Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Imunisasi Campak, Campak Jerman, M&R: Lindungi Anak dalam Kandungan Bahayanya Pada Ibu Hamil

Ow, sekarang lagi gencar kampanyekan vaksin M&R. Apakah itu? Measles dan Rubella. Measles adalah campak. Rubella adalah campak jerman. Keduanya memang mirip-mirip tapi berbeda.

Keduanya memang mirip dalam gejala-gejala penyakitnya. Seperti demam, ruam-ruam merah disertai bengkak, mata merah meradang, hidung meler, terkadang disertai nyeri sendi. Pada campak, penderitanya terlihat tebih ‘berat’ diserang virus. Masa inkubasinya mencapai 14 hari. Jika terkena pada anak-anak, terpaksa istirahat di Rumah Sakit. Seperti yang dialami oleh anak-anak selebritis muda, Oki Setiana Dewi.

Bagi penderitanya, Rubela ini atau campak jerman lebih ringan dan cepat sembuhnya. Penderita campak jerman hanya mengalami deman selama tiga hari saja. Karena itu sering disebutjuga campak tiga hari. Lalu kenapa justru Rubela ini disebut berbahaya? Sampai harus diberi vaksin gratis oleh pemerintah?

Ternyata Rubela ini berbahaya jika tertular pada wanita yang sedang hamil. Virus rubela kan menyerang bayi yang ada dalam kandungannya. Akibatnya, bayi akan mengalami kelainan bawaan pada mata (buta), kelainan pendengaran, kelainan jantung / jantung bocor, dan kerusakan otak. Penderitaan bayi ini bisa terbawa sepanjang hidupnya.

Efek panjang itulah yang ingin dicegah. Berdasarkan data kesehatan, kelainan bawaan akibat kehamilan yang terinfeksi rubela ini terus meningkat. Apalagi cara penularan penyakit ini sangat mudah dan cepat. Yaitu dari perantara udara. Misalnya si penderita bersin atau batuk, dan semburannya terhirup melalui hidung atau mulut.

Untuk melindungi anak-anak ini, pemerintah meluncurkan vaksin M&R, mencegah penyakit campak dan campak jerman. Sasarannya adalah anak usia 9 bulan sampai dengan 15 tahun. Untuk anak balita, imunisasi dilakukan di Posyandu atau Puskesmas. Sedangkan usia 7 tahun ke atas dilakukan di sekolah-sekolah.

Tentu ada yang pro dan ada juga yang kontra. Beberapa sekolah di DI Yogyakarta menolak imunisasi M&R. Dari berita di Detik.com (28/7), mereka beranggapan bahwa vaksin ini haram. Sedangkan dalam Presiden Joko Widodo dalam pernyataannya menyebutkan bahwa imunisasi ini hukumnya mubah. Karena lebih banyak manfaatnya daripada mudarat. Bagaimana MUI? Masih dalam kabar detik.com, MUI sendiri mengaku belum mendapat ajuan untuk sertifikasi kehalalan vaksin ini.

Penolakan masyarakat ini disayangkan oleh masyarakat yang mendukung imunisasi M&R. Salah satu diantaranya Grace Melia. Melalui blog pribadinya www.gracemelia.com, ia bercerita tentang kelainan bawaan yang diderita putri sulungnya. Putrinya terinfeksi Rubela saat dalam kandungan.

Ketidaktahuan terhadap efek dari penyakit campak jerman ini juga yang jadi dasar penolakan. Lha wong efek pada penderitanya juga ringan. Penyakit campak jerman ini memang tidak berbahaya bagi penderita. Tapi virus ini sangat berbahaya bagi orang lain (baca:anak dalam kandungan). Bagaikan butterfly effect, sekecil-kecilnya penyakit bagi kita bisa berakibat penderitaan selamanya bagi orang lain. Seperti bahaya laten gitu.

Selain menceritakan kisah tentang anaknya, Ia tak bosan mendukung imunisasi MMR (Mump, Measles & Rubela). Penolakan vaksin MMR ini juga lebih dahsyat karena ada isu terkait autisme. Belum lagi harga vaksin yang mahal. Pada masa itu pemerintah belum menyubsidi vaksin MMR secara penuh. Namun Gesi –akrab disapa- terus mengabarkan pentingnya imunisasi itu. 

Jika kini, pemerintah malah menggratiskan vaksin M&R (hanya Measles dan Rubela – Mump untuk penyakit gondongan dihilangkan), tentu Gesi sangat gembira. Ia bahkan terlibat dalam menggiatkan kampanye imunisasi M&R. Dalam blognya, ia mengajak teman-teman dan para pembaca blognya untuk mendukung imunisasi ini. Meskipun bukan sasaran imunisasi, bisa dengan memasang bingkai foto di profil picture di sosial media netizen.
Ia berharap masyarakat bisa memahami berbahayanya penyakit ini bagi orang lain. Dan semakin banyak masyarakat yang bisa menerima imunisasi M&R.