Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

50 Cara Jitu Meruntuhkan Muhammadiyah

Berikut ini akan dipaparkan 50 cara yang dilakukan baik secara individual atau kelompok yang dapat menyebabkan runtuhnya muhammadiyah. Paparan ini bersumber dari buku yang berjudul” Cara Jitu Meruntuhkan Muhammadiyah” yang di tulis oleh Ansyari. Silahkan lihat paparan berikut ini :

1.      Menampilkan diri merasa tidak perlu bermasyarakat dengan warga non-muhammadiyah untuk menghindari kemungkinan ketularan TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat).
2.      Menganggap organisasi itu tidak penting.
3.      Menganggap Islam bukan satu-satunya sumber kebahagiaan.
4.      Berpikir bahwa tidak wajib memperjuangkan Islam.
5.      Mengabaikan kaidah, pedoman dan putusan-putusan formal persyarikatan.
6.      Mendahulukan kebijakan pimpinan dari putusan formal persyarikatan.
7.      Merasa tidak perlu, tidak sempat dan tidak penting menghadiri pengajian ranting.
8.      Mencukupkan sholat wajib dirumah.
9.      Mengurusi dan mengelola asset tanpa transparasi.
10.  Mengabaikan iuran anggota, zakat, infaq dan sedekah.
11.  Menghindari audit karena bisa menyinggung perasaan.
12.  Mempetieskan persoalan, menganggap itu bisa selesai dengan sendirinya.
13.  Tidak menaruh rasa hormat pada persyarikatan.
14.  Tidak merasa perlu menekuni TUPOKSI.
15.  Memperjuangkan pendapat sendiri, tidak perlu repot memikirkan bagaimana bekerjasama dengan orang lain.
16.  Menjalin silaturrahim karena ada kepentingan.
17.  Memanfaatkan muhammadiyah bukan untuk kepentingan Muhammadiyah.
18.  Lebih mengedepankan berpikir politis ketimbang berpikir ideologis.
19.  Malas membangun dialog.
20.  Tidak menyegerakan mengobati 6 penyakit berbahaya: kaburo, aba, sawaun, taka, Manawa dan wahn.
21.  Tidak mengkhawatirkan masa depan Persyarikatan.
22.  Biasa-biasa saja terhadap kepemimpinan yang melenceng dari kebenaran.
23.  Ngotot tidak mau memperbaiki cara Berpikir.
24.  Membiasakan berdebat memaksakan kehendak.
25.  Mencari kambing hitam.
26.  Tidak merasa saling bertanggungjawab atas kemunduran yang terjadi.
27.  Selalu meyakini bahwa di setiap masalah belum tentu ada solusi.
28.  Tidak menampilkan keteladanan.
29.  Menunda tindakan yang seharusnya didahulukan.
30.  Merasa tidak perlu memperkuat pemahaman akan tujuan Muhammadiyah.
31.  Tidak mau menilai prestasi sendiri secara realistic.
32.  Berusaha disukai, bukan dihormati.
33.  Tidak segera member perhatian pada pengaduan dan keluhan warga dan pimpinan Muhammadiyah.
34.  Merasa yang dipimpin itu ketua.
35.  Merasa tidak harus mengindahkan segala hokum dan peraturan yang berlaku karena ajaran Islam sudah cukup.
36.  Mengabaikan evaluasi tugas dan kegiatan yang sudah dilalui karena merasa sudah ikhlas.
37.  Mengomentari hasil putusan rapat.
38.  Tidak bersyukur menjadi orang Muhammadiyah.
39.  Menganggap enteng administrasi.
40.  Acuh tak acuh pada upaya pemberdayaan ortom.
41.  Tidak mengembangkan kualitas yang lebih baik.
42.  Mengabaikan keselamatan Persyarikatan.
43.  Tidak mementingkan kemurnian Islam.
44.  Tidak mengupayakan etos kerja keras, disiplin, teratur dan taat kaidah.
45.  Fokus pada figure bukan pada putusan formal Peryarikatan.
46.  Tidak mendatangkan keteraturan.
47.  Tidak membangun kepatuhan pada keteraturan.
48.  Tidak menyegerakan putusan menjadi Tindakan.
49.  Membiarkan ada kepentingan lain selain kepentingan Muhammadiyah.
50.  Menduakan Muhammadiyah.