Skip to main content

Dunia Tanpa Islam

Tak dapat disangkal, semenjak kehadirannya Islam telah memberikan kontribusi berharga bagi kebaikan kebudayaan dan peradaban umat manusia. Visi teologis yang terumuskan dalam dictum rahmatan lil ‘alamiin bahkan menarasikan daya jelajah yang amat luas. Visi itu menjelaskan cita ideal Islam sebagai agama yang melingkupi dimensi ilaahiyah (ketuhanan), insaaniyah (kemanusiaan) dan tentu saja kauniyah (alam semesta). Ketiga dimensi itu merupakan tungku yang menyangga Islam hingga kini.

            Seiring dengan perjalanan waktu, eksistensi Islam mulai dipertanyakan orang. Mengapa visi rahmatan lil ‘alamiin yang demikian indah dan penuh harapan kerap diterjemahkan lewat berbagai aktivitas umat Islam yang justru berseberangan dengan visi tersebut. Misalnya saja, berbagai tindakan terror yang puncaknya ditandai dengan serangan terhadap World Trade Center, 09/11/2001, dilakukan oleh umat Islam kabarnya. Belum lagi sederatan aktivitas di tanah air yang mengatasnamakan jihad seperti bom malam Natal, bom Bali, bom Malpolres Cirebon, konflik horizontal atas nama Islam kerap terjadi.

            Tentu saja, kasus-kasus tersebut turut serta membentuk opini dunia terhadap Islam sebagai agama yang kerap melahirkan terror. Akhirnya orang berkesimpulan apa gunanya Islam hadir dan dianut oleh sebagian warga dunia jika hanya untuk melahirkan malapetaka kemanusiaan? Tidakkah dunia ini menjadi aman dan tentram seandainya Islam angkat kaki dari permukaan bumi ini? Pertanyaan-pertanyaan ini membuat nala kita memberontak, namun harus dikemukakan pula uraian-uraian meyakinkan mengenai pentingnya Islam bagi kehidupan manusia.

            Ada sebuah buku yang sedikit lawas ditulis oleh Graham E. Fuller, A World Without Islam (New York: Little & Brown, 2010) yang menarik untuk dikaji kembali. Fuller merupakan professor sejarah di Simon Frase University (Kanada). Ia pernah menjadi orang penting di lingkarang CIA. Dengan latar belakangnya itu, Fuller tentu saja memiliki analisis yang cukup tajam dan data-data lapangan yang telah ia ketahui selama menjadi petinggi CIA. Membaca buku Fuller tentunya darah kita mendidih mengingat dari judulnya saja sudah mengisyaratkan kebencian yang memuncak terhadap Islam. Namun demikian, jika kita ikuti uraian demi uraian yang dipaparkannya maka kita akan terkejut karena Fuller menulis berbeda dari apa yang kita asumsikan.

            Fuller menjelaskan bahwa Barat berkepentingan besar untuk menguasai Timur Tengah (Sebagai Islam) dikarenakan dua hal penting, yaitu: sumur-sumur minyak yang kaya dan posisi Timur Tengah secara geopolitik sebagai gerbang penghubung Dunia Barat dan Dunia Timur. Dengan berbagai dalih demokrasi, penegakan HAM, pemberantasan terorisme, Barat dengan sekehendak hatinya menciptakan pertikaian di dunia Islam. Di atas itu semua, syahwat politik dan penguasaan sumber daya alam yang menjadi agenda paling penting.

            Dalam pembacaan Fuller, berbagai aksi terorisme yang terjadi di dunia Islam tidak tepat jika dikaitkan saja. Meskipun ada, namun aksi-aksi radikal yang lahir dari rahim umat Islam hanya sedikit. Ia mengetahui di Negara-negara Uni Eropa aktivitas terorisme terjadi 498 kali. Dari jumlah ini, sebanyak 424 kelompok separatis, sejumlah 55 oleh kaum ekstremis kiri, 18 oleh kekuatan terror lainnya, hanya dilakukan oleh kelompok Islamis. Namun karena dunia dikuasai oleh hegemoni media barat, maka dengan berbagai bentuk terror kerap disandarkan pada Islam.

            Aksi terror yang dilakukan umat Islam (Living Islam) pada prinsipnya merupakan tindakan dimunculkan sekelompok umat Islam melawan otoritarianisme Barat. Selain itu, sebagaian menunjukkan biang kerok kekisruhan politik, ekonomi dan social. Karenanya menjadi sebuah kewajiban riligius, Islam untuk mengusir barat. Alhasil, berbagai tindakan radikal yang dianggap dapat menjaga kesucian sekali dilakukan Respon yang dikemukakan sejumlah endikiawan Muslim Tanah Air. Seperti pendapat yang Buya Syafi’I Maarif, ia melihat bahwa tulisan Fuller adalah sebuah imajinasi sejarah, dikemas dari waktu panjang dalam percaturan dunia sejak masa kuno sampai sekarang. Dalam pembaaannya, Fuller tidak untuk mengusir Islam, bahkan malah terkesan ada semacam pembelaan. Pihak lain pun dalam berbagai katanya, bahkan berbuat lebih brutal…

            Buya Syafi’I Maarif menambahkan, aksi-aksi terorisme belakangan ini sebenarnya didalangi oleh Amerika meminjam terminology Johan Galtung, bahwa state sponsored terrorism (terorisme yang dilakukan Amerika) bengis daripada terorisme perorangan dan kelompok. Contoh konkrit terhadap hal ini adalah Amerika dan sekutu-sekutunya. Belum lagi anak emas Amerika yaitu Israel yang sudah meneror rakyat Palestina setengah abad (Gatra, 13 Maret 2008)

            Sementara Azyumardi Azra memaparkan bahwa konflik yang terjadi di dunia, terutama di Negara-negara factor penyebabnya bukan karena Islam melainkan karena alas an-alasan lain semisal ekonomi dan tidak hanya Islam. Timur Tengah tetap berpotensi bergejolak. Sejarah telah membuktikan bahwa telah terjadi antara Kristiani Ortodok Timur (Bizantium) dan Kristiani Katolik Roma. Hubungan antara keduanya menjadi kritik bagi Barat, juga dapat mencairkan suasana antara Timur dan Barat yang selama ini berlainan (Desember 2010)

            Analisis yang tak kalah menarik dikemukakan Komaruddin Hidayat. Dalam tulisannya terhadap karya Fuller itu ia menjelaskan bahwa konflik yang terjadi antara Suriah, Irak, Iran, Arab hanyalah kelanjutan persaingan etnis dan regional jauh sebelum Islam datang. Begitu pun persaingan Roma, Konstantinopel, dan Ortodoks Timur yang berpusat di Suriah dan Palestina sudah berlangsung. Kemuliaan agama selalu saja tercoreng dan terkooptasi oleh Negara yang secara laten berambisi kekuasaan politik dan ekonominya (www.uinjk.ac.id).

Di sini menjadi jelas, bahwa kekisruhan politik dan social bahkan yang bernuansa agama di Negara-negara Timur Tengah memang sudah berlangsung demikian lama. Tak ada sama sekali menjadikan Islam sebagai pihak tertuduh. Hal terpenting yang perlu dipahami adalah bahwa dunia tanpa Islam mungkin saja tidak secerah sekrang. Pengakuan yang jujur dan tulus eperti ini pernah dikemukakan sarjana kenamaan Barat Bernard Lewis sebagaimana dikutip oleh Jean Staune (2006: 97) Lewis menjelaskan bahwa selama berabad-abad dunia Islam berda di garis terdepan dalam membangun peradaban manusia dan telah meraih berbagai prestasi. Islam membawa kita ke dunia internasional yang demikian luas dan saling membutuhkan. Inilah prestasi sejarah yang cukup besar. Jadi, seandainya ada pihak yang menyatakan bahwa dunia menjadi aman tanda kehadiran Islam maka pernyataan itu sesungguhnya bersifat utopis, rabun sejarah, dan tak dapat dipertanggungjawabkan. Sampai kapan pun dunia membutuhkan Islam



Wassalam…
Oleh: Muhammad Qarib
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar