Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Bukan Pilihan Dalam Iman, Selain Kebenaran

Kehidupan ini bukan sebuah pilihan bagi manusia yang hidup didalamnya, melainkan sebuah anugerah Allah yang diberikan kepada manusia sebagai suatu ketetapan yang terbaik. Sekiranya Allah mengijinkan kita untuk memilih, tentu kita akan memilih terlahir pada kehidupan yang membuat kita nyaman, enak, dan aman. Seperti menjadi anak dari orang kaya, menjadi anak seorang menteri, menjadi anak seorang professor, dll. Namun, keberadaan bagaimanapun yang diperoleh sekarang merupakan ketetapan yang terbaik dan patut untuk disyukuri. Mungkin, Allah menetapkan dia menjadi anak dari seorang yang miskin, karena suatu saat nanti anak tersebut akan menjadi orang yang kaya, mungkin saja terlahir dari kedua orang tua yang tidak pintar, karena suatu saat nanti anak itu akan mengubah nasib dirinya dan kedua orang tuanya menjadi lebih baik dengan kepintarannya. Oleh karena itu, kehidupan ini bukan sebuah hal yang harus disesali, namun menjadi sesuatu yang harus disyukuri.

Perlu diingat kembali bahwa pilihan Allah itu merupakan pilihan yang terbaik untuk manusia, namun dalam menjalani kehidupannya sebagai manusia belum tentu dapat memilih sebuah pilihan terbaik untuknya, hal ini sangat dipengaruhi oleh adanya petunjuk dari Allah. Sebagai manusia sekaligus hamba Allah, tidak patut ada penyesalan disebabkan kondisi kita sekarang, apalagi sampai mengatakan bahwa Allah itu tidak adil. Bisa kita banyangkan ketika seseorang masuk surga karna miskin, seolah-olah Allah dalam bahasa kita mengatakan, Tuh kan masuk surga coba kemarin jadi orang kaya, tentu kamu akan melupakanku dan menjauhkan diri dari ibadah. 

Menjalani hidup ini, manusia dihadapkan pada pelbagai pilihan. Baik dalam memilih tujuan hidup, teman bergaul, rumah, pekerjaan, pendidikan, pasangan hidup, dan lain sebagainya. Ada yang memilih sesuatu yang benar, adakalanya juga memilih sesuatu yang salah. Dalam Alqur’an surat Asy Syams ayat ke 8 :
Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan”.
Jika banyak orang berkata hidup ini adalah pilihan, maka apakah yang akan kita pilih ?. Apakah jalan ketaqwaan atau jalan kefasikan. Hidup ini anugerah sebab Allah memilihkan sesuatu yang terbaik sebagai ketetapannya dan dalam hal yang lain kita diberi kesempatan untuk memilih.

Ada 3 faktor yang mempengaruhi benar dan salahnya sebuah pilihan, yaitu :
1. Ilmu Pengetahuan
2. Petunjuk Allah
3. Iman

Allah memberikan bekal kepada manusia untuk dapat mempelajari ilmu-ilmunya, walaupun hanya sedikit. Jika seseorang memilih sesuatu tanpa ilmu, maka akan tersesat dan jika dengan ilmu, masih ada 2 kemungkinannya yaitu bisa salah atau juga bisa saja benar. Dalam Alqur’an surat Ar Ruum, 29 :
“Tetapi orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang penolongpun”. Ilmu pengetahuan merupakan tahap pertama agar dapat memilih sebuah pilihan yang benar. Namun, ilmu pengetahuan dapat digelincirkan oleh adanya hawa nafsu negative. Apalagi yang tidak berilmu, tentu akan menjadikan hawa nafsu negatifnya menjadi sebuah ilham baginya. Segala tindakan yang dilakukan hanya semata-mata untuk memuaskan hawa nafsu negatifnya yang akan menyebabkan kerugian, baik untuknya maupun orang-orang yang ada disekitarnya. Oleh karena itu, dengan ilmu saja tidak cukup karena masih ada 2 kemungkinan yaitu salah atau benar.

Setiap do’a sering sekali kita sebagai hamba memohon kepada Allah untuk selalu diberikannya petunjuk. Seorang hamba yang memiliki ilmu sangat mudah mendapatkan petunjuk, hal ini disebabkan karena ilmu pengetahuannya menghantarkan pada sebuah tindakan-tindakan demi mengejewantahkan ilmu yang dimilikinya, sehingga pada klimaksnya dia dihadapkan pada sebuah pilihan-pilihan.  Jika salah dalam memilih karena bertopang pada ilmu, semoga Allah segera memberi petunjuk. Namun, jika tidak didasarkan pada ilmu dalam melakukan sesuatu, tentu ini hanya menjadi sebuah kemungkinan yang condong pada kesesatan. Bagaimana bisa, ingin mendapat petunjuk wong udah sesat. Dan Allah memberikan petunjuknya bagi yang ia kehendaki. Tapi masalahnya adalah ada orang yang respon dan ada yang tidak. Banyak orang yang sudah diperlihatkan sebuah petunjuk, tapi tidak mengerti juga bahkan petunjuk itu tidak hanya sekali diperlihatkan namun sudah berkali-kali. “Katakanlah:’Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan):’Marilah ikuti kami.’ Katakanlah:’Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.” (QS. Al An’aam: 71). Sangat sulit mengetahui petunjuk yang diperlihatkan oleh Allah tanpa ilmu. Akan tetapi, kembali lagi kepada Allah siapa yang dikehendakinya mendapat petunjuk pasti akan mendapat petunjuk, ilmu hanya sebagai suatu usaha dalam mempermudah mendapatkan petunjuk dari Allah. Bahkan aklamasi Allah yang menyebutkan hanya islam saja yang diridhoinya, masih banyak orang yang memilih Kristen, Hindu, Buddha, dan sebagainya, meskipun ia seorang yang memiliki pendidikan tinggi sekalipun. Dan itu merupakan sebuah pilihan yang tentunya dipengaruhi oleh ilmu dan petunjuk yang benar. Begitu berharganya petunjuk Allah sebagai harapan bagi setiap orang yang berdoa’a dan berusaha, yang merupakan tahap ke dua setelah ilmu pengetahuan.

Pada tahap yang ketiga, yaitu iman. Iman merupakan sesuatu yang sudah kompleks karena mencakup Ilmu pegetahuan dan petunjuk Allah. Sebab, tidak mungkin orang beriman, jika tidak dengan ilmu pengetahuan dan tidak mungkin orang beriman, jika tidak ada petunjuk Allah didalamnya. Tidak banyak kata yang harus diutarakan dalam iman, cukup dengan tindakan yang nyata sebagai realisasi dari ilmu dan petunjuk Allah. Jika sudah mencapai pada tahap yang ketiga ini, mudah-mudahan pilihan yang dipilih adalah pilihan yang terbaik.

Dalam islam, sesungguhnya tidak ada dua pilihan, apakah harus memilih kebaikan atau keburukan. Islam hanya mengajarkan untuk memilih satu pilihan saja yaitu kebaikan. Ini mengapa, Allah memberikan petunjuknya yaitu Alqur’an. Tujuannya agar manusia dapat melihat cahaya kebaikan dan tidak menjatuhkan diri pada pilihan yang salah. Jika sudah bisa melihat mana yang baik dan mana yang buruk, maka pilihan hanya ada satu saja yaitu kebaikan. Namun, hal ini sangat diperngaruhi oleh keberadaan iman. Iman menjadi relative jika tidak ada petunjuk Allah yaitu Alqur’an. Sehingga, apabila imannya salah maka ilmu dan petunjuknya juga salah. Ini perlu dicermati, karena banyak tiruan-tiruan iman yang meyesatkan. Ada sebuah pengalaman seorang mahasiswa muslim UNIMED (si A) yang melakukan diskusi dengan seorang yang pindah agama dari agama islam ke katolik (si B). Banyak cerita-cerita yang disampaikan oleh si B, begitu juga alasannya mengapa harus pindah agama. Namun, satu hal yang sangat mengherankan si A. Bermula pada pertanyaannya, apa sih yang si B rasakan setelah pindah agama ?. Si B menjawab salah satunya adalah hati saya semakin tentram dan damai. Si A sangat terkejut mendengar jawabannya, karena selama ini si A hanya tau bahwa seorang muslimlah yang bisa mendapatkan hal demikian, tapi mengapa ia bisa !. Ini mengapa perlu adanya petunjuk Allah. Sebuah tindakan yang salah pun menjadi benar bagi pelakunya jika dilakukan dengan keyakinan. Lama-kelamaan hal-hal yang salah akan menjadi kebiasan dan bahkan menjadi sebuah kebutuhan. Sebuah kehidupan yang sangat merugi bagi yang telah tersesat jauh, dan akan datang azab Allah dengan memberikan kedamaian dan kebahagiaan bagi orang yang  tersesat sebagai sebab akan disiksanya ia kelak. Jadi, jangan salah dalam mencari ilmu dan petunjuk Allah yang akan berproses menjadi Iman, yang akan dijadikan sebagai penentu suatu pilihan. Sebaik-baik ilmu adalah yang bermanfaat dan sebaik-baik petunjuk adalah Alqur’an. 
“…Alqur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil)…” ( QS. Al baqarah : 185).
Berimanlah supaya bisa memilih


Hadinata Siddiq