Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memaknai Hayatan Thayyibah dalam surat An-nahl ke 97

Memaknai Hayatan Thayyibah dalam surat An-nahl ke 97
Jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah…

Marilah kita bersyukur kepada allah swt, disiang hari ini, kita masih diberikan kesempatan untuk dapat melaksanakan kewajiban kita sebagai seorang muslim, yaitu menjalankan ibadah jum’at, yang merupakan salah satu langkah bagi kita untuk meningkatkan ketaqwaan kepada allah swt.

Kemudian, marilah kita memperbanyak salawat kepada nabi Muhammad, rasulullah saw. Mudah-mudahan kita tetap istiqomah, tetap teguh dalam menjalankan sunnah-sunnahnya, yang kita tahu, sunnah rasulullah merupakan salah satu petunjuk, sebagai pedoman hidup kita dalam mengarungi hidup-kehidupan di dunia ini.

Jama’ah jum’at yang dimuliakan Allah…

Allah swt berfirman dalam surat an-nahl ayat ke 97:
Ta’awuz” man ‘amila sholiha, min zakarin au untsa wahuwa mukminunn falanuhyiyannahu, hanyatan thoyyibah. Walanj zi yannahum aj rohum bii ahsaani maa kaa nuu ya’maluun.(Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan).

Ayat ini merupakan janji allah kepada seorang muslim, baik laki-laki atau perempuan yang menjalani kehidupnya dengan amal sholeh yang dilandasi dengan iman, maka ia akan memperoleh hayatan thoyyibah atau penghidupan yang baik.

Para mufatsir atau ulama tafsir menjelaskan maksud dari kalimat al-hayah al-thayyibah atau hayatan thoyyibah (dalam bahasa kita, kehidupan yang baik),

1. menurut ibnu katsir, memaknai hayatan thoyyibah (kehidupan yang baik) itu dengan merasa cukup dalam hidup. Jadi seorang muslim yang mendapatkan hayatan thoyyibah, ia diberikan oleh allah perasaan di dalam jiwanya selalu berkecukupan. Walaupun dengan kondisi kurangnya harta, lemahnya ekonomi, namun jiwanya tidak merasa kekurangan. Inilah makna dari ibnu katsir tentang hayatan thoyyibah. Dan sebaliknya jama’ah jum’at yang dimuliakan allah, seorang yang memiliki harta yang banyak, jabatan yang tinggi, dan kedudukan social dimasyarakat yang agung, namun bisa jadi… ia dalam kehidupan merasa terus dan terus kekurangan. Jadi sesungguhnya bagaimanapun kondisi hidup yang dijalani seorang muslin, semestinya ia memperoleh perasaan yang cukup atas segala nikmat-nikmat yang telah diberikan allah kepadanya.

2. menurut ibnu taimiyyah, seorang muslim yang memperoleh hayatan thoyyibah (penghidupan yang baik) dalam hidupnya merasa damai, merasa tentram jiwanya, orang tersebut tidak gemerungsung dalam hidupnya. Segala persoalan yang ada dihadapi dengan hati yang tenang, tidak dengan terburu-buru. Jama’ah jum’at yang dimuliakan allah… begitu banyak manusia bisa kita lihat, hidupnya penuh dengan kegelisahan, hatinya penuh dengan kegundahan, banyak waktu, pikiran bahkan uang dihabiskan untuk mencari kedamaian, namun justru malah mendapatkan yang sebaliknya.

Dan yang ke 3. Menurut ibnu abbas, ia memaknai hayatan thoyyibah dengan rezeki yang halal. Seorang hamba allah harus menanamkan didalam dirinya, bahwa, bukan banyak atau sedikitnya reziki yang ia peroleh, namun halal atau tidaknya reziki itu. Darimana reziki itu datang, bahkan menjadi tanggung jawab kemana reziki itu dibelanjakan. Sehingga dengan reziki yang halal, yang diperoleh seorang hamba… maka insyaallah ia akan mendapatkan penghidupan yang baik, lebih-lebih kehidupan yang baik dari mata allah swt.

Dari 3 pandangan mufatsir ini, dan sebenarnya masih banyak lagi ahli-ahli tafsir yang memaknai hayatan thoyyibah, tapi yang jelas jama’ah jum’at yang dimuliahkan allah. Tidak ada satupun mufatsir atau ahli-ahli tafsir yang memaknai hayatan thoyyibah dengan bergelimangnya harta, dengan jabatan yang tinggi atau kedudukan social yang agung. Ini berarti…harta yang dimiliki baik itu kekayaan yang melipah atau kurangnya harta, dengan jabatan atau tanpa jabatan, adanya status social yang agung atau tidak sama sekali, seorang muslim semetinya dalam hidupnya memperoleh hayatan thoyyibah (penghidupan yang baik).

Seorang sahabat nabi, yaitu umar bin khattab menyampaikan sebuah ungkapan, ia mengatakan”aku tidak peduli atas keadaan susah atau senangku, karna aku tidak tau, manakah diantara keduanya itu yang lebih baik bagiku.

Dari ungkapan ini menunjukkan, susah, senangnya hidup yang dijalaini, jabatan apapun yang di sandang, tinggi rendahnya status social dimasyarakat, jika ia adalah seorang muslim seharusnya, mendapatkan hayatan thoyyibah. Dengan berbagai keragaman ujian hidup, tentu tidak menjadi penghalang untuk mendapatkan penghidupan yang baik sesuai janji allah dalam surat an-nahl ayat ke 97.
Jama’ah jum’at yang dimuliahkan allah… yang terakhir, yang menjadi sebuah pertanyaan bagi kita secara pribadi-pribadi , apakah dalam hidup ini, kita sudah merasa memperoleh hayatan thoyyibah ? jika belum jama’ah sekalian, akan menjadi catatan bagai kita, sebenarnya hidup seperti apa yang sudah kita jalani, sehingga hayatan thoyyibah (penghidupan yang baik) itu belum kita dapatkan?