Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Isi Khutbah : Negri Indonesia Mencapai Syarat Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbhun Ghaffur

Negri ini, dahulunya pernah mencapai peradaban manusia yang tinggi. Memiliki nilai luhur yang agung. Para leluhur kita juga memiliki Kerendahan Hati dan jiwa yang unik. Negri ini, adalah negri yang dulunya ditempati oleh orang-orang yang berjiwa spiritualitas yang tinggi, bukan orang-orang yang materialistic, seperti yang ditanamkan orang-orang barat pada kita saat ini.

Allah Berfirman dalam surat al’araf ayat 58:

“Dan negri yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Allah; dan negri yang tidak subur, tanaman-tanamannya tumbuh dengan merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.”

Dalam ayat tersebut Allah SWT memperbandingkan antara negri yang baik dengan negri yang tidak baik, negri yang subur dengan negri yang tidak subur. Alhamdulillah… Indonesia merupakan negri yang memperoleh rahmat dari Allah SWT dengan kesuburan negrinya. Kita bisa bandingkan negri kita dengan negri-negri yang lain. Sumber alam kita melimpah, hutan dan tanaman yang sangat mudah tumbuh, oksigen kita juga melimpah, dipenuhi air yang banyak, suasana alam yang tidak pernah ekstrim. Kalopun negri ini musim panas, tetap ada juga hujannya… sedangkan di negri lain, jika musim panas, maka panasnya terus-terusan terjadi. Disinilah kita bertempat tinggal, negri yang baik, yang harus kita syukuri.

Nenek moyang kita dahulu, sudah menunjukkan bagaimana kehidupan peradaban manusia yang tinggi . Mereka mewariskan negri ini, karena keimanan dan ketaqwaan mereka. Kehidupan yang penuh dengan keimanan tersebut masih bisa kita rasakan dari warisan sifat-sifat yang kita miliki dan negri dengan sumber daya alam yang melimpah. Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 98:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. 

Hal ini menunjukkan bahwa, pernah ada dijaman nenek moyang kita, yang masa itu hidup penuh dengan keimanan dan ketaqwaan, sehingga Allah SWT berkenan melimpahkan negri ini dengan berkahnya, baik dari langit maupun dari bumi.

Bagaimana dengan peradaban kita diabad melenium ini?. Jelas kita mengalami kemunduran peradaban jauh. Sudah akan 72 tahun negri ini merdeka, namun sesungguhnya dari 72 tahun itulah negri ini masih terkungkung dan terpenjarakan oleh sistem-sistem yang zholim.
Inikah kemerdekaan yang sudah kita raih?....
-          Negri yang meniru barat, yang tidak PD dengan identitas dirinya sendiri.
-          Yang menjadi manusia tiruan, dengan system barat yang dilakoni. Semua system yang ada… baik didunia pendidikan, politik, gaya kehidupan, pemerintahan, ditiru dari dunia barat. Sehingga banyak muncul orang yang hidupnya di negri ini, tapi kelakuannya mirip orang barat.
Inikah kemerdekaan yang sudah kita raih?....
-          Aspek kehidupan kita, banyak yang kering, dari aspek spiritual/kejiwaan, yang ada hanya aspek kuantitatif dengan nilai material yang menggantikan agama. Bila ingin menjadi pejabat harus ada uang, bukan diambil dari akhlaknya yang baik. Bila ada orang yang butuh bantuan, terus berpikir apa untungnya buat saya. Bahkan mungkin, klo aktivitas keislaman kita dinilai dengan uang, sholat dapat uang, ke masjid dapat uang, berzikir dapat uang, mungkin akan rame yang melakukan aktivitas keIslaman, nah inilah manusia yang materialistic yang sudah ditanamkan oleh barat, yang manjauhkan nilai manusia itu sendiri sebagai mahkluk jiwa.
Inikah kemerdekaan yang sudah kita raih?....
-          Negri ini, negri yang makmur. Seharusnya bukan kita yang meniru barat, tapi baratlah yang meniru kita. Dan sekarang didikte oleh IMF, oleh bank dunia, Negri yang yang begitu kaya diubah menjadi Negri Pengemis. Negri yang memiliki banyak utang, yang mungkin tak pernah akan terlunasi, yang selanjutnya akan diwariskan kepada generasi kita selanjutnya. Tercatat tahun 2016 saja, menurut data bank Indoensia, utang luar negri kita sebesar 314 miliar dollar, jika kita rata-ratakan ada sebesar 320% mengalami kenaikan setiap tahun. Inilah salah satu system yang masih menjajah kita. Jajahan saat ini, merupakan jajahan gaya baru. Jajahan itu berupa Globalisasi, pasar bebas, bank sentral, keuangan, dan perusahaan multinasional. Sehingga negri kita habis dikeruk, hutan, gunung emas, minyak, semua itu untuk mendanai dan memperkuat negara orang lain.

Kita harus menyadari bahwa negri ini, negri dengan jumlah umat islam terbanyak di dunia. Peranan masyarakat Islam, harus muncul disetiap lini kehidupan. Bagaimana yang termaktub dalam AlQur’an yaitu “ Baldatun Thoyyibatun wa rabbhun ghaffur, yang secara bahasa berarti: ”Negeri yang baik dengan rabb Yang maha pengampun”. Makna “Negeri yang baik (Baldatun Thoyyibatun)” bisa mencakup seluruh kebaikan alamnya, dan “Rabb yang maha pengampun (Rabbun Ghafur)” bisa mencakup seluruh kebaikan perilaku penduduknya sehingga mendatangkan ampunan dari Allah SwT.

Bagaimana cara mewujudkan negeri yang Baldatun Thoyyibatun warabbun ghaffur? Untuk mewujudkan negeri yang baik yang penuh dengan ampunan Allah, yang mudah-mudahan negri ini terlepas dari jeratan dan paradigma barat yang masuk kedalam generasi kita.
1. Pertama, Ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT.
2. Kedua, menciptakan masyarakat yang berakhlak yang mulia. Kita harus tolong-menolong dalam menjalankan amar ma’ruf yang diperintahkan Allah SWT.
3. Ketiga, Sifat amanah yang menyebar dan membumi. setiap penduduk negeri apabila benar­­­­­-benar menjalankan kewajiban dan amanah yang dipercayakan kepadanya dengan baik, tidak ada korupsi, suap-menyuap dan pengkhianatan lainnya. Niscaya terwujudlah masyarakat yang baik.
Dengan memegang kuat amanah berarti menguatkan tatanan masyarakat, sebaliknya menghianati amanat sama saja dengan menghancurkan peradaban bangsa.
4. Keempat, Adanya keseimbangan yang indah antara urusan dunia dan akherat. Alkisah seorang sahabat berniat beribadah di siang dan malam hari, hingga ia berniat menjauhi dunia dan istrinya,seluruh waktu dan jiwanya hanya dihabiskan untuk bertaqarrub kepada Allah, Tetapi rasul malah melarangnya sambil bersabda: ”Aku adalah manusia terbaik, aku makan dan minum tetapi aku juga berpuasa, aku istirahat dan tidur tetapi aku juga mendekati istri, aku bangun menjalankan shalat tetapi aku juga bekerja mencari kehidupan dunia.
Itulah keseimbangan hidup, memperhatikan kemashlahatan akhirat, tetapi tidak pula memperhatikan kebaikan dunia, bangsa yang baik hanya akan terwujud jika ada kebaikan jasmani dan ruhani.
5. Kelima, Bertaubat meraih ampunan Allah. Setiap manusia tentu pernah berbuat dosa, tetapi siapa yang bertaubat memohon ampun kepada Allah SwT, pasti Allah akan mengampuni dosa-dosanya. Ketika turun Qs Ali Imran: 135, Rasulullah bersabda kepada Para sahabat, ketahuilah saat ini syetan sedunia sedang menangis, karena syetan telah menggoda anak cucu Adam tetapi Allah menurunkan ayat yang siapa bertaubat , Allah akan menghapus dosa-dosa mereka.
Ibn mas’ud berkata, bagi orang yang berdosa ayat ini lebih baik dari syurga dan isinya, kemudian Ia membaca Qs Ali Imran: 135:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Qs Ali Imran: 135).

Itulah di antara pilar terwujudnya negeri yang baik dengan Rabb yang Maha pengampun, mudah-mudahan Indonesia menjadi negeri yang diberkahi Allah dan menjadi Negeri “baldatun Thoyyibatun warabbun Ghaffur”.