Globalisasi Di Indonesia - John Pilger

Dalam beberapa bulan terakhir (2001), lebih dari sejuta orang, kebanyakan orang muda, melakukan protes terhadap Tatanan Ekonomi Baru yang bernama GLOBALISASI. Ini merepresentasikan salah satu gerakan popular sejak dekade 1960an. Pastinya belum pernah terjadi sebelumnya, umat manusia menikmati kapasitas yang luar biasa, untuk membangun kekayaan dan mengurangi kemiskinan. Tapi belum pernah terjadi juga, jurang pemisah antara si kaya dan si miskin begitu lebar dan ketimpangan sosial begitu menyebar.

Fakta dari Globalisasi menunjukkan, sekelompok kecil orang berkuasa lebih kaya dari mayoritas penduduknya.

Hanya 200 perusahaan raksasa mendominasi ¼ aktivitas ekonomi dunia. Apakah ini pemukiman global yang merupakan masa depan kita? Atau cuma kisah usang, yang dulu dilakukan berdasarkan “Hak Ilahiah Para Raja” dan sekarang jadi “Hak Ilahiah Perusahaan Multinasional”? Dan dilakukan berdasarkan hak institusi keuangan serta pemerintahan yang mendukung mereka?

Berikut dampak Globalisasi di Indonesia

Indonesia adalah tempat dimana Penjajahan Gaya Lama bertemu Penjajahan Gaya baru. Inilah penjajahan gaya baru:
-          GOSPEL : Globalisasi, Pasar Bebas, Bank Sentral, dll
-          GOLD : Mengeruk Moneter, Keuangan, Konsumen
-          GLORY : Perusahaan Multinasional
Indonesia adalah sebuah Negara yang seharusnya tidak miskin. Indonesia memiliki hampir segalanya. Gunung tembaga dan emas, minyak bumi, kayu, dan kecakapan kerja pada rakyatnya.

Dijajah oleh Belanda di abad ke 16, Indonesia dijarah oleh Barat selama ratusan tahun. Sebuah hutang yang tak pernah dibayar kembali oleh Barat. Berikut tanggapan Pramoedaya Ananta Toer “ratusan tahun lamanya, Indonesia itu dihisap oleh Negara-negara utara. Bukan hanya Indonesia, semua Negara-negara kulit berwarna. Sehingga barat menjadi kuat, menjadi makmur, menguasai keuangan dan perdagangan sampai sekarang. Dan sekarang didikte oleh IMF, oleh bank dunia, Negeri yang yang begitu kaya diubah menjadi Negara Pengemis (Indonesia). Karena tidak adanya karakter pada diri”.

Di tahun 1967, Time Life Corp, mensponsori sebuah konperensi di Swiss, yang merencanakan Pengambilalihan Indonesia oleh Korporasi. Konperensi dihadiri oleh para pengusaha yang paling berkuasa di dunia, seperti David Rockefeller. Juga dihadiri para raksasa kapitalisme Barat: Perusahaan Migas, Bank, General Motors, British Leyland, ICI, British American Tobacco, Lehman Brothers, American Express, Siemens.

Di seberang meja adalah para pemimpin Indonesia yang disetujui oleh Jenderal Soeharto. Bagi bisnis barat, itu adalah awal panen emas yang kemudian dikenal dengan istilah, GLOBALISASI.

Oleh Prof. Jeffrey Winters dari Northwestern University, USA. Ia mengatakan : Saya sama sekali tidak pernah mendengar situasi seperti ini, di negeri manapun, dimana para KAPITALIS GLOBAL, pada intinya mengatur pertemuan dengan Negara, dan MENDIKTE kondisi-kondisi yang mereka inginkan ketika mereka masuk ke Negara itu. Konperensi berlangsung selama 3 hari. Hari pertama, delegasi Indonesia berbicara, intiya menjelaskan kondisi mereka. Hari kedua, para elite membagi pertemuan dalam 5 Sektor yang berbeda. Pertemuan Sektoral Pertambangan satu ruangan, Jasa makanan dan Industri Ringan di ruangan lain, Perbankan dan Keuangan di ruangan lainnya, Chase Manhattan (milik Rockefeller) hadir disitu, dan secara serentak, ELITE GLOBAL MENDIKTEKAN KEBIJAKAN, yang akan diterima oleh INVESTOR GLOBAL ini, di setiap sector usaha. Dimana tiap orang di meja seberang menyatakan ‘ini yang kita mau lihat, ini… ini… ini.” Dan pada dasarnya Elite Global mendesain infrastruktur regulasi untuk para Investor di Indonesia.

Hal ini sama seperti yang dikatakan Presiden RI pertama, NEKOLIM, Neo Kolonialisme dan Kapitalisme. Itulah makna Globalisasi sebenarnya. Tentu beda dengan yang diajarkan di sekolah-sekolah. Kalau maau produk pro dan kontra tentu ada saja alasannya, bukan?.

Mari kita lihat data, pada tahun 1967 (sebelum “GLOBALISASI” Indonesia) hutang Luar Negeri Indonesia 2 miliar dollar, itupun untuk membebaskan Irian Barat tahun 1963. Kita membeli peralatan perang, dengan hutang 2 miliar dollar tersebut hutan-hutan dan seumber daya alam masih utuh. TNI Indonesia termasuk yang terkuat di Asia. Sejak tahun 1967 itu (setelah “GLOBALISASI” Indonesia) sampai 1998 hutang membengkak menjadi 60 miliar dollar atau naik 3000% . Jika dibagi 30 tahun, berarti rata-rata per tahun naik sebesar 100%. Hasilnya Sumber Daya Alam habis dikeruk. Lihatlah jumlah hutang luar negeri Indonesia pada tahun 2016 menurut BI dan Indonesia Debt Lock.

Ok. Kita gunakan data dari BI tahun 2016 (pasca Globalisasi 1967 + IMF 1998) hutang LN kita 314 miliar dollar (dari 2 miliar dollar 1967). Ini berarti sampai tahun 2016 kenaikan hutangnya 15.700% dalam kurun waktu 49 tahun. Jika dirata-ratakan, ada kenaikan 320% per tahun. Ini berakibat hutan-hutan dan sumber daya alam habis dikeruk. Mana yang lebih baik untuk KITA…!

Semoga ini menjadi wacana kedepan bagi kita, sebagai Negara yang terkena dampak Globalisasi untuk mengubah paradigma-paradigma barat yang masuk kedalam pikiran kita, baik itu dari perlajaran sekolah-sekolah, media masa, koran, majalah, atau sumber lainnya.

Terima kasih – hasil teks boss darling

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel