Contoh Lain Pemikiran Liberal

Penulis mendapat kiriman buku dengan judul “sedikit tentang ayat mutasyabihat”, dengan harapan saya membaca dan mengoreksinya. Buku tersebut ditulis oleh seorang yang mencantumkan namanya Suharno.
Setelah saya baca, ternyata buku itu penuh dengan pemikiran yang jauh dan dasar-dasar yang benar. Hal itu dapat saya simak dari mengemukakan arti dan maksud ayat, baik menurut arti bahasa maupun penafsiran yang standard. Pemikiran ilmiah biasanya menggunakan tafsir ayat. Dia dengan menggunakan arti kata demi kata, baik dari bahasa maupun istilah, baru arti dalam susunan kata atau disebut jumlah. Kemudian persesuaian atau hubungan (munasabah) ayat itu dengan ayat-ayat sebelumnya setelah itu sebab turun ayat kalau dapat diketahui, baru arti global dan maksud yang tersurat maupun yang tersirat pada ayat tersebut. Barulah dalam rangka pengembangan pemikiran, dikenakan kontekstual maksud ayat tersebut dengan perkembangan ilmu masa kini tanpa harus memaksakan kehendak penafsir dengan keinginan pemikirannya, karena banyak orang yang telah mempunyai kecenderungan arti tertentu dicarilah alasan-alasan dengan menggunakan ta’wil.
Melakukan ta’wil dengan kecenderungan pemikirannya saja, ternyata tidaklah menjamin kebenaran pemikiran itu. Bahkan dapat orang itu tersesat berdasar pemikirannya itu, karena justru Allah membuatnya sesat karena orang itu mendewakan ilmu dan pemikirannya itu, sebagaimana firman Allah dalam al-Qur’an surat al-Jatsiyah (45): 23;
Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya[1384] dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
Barangkali gambaran kekeliruan yang ditunjukkan oleh Allah itu seperti apa yang saya lihat dalam kesimpulan pemikiran liberal dalam buku yang ditulis saudara Suharno yang dijadikan obyek bahasan ini, adanya reinkarnasi dalam Islam, sebagaimana apa yang ditulis H.E. Semedi, contoh pemikiran liberal berikutnya.
Mengenai isi dalam buku di atas antara lain dikemukakan:

Isi al-Qur’an
            Seluruh isi al-Qur’an dapat dibagi dalam dua macam golongan, yaitu golongan ayat muhkamat dan mutasyabihat (Q.S. 3:7). Ayat muhkamat memuat tuntunan tingkat syari’at yang telah berjasa besar karena selama lebih dari seribu tahun telah membimbing umat Islam sehingga hidupnya teratur, disiplin, tertib, memahami serta mengamalkan dasar-dasar rukun Iman-Islam serta Ikhsan. Ayat mutasyabihat isinya berciri remang-remang sampai yang super gelap, berisi tuntunan Allah tingkat hakekat bahkan makrifat. Umumnya menyangkut masalah roh. Dan adanya dua pembagian golongan isi ayat al-Qur’an di atas, kiranya Allah sengaja membimbing umat manusia menjadi dua periode, yaitu periode jaman terbelakang dan jaman modern. Perbedaannya antara lain atas tingkat budaya dan kemampuan intelektualnya. Karena ajaran tingkat hakekat sengaja baru diturunkan dalam abad 20 M/14 H, dimana umat manusia sudah mengeal ilmu inti, computer, laser, dan sebagainya. Sekarang ini merupakan periode peralihan, karena umat manusia umumnya belum mengetahui dan karenanya belum iman bahwa Nabi Isa a.s telah nuzul ke dunia dengan membawa tuntunan hakekat. Lurus, benar karena sesuai kenyataan. Titik berat penghayatan dan pengamalan tuntunan hakekat, kita semua sudah mafhum disebut pembaharuan. Pembaharuan itu penting dan perlu serta harus dilaksanakan agar sesuai dengan perkembangan budaya dan intelektual umat manusia. Inilah kiranya bukti dinamika Islam. Jadi Islam itu tidak mengenal mandek, apa lagi beku, yang mandek atau beku itu oknum-oknumnya. Perubahan tersebut juga penting terutama bila ditinjau dari perkembangan jiwa manusia. Dewasa ini mayoritas jiwa umat manusia kemungkinan sudah lebih dari 3 kali hidup di dunia dan jatah maximum 7 kali. Islam dalam ajaran hakekat ternyata juga mengenal re-inkarnasi, vide Q.S. 2: 28, 44: 56, 86: 8. Sehingga pembaharuan tersebut juga relevan, bila diingat dan makin dekatnya hari akhir, sehingga manusia diberi kesempatan lebih luas dan seksama agar dapat kembali ke asalnya dengan lancar dan selamat.

Masa Peralihan
            Menjelang abad ke-20 yaitu periode mulainya umat Islam maupun umat manusia umumnya menyimak tuntunan hakekat, dilain pihak masih banyaknya umat manusia yang terpaku asyik menekuni dan mengamalkan tuntunan syariat, diisi lain sudah tidak sedikitnya umat manusia yang sudah merasa tak perlu atau lupa mengamalkan tuntunan agama, maka jamaklah kiranya bila ada suara sumbang. Mereka dengan sinis menolak pendapat bahwa Nabi Isa a.s jati diri sebenarnya adalah malaikat Jibril. Apalagi mulai bersabdanya Roh Kudus malaikat Jibril, Utusan Abadi Allah.
            Isi ayat dan hadist golongan mutasyabihat menyangkut masalah roh, dan sudah masuk tuntunan tingkat hakekat bahkan makrifat. Tuntunan hakekat itu tidak akan menghapus tuntunan tingkat syariat, melainkan justru memperkokohnya, dalam arti menjadi lanjutannya. Tuntunan hakekat karenanya tidak perlu dipertentangkan dengan tuntunan tingkat syariat, karena keduanya berasal dari sumber yang sama, yaitu dari Allah SWT.
            Tuntunan hakekat juga tidak bertentangan dengan aqidah pokok yaitu syahadat tauhid. Yang berbeda itu tingkat penjabarannya lebih luas dan mendalam, sehingga menghasilkan kesimpulan yang lebih logis.

Kesimpulan
            Nabi Isa a.s telah datang kembali ke dunia, Nabi Isa a.s adalah malaikat Jibril yang mengejewantah. Maka nuzulnya pun berupa malaikat Jibril, Hakekat/Nur Muhammad, Utusan Abadi Allah, Sifat-Nya Allah, Penguasa-Nya Allah (Q.S. 81: 20-21). Turun-Nya beliau di Indonesia adalah merupakan berkat dan rahmat buat di Indonesia.
            Demikianlah “hasil pemikiran liberal yang saya temui dalam risalah tulisan Suharno dengan judul seperti saya sebutkan di muka.
            Dan kesimpulannya itu jelas bahwa hasil renungannya tidak sesuai dengan ajaran Islam yang benar. Yang benar bahwa ayat al-Qur’an itu ada yang mutasyabihat, tetapi pemaknaannya tidak boleh serampangan tanda dasar dan metode yang benar.

Contoh Lain
            Contoh pemikiran liberal atau bebas lainnya dapat saya ambilkan dari buku berjudul sebuah ijtihad”, disusun oleh HE. Semedi. Dalam buku tersebut antara lain dikemukakan bahwa penulis buku itu telah dua kali berusaha mempelajari Islam dari sumbernya yakni terjemah al-Qur’an berbahasa Indonesia, tetapi tidak dapat memahaminya secara baik. Kemudian ia mempelajari isi al-Qur’an tarjamah bahasa Inggris yang dipandang sedkit dapat memuaskannya. Dan setelah mempelajari al-Qur’an, khususnya ayat 28 surat al Baqarah dihubungkan dengan ayat 56 surat ad Dukhan, surat ali Imran ayat 27 dan lain-lain ayat mengenai hidup dan mati.
            Pada suatu hari, ketika meneliti sebuah ayat mengenai hidup dan mati, saya agak tertegun, sebab ketika itu saya merasa menemukan sesuatu yang saya anggap sebagai reinkarnasi, meskipun hal itu tidak dinyatakan dengan jelas. Kemudian dibacalah ayat itu beberapa kali, dengan lebih teliti dan lebih kritis. Ternyata ayat yang bersangkutan tetap memberikan konotasi (pengertian) yang sama. Menurut pengertian saya, kata H.E. Semedi, kata-kata yang saya abaca ketika itu jelas menunjukkan tentang ajaran reinkarnasi. Dengan terheran-heran, diambillah al-Qur’an terjemahan Indonesia, lalu dibacalah ayat yang sama, baik ayat yang terjemah berbahasa Inggris maupun yang terjemah dalam berbahasa Indonesia, ternyata memberikan pengertian yang sama, yaitu menunjukkan reinkarnasi. Tiada keraguan dalam hal itu.
            Lalu timbullah sama pikiran yang agak bersifat memberontak. Tidaklah mungkin bahwa ulama dan para fakih kitalah yang menyalah-tafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang bersangkutan? Betapapun cerdasnya mereka, dan batapapun luasnya pengetahuan mereka mengenai mengenai agama Islam, mereka hanyalah seorang manusia biasa, manusia yang tidak Maha Tahu dan tidak Sempurna. Mereka bukanlah Nabi. Nabi Muhammad s.a.w sendiri dengan jelas dan gambling menyampaikan kepada para pengikutnya wahyu-wahyu Tuhan yang berbunyi “Allah menghidupkan kamu, kemudian ia akan mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali, kemudian ia akan mematikanmu, kemudian menghidupkanmu kembali. Setelah kamu dikembalikan ke dalam tanah, Ia akan menghidupkanmu lagi, suatu penciptaan baru”, dan banyak ajaran lain lagi yang senada, yang semuanya, jika ditafsirkan secara normal, tanpa dibelok-belokkan artinya, mau tidak mau menunjukkan penciptaan atau kelahiran kembali manusia ke dunia, demikian tulisan H.E Semedi. Selanjutnya dikemukakan hubungan dengan hal-hal di atas, saya, seorang Muslim, kata Semedi telah berusaha mempelajari pelbagai buku terjemahan al-Qur’an sambil berijtihad, dan diluar dugaan, menemukan suatu ajaran mendasar yang menurut penafsiran dan penalaran saya bertentangan dengan pandangan umum umat Islam sekarang.
            Adapun penemuan yang saya maksud adalah paham reinkarnasi dalam arti bahwa setelah bangkit di alam ghaib tak lama setelah meninggal dan hidup di sana selama suatu masa waktu (hidup akhirat), manusia akan dilahirkan atau diciptakan kembali ke dunia-sebagai bayi, melalui rahim seorang ibu tanpa harus menunggu dahulu tibanya apa yang dinamakan akhir dunia, akhir zaman, atau hari akhirat.
            Reinkarnasi berarti ulangan inkarnasi dan kata inkarnasi berasal dan kata latin incarnation, dan artinya penjelmaan atau hal menjadi manusia. Kata kerjanya adalah incarnare atau incarno, terdiri dan unsure kata in (dalam) dan caro atau carnis (daging), dan berarti menjadi daging, menjelma, atau dengan terjemahan bebas, dilahirkan.
            Kata daging eperti tersebut di atas terdapat pula sehubungan dengan penciptaan atau kelahiran dalam Kitab Injil, Yohanes 3: 6, yang berbunyi:
“Apa yang kamu lahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahrikan dari Roh, adalah Roh.
            Demikian kesimpulan yang kita dapati dalam buku tulisan H.E Semedi dengan jumlah halaman 329 yang berkesimpulan adanya faham reinkarnasi dalam Islam, sebagai diungkapkan oleh Suharno. Inilah contoh lain lagi dari kebebasan orang berpikir yang tanpa metode dalam memahami al-Qur’an yang berbahasa arab itu juga tanpa memahami ulumul hadist dan qaidah syar’iyah dan serta kaedah penafsiran yang bener.


-Prof. Drs. H. Asjmuni Abdurrahman-

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel