Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konsisten Menuju Jalan Ke-Kaffah-an

Ketika manusia dilahirkan kedunia, secara otomatis akan membawa pandangan hidup orang tuanya. Ketika kedua orang tuanya islam, maka dia menjadi anak islam. Ketika kedua orang tuanya Kristen, dia juga akan menjadi anak Kristen, jika kedua orang tuanya bersuku bangsa batak, maka secara otomatis menjadi anak bersuku bangsa batak. Inilah sebuah kekonsistenan dari sebuah pandangan.
Suku bangsa batak karena konsisten terhadap perlakuan yang mencirikan suku tersebut disebut dengan suku bangsa batak. Begitu juga agama, ataupun kelompok-kelompok yang lainnya. Kekonsistenan ini yang akan menjadi sebuah cerminan terhadap keberadaan manusia di bumi.
Allah SWT mengijinkan adanya berbagai perbedaan yang di anut oleh manusia, kecuali Agama. Dalam Alqur’an surat Al-Hujurat : 13,
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian adalah orang yang paling bertaqwa di sisi Allah.“

Dalam surat yang indah ini disampaikan kepada manusia bahwa Allah SWT sengaja menciptakan berbagai suku bangsa, bahasa, budaya, warna kulit, supaya dapat saling mengenal dan belajar antara satu dengan yang lainnya. Namun, diantara perbedaan yang dimiliki oleh setiap manusia hanya orang yang paling bertaqwalah disisi Allah SWT yang paling mulia. Bertaqwa kepada Allah SWT hanya bisa dilakukan oleh ummat islam, tidak bisa dilakukan oleh ummat-ummat selain islam. Tidak heran jika ummat islam diberi gelar ummat terbaik untuk manusia, namun tidak ada gelar yang diberikan Allah SWT kepada ummat islam tanpa ada sebuah tanggung jawab.

Dalam  QS. Ali 'Imran : 110 Allah SWT berfirman :
“Kamu adalah ummat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.”

Untuk itu diperlukan Dakwah yang konsisten terhadap kegiatan yang  makruf dan pencegahan terhadap yang munkar. Konsisten dapat dilakukan pada sebuah kebenaran dan kesalahan dipandang menurut ajaran islam. Sebuah budaya yang salah menurut islam apabila dilakukan secara konsisten maka hasilnya adalah benar menurut yang melakukannya. Begitu juga sebuah budaya yang benar menurut islam jika dilakukan secara konsisten maka hasilnya benar dan ini merupakan sebuah kekonsistenan yang nantinya akan menjadi sebuah cerminan terhadap tindakan yang dilakukan. Konsisten terhadap jalan kebenaran yaitu islam, sebuah konsisten yang harus dipertahankan dan konsisten terhadap jalan kesalahan harus diganti dengan konsisten terhadap jalan kebenaran.
Ada tiga jenis daya yang dimiliki oleh seseorang menurut murthada muthahari, yaitu :
1.      Memiliki Atraksi (daya tarik)
2.      Memiliki Repulsi (daya tolak)
3.      Tidak memiliki Atraksi dan Repulsi (tidak konsisten)

Dalam kehidupan sehari-hari Allah SWT memperlihatkan kepada kita seseorang yang berdiri dengan teguh memegang kebenaran. Kemudian, konsisten dalam memegang kebenaran itu, sehingga tindakannya itu menarik orang-orang yang memiliki suatu kesamaan atau suatu pandangan nilai sama terhadapnya. Inilah yang dinamakan Atraksi. Sedangkan tindakannya tentu akan menolak atau tertolak dari kalangan orang-orang yang suka berbuat kejahatan. Hal ini disebut dengan Repulsi. Sedangkan pada orang yang tidak memiliki atraksi dan repulsi, tindakannya tidak memiliki daya tarik maupun daya tolak terhadap orang lain. Tidak memiliki dampak yang buruk dan baik terhadap orang lain, karena kehidupannya tidak memiliki kekonsistenan. Dia masuk pada kepura-puraan yang terkadang berdiri pada kebenaran dan terkadang membela mati-matian terhadap kejahatan.   

Islam mengajarkan untuk konsisten dalam menjalankan segala perintah Allah SWT dan tidak melakukan apa yang dilarangnnya.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya, dan janganlah sekali-kali kalian mati melainkan dalam keadaan Islam.”
(QS. Ali Imran: 102)

Atraksi merupakan sebuah kekonsistenan terhadap kebaikan dan kebenaran yang akan menarik orang pada jalan kebaikan dan kebenaran pula. Namun, apakah seseorang yang memiliki atraksi akan bergaul ataupun bersosial dengan kelompoknya saja ?. Tentu jawabannya Tidak. Kita bisa membandingkan antara orang yang berjalan pada sebuah kebenaran dan kejahatan. Akan terlihat lebih sedikit pada jalan kebenaran dibandingkan dengan jalan kesesatan. Jika pada saat ini kita berjalan pada kebenaran, jumlah sahabat kita tentu lebih sedikit daripada kita berjalan pada kejahatan. Namun, kekonsistenan yang kita lakukan bukanlah membuat kekauan terhadap diri yang menjadi alergi terhadap orang-orang yang masih berada dalam ketidaktahuan, akan tetapi terus berdiri dalam kekonsistenan untuk menularkan, untuk menarik orang lain masuk kedalam kebenaran. Konsisten yang tetap terjaga untuk diperlihatkan kepada orang lain dengan memperbanyak hubungan terhadap semua manusia, bukanlah termasuk pada seseorang yang tidak memiliki atraksi dan repulsi.
Menurut Suramah, konsisten terbagi menjadi 2, yaitu :
1.      Konsisten dalam tindakan
2.      Konsisten dalam perubahan
Sebuah tindakan yang dilakukan terus-menerus, baik itu karena sebuah ucapan atau janji tanpa ada melewati batas dari ucapan ataupun janji yang sudah diikrarkan dinamakan konsisten dalam tindakan. Hasil dari kejahatan menuju kebaikan disebut konsisten dalam perubahan. Konsisten dalam tindakan terfokus pada proses dan konsisten dalam perubahan terfokus pada hasil. Konsisten akan membawa kita menuju pada ke-KAFFAH-an ajaran islam yang sebenarnya. Dengan adanya konsisten akan jelas perbedaan antara islam, Kristen, hindu, dan budha. Akan jelas terlihat antara kebaikan dan kebenaran.


Ilhan Akbar Siddiq menyatakan perlu adanya tindakan-tindakan yang konsisten untuk menuju ke-KAFFAH-an minimal dalam tiga hal dari QS. Ali-Imran ayat 31, yaitu sebagai berikut :
1.      Konsisten dalam Ibadah
Burhanuddin Siagian merumuskan masalah ibadah dengan mengatakan bahwa Semua Ibadah itu Haram, kecuali yang Dihalalkan. Dalam kaitan dengan kekonsistenan, maka tidak ada lagi ibadah yang dikerjakan selain dari perintah Allah SWT dan rasulnya.
“Katakanlah: Jika memang kamu mecintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintaimu dan akan diampuniNya dosa-dosa kamu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi penyanyang”. (QS. Ali – Imran : 31)

Ibadah yang dicontohkan sudah sangatlah jelas oleh rasul Muhammad SAW. Dengan melakukannya secara konsisten akan menjadi sebuah budaya dalam kehidupan, menjadikan sebuah ibadah menjadi budaya, bukan menjadikan budaya menjadi ibadah. Melakukan konsisten dalam tindakan untuk beribadah kepada Allah SWT dan melakukan konsisten dalam perubahan untuk memperbaiki keilmuan yang menyangkut ibadah, jangan sampai kekonsistenan terhadap ibadah yang dilakukan karena taqlid.
2.      Konsisten dalam Akhlak
Islam mengajarkan kasih sayang terhadap semua makhluk, baik terhadap manusia, hewan, tumbuhan, bahkan terhadap sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Ummat islam adalah ummat yang menjadi patron terhadap ummat yang lain mengenai akhlak. Rasul Muhammad SAW telah mengajarkan kepada ummat manusia untuk berakhlak yang baik. Tidak ada perbedaan akhlak terhadap golongan-golongan tertentu.
“Sesungguhnya aku diutus semata-mata untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad)

Penyempurnaan akhlak, bukan ditujukan hanya semata-mata pada ummat islam saja melainkan seluruh ummat manusia. Bagaimana mungkin akhlaknya menunjukkan keislaman jika tidak dilakukan dengan konsisten ?. Tugas ummat islam dengan konsisten untuk menampilkan budaya akhlak yang baik, sehingga akhlak ummat islamlah yang menjadi pilihan untuk diterapkan dalam kehidupan ummat manusia. Sebuah agama ataupun sebuah pandangan hidup adalah pilihan dari setiap manusia, namun sebuah akhlak bukanlah sebuah pilihan malainkan keharusan.
“Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (QS. Al-Anbiya: 107)
Rahmat bagi seluruh alam berlandaskan pada pergerakan akhlak. Akhlak yang ditampilkan akan menunjukkan ajaran ataupun pandangan hidup yang dianut.
3.      Konsisten dalam Dakwah
Manusia yang mencintai manusia yang lain, maka Allah SWT juga mencintainya. Semua manusia adalah saudara dan semua manusia berasal dari keturunan Adam dan Hawa. Yang membedakan manusia bernilai disisi Allah SWT adalah keimanannya. Dengan perbedaan keimanan yang dimiliki oleh manusia, maka Allah SWT memerintahkan ummat yang terbaik yaitu ummat islam untuk berdakwah agar ummat yang lain beriman kepada Allah SWT.
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-nahl: 125).

Ummat islam berdiri pada jalan kebenaran, namun mati pada jalan itu. Sedangkan banyak manusia dia hidup pada jalan kesesatan. Hazlan Nuari mengatakan, keimanan seseorang itu teruji pada saat tetap konsisten dalam keadaan lingkungannya dipenuhi dengan kemaksiatan, semakin besar kemaksiatan yang ada maka semakin teruji keimanan seseorang. Dan para pendakwah-pendakwah islam banyak yang menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan yang ada dengan alasan untuk menjaga keimanan. Kita bisa melihat orang-orang yang berada pada kemaksitan ataupun pada kesesatan itu adalah saudara-saudara kita.
Dalam Al Qur’an Surat Al Maidaah : 99 Allah SWT berfirman :
“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan.”


Hadinata Siddiq