Skip to main content

Kabar SNSD, Antara Orangtua dan Remaja

Beberapa hari timeline medsos ramai dengan kicauan rencana SNSD, Girlband dari Korea Selatan yang akan datang ke Indonesia. K-Popers, apalagi Sone – fansnya SNSD yang paling senang dengan kabar itu. Masalahnya. Itu dia! Ada yang kontra juga. Cuitan paling nyaring dari Psikolog, Elly Risman. Ibu ini idolanya orangtua di grup-grup parenting.

Ia mencuit, "Apa kita kehabisan stok mahakarya dr seniman super kreatif kita,sampai bapak undang simbol seks & pelacuran di hari proklamasi?#yangbenaraja," tulis Elly. "Wahai bpk Kepala Badan Ekonomi Kreatif Indonesia! ada apa dibalik rencana bapak undang band simbol seks dihari proklamasi? #yangbenaraja Pak!," tambahnya.

Kabar yang ia baca dari sebuah situs informasi, bahwa grup ini akan diundang untuk mengisi acara kenegaraan, hari Proklamasi Kemerdekaan RI. Bahwa kemudian, informasinya diklarifikasi oleh Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf melalui akun faceboooknya. Lengkapnya:

“Kami membantu menyelenggarakan acara 'Countdown to Asian Games 2018' yaitu Hitung Mundur 1 tahun menuju penyelenggaraan Asian Games 2018, pada 18 Agustus 2017, sebagai upaya pemanasan menyukseskan perhelatan besar Asian Games di Jakarta dan Palembang 2018.

Untuk itu, karena Asian Games seperti juga Olimpiade adalah acara besar, yang memerlukan promosi di negara-negara Asia dan dunia, maka selain kami akan menampilkan artis-artis musisi Indonesia kami berencana akan mendatangkan beberapa artis Asia yang sudah dikenal di dunia. 

Hal ini untuk membantu menaikkan 'awareness' publik mancanegara terhadap Asian Games 2018 Jakarta-Palembang yang berskala Asia/Dunia tersebut. 

Tentang rencana mengundang artis dari Korea ini perlu kami jelaskan bahwa yang sedang kami negosiasikan kedatangannya BUKAN SNSD/Girls Generation secara grup melainkan beberapa personelnya saja. Dan mereka BUKAN pula diundang untuk menghadiri atau mengisi Acara HUT Kemerdekaan RI di Istana Negara. 

Ini adalah dua acara yang BERBEDA yang kebetulan jatuh pada bulan Agustus 2017. Tentang kepastian kehadiran para Artis pendukung internasional maupun nasional ini, seperti sudah saya sampaikan dari awal, akan dikonfirmasikan lagi dalam beberapa minggu mendatang. 

Terakhir, walaupun kami TIDAK mengundang artis dari negara lain untuk mengisi acara di peringatan kemerdekaan RI, namun secara pribadi saya akan sangat bangga apabila suatu saat ada artis/musisi Indonesia yang diundang untuk menghadiri dan manggung di sebuah acara peringatan hari kemerdekaan negara-negara sahabat.

Dan pada saat yang sama akan sangat sakit hati apabila Artis kita tersebut dicaci-maki oleh publik di negara pengundang tersebut.

Demikianlah klarifikasi ini telah saya sampaikan agar tidak ada kesalahpahaman. Terima kasih atas perhatiannya.”

Selanjutnya, Elly Risman, mencuit peryataan maaf karena lalai. Ia tidak meriset kabar yang diterimanya dan langsung bereaksi keras. Sayangnya, efek gaduh ini terdengar sampai ke manajemen SNSD di Korea. Mereka tidak terima jika SNSD dituding negatif. Girls Generation yang sedang digandrungi remaja sedunia ini bahkan menyumbang pundi-pundi kekayaan dari ekonomi kreatif di Korea. Hmmm...
Elly Risman dalam cuitan lanjutan, bahwa reaksinya itu karena ada kerisauan dari para orangtua terhadap kabar berita ini. Nah, nah, nah. Di sini memang terbaca bahwa generasi orangtua dan remaja jelas terbentang jurang. Seringkali pemikiran orangtua bertentangan dengan maksud para remaja. Gak heran sih. Remaja adalah masa hidup manusia mencari jati diri. Mereka sedang menikmati hidup tanpa beban yang berat. Banyaknya berada dalam kehidupan budaya pop. Sementara ini popular culture yang sedang menyelimuti dunia adalah Korean Pop Culture. Bahkan Korea Selatan menjadikannya salah satu penggerak roda ekonomi negara. Gelombang yang besar menciptakan hasil yang besar juga.

Pelajaran yang bisa dipetik dari keributan antara generasi orangtua dan remaja ini adalah hati-hati mencuit. Dan sebaiknya para orangtua menahan diri sebelum bereaksi. Kenali kesenangan remaja-remaja ini dan dampingi mereka. Seperti AQ (Adversity Quotient) yang pernah disampaikan Bu Elly Risman, kecerdasan  menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami. Dengan bekal AQ, remaja-remaja ini akan bisa bertahan hidup di masanya mendatang. Entah nanti sepuluh tahun ke depan, budaya pop seperti apalagi yang akan menerjang. 
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar