Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Babakan Waktu Sejarah Indonesia

Secara teoritis di dalam tinjauan sejarah kita dapatkan adanya interprestasi yang beraneka ragam. Namun demikian, jangan dilupakan suatu kenyataan, bahwa seorang sejarawan hidup di tengah-tengah masyarakatnya, yang seterusnya ikut membina perkembangan bangsanya sendiri. Dia tidak dapat melepaskan diri dari lingkungannya, dia tidak dapat mengingkari fungsinya sebagai warga negara. Masalah ini akan menimbulkan kesulitan dalam penulisan sejarah sebagai ilmu yang dituntut persyaratan obyektif, seperti yang dicita-citakan oleh Leopold von Ranke (1795-1856), bahwa penulisan sejarah itu harus sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi pada waktu itu (wie es eigentlich gewesan). Untuk memecahkan masalah ini para ahli sejarah bersepalat untuk membedakan kenyataan sejarah (historical reality) dan pandangan terhadap sejarah (historical opinion).

Antara realitas dan opini sejarah harus saling berhubungan dan diusahakan jangan sampai terjadi jurang pemisah. Untuk mengatasi masalah ini sejarawan berusaha mengumpulan fakta sejarah sebanyak-banyaknya. Dengan demikian mereka telah dianggap berusaha mendekati obyektif, sebab makin banyak fakta-fakta itu dikumpulkan, makin kurang fantasi memainkan peranan di dalamnya. Akan tetapi bagaimana juga cita0cita Ranke sukar untuk dilaksanakan, seperti apa yang dikatakan Charles A. Beard, seorang sejarawan Amerika, hanyalah sebagai “a noble dream”.

Bagi masyarakat Indonesia beranggapam bahwa sejarah itu erat sekali hubungannya dengan pendidikan dan karena itu diperlukan adanya suatu interprestasi yang tertentu. Faktor-faktor selain pendidikan, politik negara dan pandangan hidup bangsa Indonesia harus mendapatkan perhatian yang wajar, di samping fakta-fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya merupakan dasar yang hakiki.

Dengan sendirinya sejarah Indonesia menyangkut kehidupan bangsa Indonesia sebagai keseluruhan dan kesatuan wilayah yang seutuhnya, maka adalah wajar kalau sekiranya menetapkan Pancasila yang terkandung dalam pembukaan UUD 1945 sebagai dasar interprestasi sejarah Indonesia.


Dapatkah dibenarkan apabila filsafat Pancasila diakui sebagai dasar interprestasi Indonesia ? Pertanyaan ini sering dikemukakan oleh sebagian sejarawan karena keraguan-keraguannya sebagai akibat adanya pengaruh chauvinisme (nasionalisme fisik) seperti yang pernah dikembangkan oleh Nazi Jerman atau pengaruh-pengaruh rasionalisme dan kebangsaan. Sebenarnya tidak perlu diragukan lagi karena Pancasila sebagai filsafat mempunyai nilai-nilai universal seperti ke-Tuhan-an yang Maha Esa dan Kemanusiaan yang adil dan beradab.

Beberapa Contoh Babakan Waktu Sejarah Indonesia Dengan Interprestasi yang Beraneka Ragam

Babakan waktu menurut buku “Geschiedenis van de Nederlandsch Oost – Indische Bezettingen 1972”, karangan J.J. Meinninsma (terjemahan Moh. Ali)

a.       Nederlandsch – Indie sebagai milik VOC
1.      Penegakan pemerintahan Belanda di Hindia Timur (1605-1678)
2.      Perluasan kekuasaan Nederland di Hindia Timur (1678-1757)
3.      Keruntuhan kekuasaan Nederland di Hindia Timur (1757-1800)

b.      Nederlandsch – Indie sebagai milik negara Nederland
1.      Jatuhnya pemerintah Belanda dan masa peralihan (1800-1806)
2.      Penulisan pemerintahan Belanda (1816-1836)
3.      Perluasan kekuasaan Nederland dikepulauan Hindia (1832-1872)

Isi buku ini menggambarkan peranan Belanda di Indonesia, peranan bangsa Indonesia hampir tidak disinggung sama sekali. J.J. Meinninsma adalah seorang Belandasudah dengan sendirinya pengaruh Belamda menjiwai cara penyusunannya.
“Geschiedenis van Indonesia” karangan H. J. De Graaf 1949 (terjemahan).

1.      Orang Indonesia dan Asia Tenggara (sampai 1650)
a.       Zaman Hindu
b.      Zaman penyiaran Islam dan berdirinya kerajaan Islam
2.      Bangsa barat di Indonesia (1511-1800) yaitu sejarah VOC
3.      Orang Indonesia di Zaman VOC (1600-1800)
4.      VOC di luar Indonesia
5.      Orang Indonesia dalam lingkungan Hindia Belanda (sesudah 1800) diakhiri dengan Pemerintahan Ratu Wilhelmina.

Buku H.J. De Graaf dikarang pada tahun1949 sesudah Indonesia mencapai kemerdekaannya. Di samping peranan bangsa Belanda, peranan bangsa Indonesia juga ditampilkan walaupun pengaruh Belanda masih ada. Ia adalah orang Belanda yang pertama menyebut bangsa kita Indonesia.

Tan Malaka di dalam bukunya “Massa Actie” 1926 cetakan ke II tahun 1947. Babakan waktunya :

1.      Bangsa Indonesia asli, melarikan diri dari Indo-Cina ke Indonesia.
2.      Zaman penjajahan raja-raja Hindu dan setengah Hindu.
3.      Zaman penjajahan raja-raja Islam
4.      Zaman Belanda : Imperialisme kuno & Imperialisme modern.
5.      Zaman perebutan kekuasaan antara kelas Jembel dengan kaum imperialisme.

Tan Malaka seorang komunis, sudah barang tentu ia sangat dipengaruhi teori Marx tentang pertentangan kelas penguasa dan rakyat Jembel. Getaran jiwa seorang revolusioner terasa dalam khayalannya. Babakan waktu berdasarkan kebangsaan dikemukakan oleh sejarawan nasional antara lain oleh Prof. Moh. Yamin, R. Moh. Ali dan lain-lain, terutama sejarawan-sejarawan nasional proklamasi kemerdekaan (1945)

Sangat menarik sekali babakan waktu yang dikemukakan oleh Prof. Moh. Yamin di dalam buku “6000 Tahun Sang Merah Putih”, yang dikemukaan dalam kuliahnya di FKIP Bandung (1957) dan buku “Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia” (1960). Dalam buku “6000 Tahun Sang Merah Putih” babakan waktu sejarah Indonesia mula-mula mendapat perwujudan sebagai berikut :

1.      Zaman pra-sejarah sampai permulaan Tarikh Masehi.
2.      Zaman proto historis atau permulaan atau Media-kala atau Tarikh Masehi sampai ke abad ke VII
3.      Zaman Sriwijaya-Syailendra dari abad ke VII sampai abad ke XII.
4.      Zaman Singosari-Majapahit dari abad ke XII sampai abad ke XVI.
5.      Zaman Penyusunan Kemerdekaan Indonesia sejak abad ke XVI sampai ke XIX.
6.      Abad Proklamasi Kemerdekaan sejak permulaan abad ke XX samapi ke pertengahan abad itu.

Pembagian masa itu didasarkan atas pendapat.

Adapun sejarah Indonesia itu melalui beberapa zaman dibagi atas tiga babakan waktu. Pertama zaman praehistoria yang seperti dikatakan di atas bermula sejak terbentuknya Nusa dan Tubuh Indonesia dan berakhir pada ketika sejarah tentang bangsa Indonesia, yang dapat dibuktikan dengan bahan-bahan tulisan, yaitu pada permulaan tarikh Masehi. Babakan waktu yang kedua yaitu Protohistoria (mula sejarah) yang bermula pada permulaan abad VII. Semenjak itu permulaan zaman historia sampai kepada zaman sekarang. Ujung pangkal tarikh ketiga zaman tersebut di atas tidaklah sama di seluruh dunia, karena berhubungan erat dengan pemakaian huruf atau aksara yang memang tak sama pada berbagai daerah peradaban sejagat.

Pada kuliah umum di FKIP Bandung babakan waktu dijadikan pokok pembicaraan, tetapi isi dan bentuknya diberi corak baru, lebih disesuaikan dengan sifat-sifat kebangsaan. Babakan waktu yang semula dari enam bagian mengalami perubahan perumusan sebagai berikut :

1.      Zaman pra-sejarah sampai tahun 0.
2.      Zaman proto sejarah, tahun 0 sampai abad IV.
3.      Zaman nasional : abad ke IV sampai abad ke XVI.
4.      Zaman internasional : abad ke XVI - ± 1900
5.      Abad Proklamasi mulai ± 1900

Babakan waktu disebut “ Pancaparwa Sejarah Indonesia” Panca berarti lima dan Parwa bermakna bagian. Ia memilih angka lima karena dianggap mengandung arti magis seperti lima jari, rukun islam, Pandawa Lima dan Pancasila. Dalam perumusan itu nampak tidak ada pengeruh Belanda. Sejarah Indonesia milik bangsa Indonesia. Jadi bangsa Indonesia yang berperan, Ia menyebutnya Nasional. Dan istilah internasional menunjukkan bahwa bangsa Indonesia mulai memasuki masalah internasional, dengan dimulainya penjajahan Belanda atas Indonesia.

Dalam buku “Pembahsan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia” 1960 Prof. M. Yamin mengemukakan perumusan yang lebih tegas :

1.      Pra-sejarah .........    tahun 0   A.   D. Waktu itu bertumbah dan berkembanglah masyarakat Indonesia dalam satuan-satuan hukum yang nanti bernama desa, kampung, marga, negara, dan lain sebagainya.
2.      Proto-sejarah (0   A.   D. – abad VI). Satuan hukum babakan pra-sejarah menjadikan negara-negara dalam babakan proto-sejarah.
3.      Perumbuhan negara-negara antara nusa kesatu dan kedua, yaitu Sriwijaya dan Majapahit dari negara senusa Indonesia lain.
4.      Zaman reataurasi (1525-1945)
Perjuangan membentuk negara antara nusa ketiga Republik Indonesia.
5.      Abad Proklamasi.

Disusunlah oleh Rakyat Perjuangan organisasi berdasarkan koordinasi bersemangat antara nusa Indonesia. Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai reataurasi negara-negara Indonesia yang telah runtuh dalam abad-abad yang lampau.

Ketiga babakan waktu yang dirumuskan oleh Prof. M. Yamin pada hakikatnya sama jiwanya. Dasar-dasarnya sebagai berikut :

1.      Keyakinan adanya satu sejarah Indonesia di antara tanah air Indonesia dari permulaan zaman sampai akhir zaman : Indonesia abadi.
2.      Perpaduan antara bangsa dengan nusa adalah kesatuan manusia dan tanah yang terjadinya hampir serempak, tertulis dalam sifat-sifat merah-putih (tanah-getah = putih : darah = getih = merah)
3.      Kepercayaan kesaktian yaitu magie-histori atau sejarah kesaktian.
4.      Synthese (perpaduan) daripada tiga dasar pokok itu ialah adanya tiga negara Indonesia : Sriwijaya-Syailendra, Majapahit, Republik Indonesia.

Zaman prasejarah-protosejarah adalah persiapan Sriwijaya Majapahit, zaman internasional adalah masa persiapan Republik Indonesia.
Babakan waktu berdasarkan kebangsaan mempunyai ciri-ciri :
1.      Menonjolkan kesatuan bangsa.
2.      Melukiskan kebesaran dan kejayaan negara.
3.      Bersumber dan berpangkal kepada kesaktian, kesatuan dan kebesaran.

Berhubug dengan itu sering dikhawatirkan bahwa isi sejarahnya akan kehilangan nilai-nilai ilmiahnya. Sejarah akan menjadi alat pemersatu atau kebanggaan nasional. Kalau tidak berhati-hati akan dapat membawa persamaan ke arah chauvinisme. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa penulisan sejarah harus bersifat ilmiah yang mengandung nilai-nilai universal dan obyektif.

Tim Dosen MKDDIS FIS Unimed