-anakmu yang perempuan
3. Saudara-saudaramu yang perempuan
4. Saudara-saudara ayahmu yang perempuan
5. Saudara-saudara ibumu yang perempuan
6. Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki
7. Anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan
Anak akibat dari perzinahan termasuk mahram, dengan berdalil pada keumumam firman Allah;”…Anak-anakmu yang perempuan” (An-Nisa’ [4]: 23)

2.      Mahram sebab Susuan
Mahram sebab susuan ada 7 golongan, sama seperti mahram sebab keturunan, tanpa pengeualian. Inilah pendapat yang dipilih setelah di tahqiq (diteliti) oleh al-Hafizh ‘Imadud-Din Islma’il bin Katsir (Tafsirul-Qur’anil-Azhim. 1/511).
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, dia berkata bahwa Nabi saw bersabda tentang putrid Hamzah: “Dia tidak halal bagiku, darah susuan mengharamkan seperti apa yang diharamkan oleh darah keturunan, dan dia adalah putrid saudara sepersusuanku (Hamzah)”. (Al-Bukhari)

Alqur’an menyebutkan secara khusus dua bagian mahram sebab sesusuan, yaitu yang terdapat pada Q.S. An-Nisa’ (4): 23.
(1) dan ibu-ibumu yang menyusui kamu
(2) dan saudara-saudara perempuan sepersusuan
(3) mahram sebab perkawinan
Mahram sebab perkawinan ada 6 golongan, yaitu:
a.       “Dan ibu-ibu istrimu (mertua)” (An-Nisa’ [4]: 23)
b.      “Dan istri-istri anak kandungmu (menantu)” (An-Nisa’ [4]: 23)
c.       “Dan anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri” (An-Nisa’ [4]: 23)
Menurut jumhur ulama, termasuk juga anak tiri yang tidak dalam pemeliharaan seseorang mempunyai hubungan mahram dengannya. Anak tiri menjadi mahram jika ibunya telah dicampuri, tetapi jika belum dicampuri maka dibolehkan untuk menikahi anaknya setelah bercerai dengan ibunya. Sedangkan ibu dari seorang perempuan yang dinikahi menjadi mahram hanya sebab akad nikah, walau si putrid belum dicampuri, kalau sudah akad nikah maka si ibu haram dinikahi oleh yang menikahi putrinya.
d.      Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu (ibu tiri)” (An-Nisa’ [4]: 22)
Wanita yang dinikahi oleh ayah menjadi mahram bagi anak ayah dengan aqad nikah, walaupun belum dicampuri oleh ayah, maka anak ayah tak boleh menikahinya.
e.       “Dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara” (An-Nisa’ [4]: 23)
Rasulullah saw melarang menghimpunkan dalam perkawinan antara perempuan dengan bibinya dari pihak ibu, dan menghimpunkan antara perempuan dengan bibinya dari pihak ayah. Nabi saw bersabda:
“Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda: ‘Tidak boleh perempuan dihimpun dalam perkawinan antara saudara perempuan dari ayah atau ibunya’.”(Muslim)
f.       “Dan diharamkan juga kamu mengawini wanita yang bersuami” (An-Nisa’
[4]: 24)

Mahram yang disebabkan keturunan dan susuan bersifat abadi, bagitu pula mahram disebabkan pernikahan. Kecuali menghimpun dua perempuan dengan bibinya, yaitu saudara perempuan dari pihak ayah atau ibu, bila yang satu meninggal dunia maka boleh menikah dengan yang lain, karena bukan menghimpun dalam keadaan sama-sama masih hidup. Usman bin affan menikahi Ummu Kulsum setelah Ruqayyah wafat, kedua-duanya adalah anak Nabi saw.

Demikianlah perempuan-perempuan yang termasuk mahram yang tidak boleh dinikahi oleh seorang laki-laki. Adapun perempuan-perempuan yang selain diatas adalah bukan mahram, sehingga halal dinikahi.

“…Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari isteri-isteri dengan hartamu untuk dikawini bukan untuk berzina…(An-Nisa’[4]: 24)
Beberapa Hukum untuk Mahram

Ada beberapa ketentuan dalam agama Islam yang barkaitan dengan mahram, selain dari larangan menikahi. Diantaranya batasan aurat perempuan bagi mahram abadi adalah seluruh badan selain wajah, kepala, leher dan betis (dibawah lutut). Sedangkan untuk mahram mh’aqqat (tidak abadi) adalah seluruh badan kecuali wajah dan telapak tangan. Aurat laki-laki bagi mahram dan selain mahram adalah antara pusar dan lutut.
Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT.
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung’.” (An Nuur [24]: 30-31)

Dan hadist Nabi Muhammad saw:
“Rasulullah saw bersabda kepada Asma’: ‘ Wahai Asma’! sesungguhnya seorang perempuan yang sudah haid tidak boleh dilihat darinya kecuali ini dan ini’ dan dia mengisyaratkan kepada wajah dan kedua telapak tangannya’.” (Abu Dawud)

Di samping itu, pada dasarnya setiap orang tidak dilarang berduaan dengan mahramnya, namun akan lebih baik jika dia mengusahakan untuk tidak pernah berduaan dalam suatu kamar, khususnya dengan mahram mu’aqqat (ipar atau bibi istri) untuk suatu hal yang tidak penting, demi menyelamatkan diri dari fitnah. Demikian jawaban dari kami, semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam bish-shawab

Tanya jawab agama – Suara Muhammadiyah
Buka Komentar