Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bisakah Pahala Dihadiahkan ?

Oleh : Deki Irwanda Rotonga

            Segala puji hanya milik Allah Ta’ala, satu-satunya Rabb yang wajib untuk disembah, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad Shallallahi ‘alaihi wasallam, beserta keluarganya, para sahabatnya, dan orang-orang yang selalu mengikuti mereka dengan baik hingga akhir.

            Pahala adalah imbalan yang diberikan Allah SWT pada seorang muslim yang beramal shaleh. Misalnya menolong orang, baca qur’an dan sebagainya. Berarti seseorang akan mendapat pahala, setelah ia mengerjakannya sendiri. Sesuai firman Allah SWT pada QS. An-Najm : 39 “Dan sesungguhnya seseorang itu tidak akan mendapat pahala kecuali yang dikerjakannya sendiri. Namun ada pemahaman bahwa seseorang yang sudah wafat bisa mendapat pahala dari orang lain, misalnya seseorang yang membaca surat yasin, maka pahalanya dihadiahkan kepada orang lain yang wafat.

            Akibat pemahaman ini, timbullah kegiatan orang muslim berkumpul hari ke- 7, hari ke- 40, hari ke-100, dst dari kematian, baca yasin dengan maksud (diniatkan) pahala mereka itu dihadiahkan pada yang sudah wafat. Apakah ini bisa, apakah ini tidak bertentangan dengan QS. An-Najm : 39 diatas? Atau apakah perbuatan ini sia-sia atau melanggar hokum Allah SWT atau terkena hokum bid’ah atau hokum syirik.

            PEMBAHASAN
            Pada pembahasan ini kita akan membahas kenapa pahala tidak bisa dihadiahkan.
            Pertama, adalah Nabi SAW dan sahabat, tidak pernah mengamalkan dan mengajarkan acara menghadiahkan pahala. Namun, ada pemahaman diantara ulama, boleh menghadiahkan pahala. Kalau begitu, kita lihat rujuk pada (QS. An-Nisa: 59) dimana Allah berkata “Apabila kamu berbeda pendapat, maka kembalilah atau rujuklah kepada Allah SWT dan Rasul”. Berarti kalau, Nabi SAW tidak pernah mengamalkan hadiah pahala, maka itulah yang kita ikut karena itulah yang benar. Begitu juga para sahabat tidak pernah mengamalkan hadiah pahala.

            Kedua, ketetapan Allah SWT yang terdapat dalam QS. An-Najm: 39 diatas, atau (QS. Yasin: 54) yang isinya “…Dan Kamu tidak akan diberi balasan, kecuali dengan sesuai dengan apa yang telah kamu kerjakan”. Inilah kejadian yang lucu, dimana orang membaca surat Yasin, tapi petunjuk surat Yasin: 54 dilanggarnya.

            Ketiga, H.R. Abu Daud menyatakan: apabila anak Adam mati, maka putuslah amalnya, kecuali 3 perkara : ilmu yang diajarkannya, wakaf, dan anak sholeh yang mendoakannya.

            “Putuslah amalannya”, berarti ia tidak dapat berbuat apa-apa lagi, kecuali 3 poin diatas diantaranya (poin 3) yaitu dari amalan (pahala) dari khusus anak yang sholeh yang mendoakannya. Misal, baca Al-Qur’an, bersedekah, sholat, dan sebagainya, maka pahalanya mengalir otomatis kepada orang tuanya, itu pun apabila si Anak itu senantiasa ingat mendoakan orang tuanya.

            Kalaulah ada yang berpendapat setiap muslim adalah anak, sehingga membuka peluang setipa orang dapat menghadiahkan pahala pada orang lain yang sudah mati, maka kata “kecuali” pada H.R Abu Daud diatas, menjadi tidak menentukan hokum. Ataupun apabila seseorang masih bisa mendapat pahala terus menerus apa guna disebut dapat pahala (bila ia beramal sholeh), tapi setelah mati tidak dapat lagi, kerena ia tidak dapat berbuat lagi.

            Begitupun Allah SWT member peluang terus menerus dari wakaf, ilmu yang diajarkan dan pahala dari anak yang sholeh yang mendoakan orang tuanya. Kenapa bisa? Apakah ini tidak melanggar ketetapan QS. An-Najm: 39, QS. Yasin: 54 di atas? Jawabannya : si A mengajarkan ilmu yang sholeh kepada si B, maka si B mengamalkannya, maka si B mendapat pahala dan pahala itu juga mengalir ke si A, karena si B berbuat amal sholeh adalah hasil ajaran si A. Wajar bukan?!

Kemudian, si A berwakaf untuk masjid, maka setiap orang atau (si B) yang sholat di masjid itu, pahalanya mengalir pada si A. Wajarkan?! Kemudian si A punya anak yaitu si B dan dididiknya menjadi anak yang sholeh dan tak lupa mendoakan orang tuanya. Maka pahala si anak juga mengalir kepada orang tuanya. Itu adalah wajar, karena itu semua adalah hasil kerja orang tuanya semasa hidupnya.

            Keempat, Imam Syafi’I setelah beliau berpindah ke Mesir, maka beliau pedomani H.R Muslim: “ Barang siapa mengamalkan agama (aqidah, ibadah) yang tidak ada petunjuk kami (Nabi SAW) maka amalan itu tertolak”. Jadi karena amalan tahlilan dikematian menghadiahkan pahala itu, tidak ada petunjuk Nabi SAW, maka amalan itu tertolak. Berarti tahlilan itu tertolak atau akan tidak menghasilkan pahala dan bukan merupakan ajaran islam.

            Jikalau bisa menghadihkan pahala kepada orang yang mati, maka mari kita saling berhadiah pahala sesame yang hidup, dikuatkan lagi adanya akad (permintaan atau persetujuan). Hadiah pahala pada orang mati, tidak pernah diminta si mati pada yang tahlilan, kenalpun ia tidak pada orangnya, kenapa dikirim? Atau cukuplah kita mengumpulkan uang banyak untuk membelanjai 100 ulama membaca yasin terus menerus, agar pahalanya mengalir terus untuk yang kaya sudah mati.

Kesimpulan

1.      Masalah akidah dan ibadah, boleh dikerjakan apabila ada contoh atau perintah dari Nabi SAW(hadist). Karena Nabi SAW dan sahabat tidak mengamalkan hadiah pahala atau tahlilan kematian, maka itu bukan ajaran Islam.
2.      QS. An-Najm: 39 dan QS. Yasin: 54 menyatakan: pahala diperoleh hanya dari amalan sendiri.
3.      H.R Abu Daud menyatakan: pahala mengalir terus dari hasil wakaf, ilmu yang diajarkan, dan anak yang sholeh yang mendoakannya. Adalah itu akibat pekerjaan seseorang ketika hidupnya, membuat atau menciptakan tiga hal diatas (wakaf, ilmu yang diajarkan dan anak yang sholeh)
4.      Bila pahala bisa dihadiahkan, ada baiknya sesame yang hidup berkiriman pahala.
5.      Hanya pahala anak yang sholeh yang mendoakannya yang mengalir otomatis pada orang tuanya
6.      Mengamalkan hadiah pahala tentu karena mengikut pendapat (amalan) beberapa ulama. Menolak pendapat (amalan) hadiah pahala, berarti taat pada Nabi SAW

PENUTUP
Sebagai penutup, Penulis dengan penuh kerendahan hati mengajak kepada para da’i, para ustadz, dan masyarakat secara umum untuk bersama-sama berusaha meninggalkan dan menghilangkan amalan maupun keyakinan bid’ah yang telah banyak tersebar sekitar kita. Meskipun bid,ah sudah mengakar dan membudaya ditengah-tengah masyarakat, hendaknya tidak menyurutkan langkah kita untuk terus menerus berupaya membersihkan agama kita dari noda-noda bid’ah. Tentunya dengan ilmu serta dakwah yang hikmah, mengedepankan kelemah-lembutan dan akhlak yang baik, agar agama Islam yang kita cintai ini kembali murni sebagaimana yang dibawa oleh Rasulullahu ‘alaihi wasallam.



Wallahu a’lam bis showab
Billahi fii sabilil haq, fatabiqul khoirat

Buletin Tabligh Mahasiswa
AL-KHAIRAT