Skip to main content

Aturan Alqu’an! hanya untuk Kondisi Normal, plus dan minus

Hallo sahabat yang berbahagia dimanapun berada. Berkenaan dengan maraknya praktek-praktek aturan alqur’an yang disalahartikan bahkan salah juga saat direalisasikan. Sering juga hanya sebatas pengajian-pengajian rutin, tapi jauh dari pengamalan. Ngajinya menjaga lisan salah satu kunci memasukan diri kedalam surganya Allah, namun tetap saja diluar dari tempat ngaji atau berada ditengah-tengah masyarakat yang jauh dengan masjid masih saja sukanya menggosip.
            Pada prinsipnya memang peraturan yang di beritahukan kepada manusia oleh Alqur’an adalah aturan standar fitrah dari manusia itu sendiri. “Allah SWT tidak mungkin memberikan aturan yang tidak bisa dikerjakan oleh manusia”. Pernyataan ini yang akan mempola pemikiran setiap manusia tidak dan mampunya menjalankan aturan Allah SWT. Ringan, sedang dan beratnya aturan tersebut tentu jika itu aturan dari Alqur’an bisa dilaksanakan. Aturan itu ringan atau berat itu dalam pikiran manusia yang mempolanya, sedangan kan bagi Allah SWT, bagi yang mengerjakan ringan maka imbalan kecil dan sedangkan mengerjakan yang sulit tentunya ganjarannya juga akan besar.
            Dari pola yang dibentuk dari pikiran manusia, maka bisa terlihat sebagai berikut:

MINUS – NORMAL – PLUS

Kita anggap semua aturan yang ada di dalam Alqur’an adalah normal. Berarti pada dasarnya ini akan berkaitan dengan keadaan atau kondisi yang normal juga. Misalnya, dalam keadaan normal Allah memerintahkan untuk memuliakan seorang tamu yang datang ke rumah. Hal ini bisa dilakukan semua orang karena sifatnya normal ketika tamunya datang pada jam-jam tidak sibuk atau sedang santai, kemudian juga pada waktu yang tepat. Dengan keadaan yang begini setiap orang bisa merealisasikan perintah Allah SWT untuk memuliakan tamu. Tapi bagaimana jika tamunya datang disaat kita sedang nyenyak-nyenyaknya tidur pulas, tepat pada pukul 12 malam. Pertanyaannya, apakah bisa perintah memuliakan tamu dilaksanakan dengan baik?, bisa iya dan bisa tidak, bahkan bisa terjadi percecokan.

            Kemudian, berbicara kondisi yang sama berkaitan dengan tamu. Jika ada tamu yang datang pada jam santai, tamunya juga merupakan teman sekelas di waktu smp dulu. Ternyata pemilik rumah tidak ramah, acuh terhadap tamunya, dan mungkin karena ia lebih kaya, ia pun menunjukkan bahasa bicara yang meninggi. Inilah yang dimaksud dengan minus, dalam kondisi yang normal namun tidak bisa menjalankan perintah Allah SWT dengan baik, atau dengan kata lain berusaha mengamalkan dengan sungguh-sungguh.

            Terbalik dengan plus, ini berkaitan kondisi yang benar-benar tidak normal. Masih dalam peristiwa yang sama, yaitu memuliakan tamu. Tamu datang jam 1 malam, belum mandi pula karena melakukan perjalanan malam, tidak terlalu kenal. Namun, si yang punya rumah dapat menjamu tamunya dengan baik, maka ini lah yang dimaksud dengan plus itu. InsyaAllah juga Allah memberikan ganjaran yang plus.

            Allah SWT, tidak memaksakan manusia untuk mengikuti aturannya. Karena sungguh Allah SWT tidak sedikitpun memerlukan manusia, disembah atau tidak, tidak ada rugi dan untungnya bagi Allah. Tapi aturan yang ada itu penting untuk kita!. Jika kita tidak peduli, maka yang rugi kita sendiri. Oleh karenanya, ada aturan maka harus dijalankan dengan sebaik-baiknya.

            Berkaitan dengan minus-normal-plus ini benar-benar terdapat pada ketaqwaan seeorang. Dengan batasan dalam keadaan normal. Jika keadaannya plus maka secara normal aturan tersebut akan gugur, berganti atau ada alternative yang lain.
Mari lihat Alqur’an surat Al-baqarah ayat 84;

(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui

Ayat diatas berbicara mengenai normal dan plus, jika dalam keadaan sakit atau sedang melakukan perjalanan, normalnya bagi orang tersebut adalah tidak berpuasa. Akan tetapi lihat di kalimat akhir ayat tersebut ‘Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui’, jika dalam plus (sakit namun tetap untuk melakukan puasa, maka itu akan lebih baik), semoga kembali seperti di awal, Allah memberikan ganjaran plus. Ya normal lah, jika sakit tidak puasa. Namun, plus jika tetap berpuasa, bahkan jadi minus jika sehat tapi tidak puasa.

            Semoga dapat membuka cakrawala berpikir kita, dan boleh kita lanjut dengan contoh-contoh yang lain jika diberikan oleh Allah kesempatan untuk berkomentar…

heheheee
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar