Skip to main content

Konspirasi Uang Kertas Bagian I

Setiap manusia merupakan human of economic yang tidak dapat terlepas dari kegiatan ekonomi. Selama manusia itu hidup, maka selama itulah ia berekonomi. Oleh sebab itu, perekonomian yang curang menyebabkan kompleksitas dampak yang ditimbulkan mencakup banyak aspek, baik itu politik, sosial (kemanusiaan), hukum, budaya, bahkan agama. Salah satu kegiatan ekonomi yang ada dimasyarakat adalah jual beli. Dalam perkembangannya, masyarakat menggunakan alat yang disepakati oleh penguasa yang dinamakan dengan uang.

Sebuah sistem yang dijalankan oleh banyak negara terutama di Indonesia adalah penggunaan uang kertas sebagai alat transaksi yang sah. Dengan dikrit yang diberikan pemerintah maka legalitas secara hukum dalam bertransaksi, uang kertas dapat dipergunakan sebagai alat membeli keinginan dan kebutuhan kita dalam kegiatan ekonomi sehari-hari. Uang kertas dengan segala keunggulannya dalam buku-buku ekonomi yang dapat dipelajari, telah mengeleminasi alat-alat transaksi yang telah dipergunakan sebelumnya atau yang digunakan oleh nenek moyang kita.

Indonesia merupakan negara yang mayoritas penduduknya beragama islam dan memiliki kekayaan alam yang luar biasa. Namun, islam yang belum masuk dalam kegiatan ekonomi secara keseluruhan terutama dalam jual beli membuat begitu banyak kemiskinan yang muncul. Tanpa disadari, salah satu sistem yang curang dan juga digunakan sebagai alat penjajahan, eksploitasi dan kemiskinan adalah penggunaan uang kertas. Penggunaan uang kertas ini merupakan pembodohan yang telah sukses besar merampas sumber daya alam yang ada. Bayangkan saja, uang yang terbuat dari kertas tersebut mampu ditukarkan dengan tanah-tanah kita, tanaman kita, rumah kita, ternak kita, dan lain sebagainya. Kertas dapat ditukarkan dengan tanah ini merupakan sebuah ketidakadilan. Kalau begitu, tentu yang diuntungkan orang yang memiliki mesin cetak uang kertas, bukan ?. Dengan mesin tersebut dapat mencetak uang kertas sebanyak-banyaknya dengan batasan, asalkan tidak sampai terjadi inflasi !

Uang yang seharusnya dapat menjadi penentu nilai (unit of account), penyimpan nilai (store of value), dan alat tukar (medium of exchange) saat ini hanya fungsi terakhir saja yang berjalan akibat dari uang yang berbahan dari kertas. Dengan berbahan kertas tersebut mencetak uang menjadi mudah dan juga bahannya tak terbatas sehingga jumlah uang yang beredar banyak dibandingkan dengan barang/jasa yang ada. Sehingga, menyebabkan terjadinya inflasi, apabila hari ini harga beras Rp. 10.000,-/Kg, apakah 1 tahun kemudian harganya tetap Rp. 10.000,-/Kg ?. Begitu juga bila kita menabung uang kertas untuk biaya pendidikan 5 tahun mendatang maka kita tidak dapat menghitungnya dengan biaya pendidikan di tahun ini, karena biayanya tidak sama dengan 5 tahun mendatang.

Penggunaan uang kertas ini juga sukses melakukan eksploitasi. Ditambah lagi dengan bunga uang sebagai hantu didalamnya melengkapi sistem ini untuk memiskinkan masyarakat lain. Bunga uang tersebut membuat sulitnya mengetahui secara riil uang kertas yang beredar yang berdampak pada kestabilan harga dan menjadikan uang tidak reliabel lagi. Apabila kita meminjam uang Rp. 1.000,- dengan bunga sebesar 20 %, maka yang harus dikembalikan adalah Rp. 1.200,-, berarti ada uang hantu (tidak nyata) yang muncul sebesar Rp. 200,-. Uang Rp. 200,- tidak riil namun menjadi hutang yang harus dibayarkan. Bagaimana cara mendapatkan uang Rp. 200,-, sementara uang yang riil hanya Rp. 1.000,- ?. Tentu caranya dengan menggadaikan tanah, ternak, ataupun tanaman. Dengan cara demikian, Desa yang memiliki tanaman-tanaman yang subur, gunung yang menjulang tinggi, bermacam ternak dan tanaman akan dengan mudah dirampas akibat adanya hutang yang timbul dari bunga yang harus dibayarkan. Dengan sistem uang kertas beserta bunganya, kini masyarakat disibukkan dengan kerja keras untuk mendapatkan kertas dan membayar hutang. Lama-kelamaan sistem ini membuat masyarakat menjadi miskin dan sang pencetak uang kertaspun hanya mencetak uang untuk mengambil alih tanah-tanah mereka, tanaman mereka dan barang-barang berharga lainnya. Sedangkan masyarakat terus berkompetisi untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Nah, kemudian ketika sang pencetak uang telah mendapatkan harta mereka, maka akan dengan mudah untuk mengusir masyarakat yang ada di desa. Jika pun ada orang yang memiliki uang kertas yang banyak, tentu ketika ia ingin membeli kembali hartanya dari sang pencentak uang kertas, harganya pun telah naik karena menurunnya nilai uang kertas sampai uangnya tak dapat membelinya bahkan akan diupanyakan untuk berhutang lagi. Sampai pada akhirnya ia harus menjadi budak di desanya sendiri untuk melunasi hutang-hutangnya. Dalam hal ini, sang pencetak uang telah berhasil mengeksploitasi hanya bermodalkan mesin cetak tanpa perlu menggunakan peperangan.

Nenek moyang kita telah menggunakan sistem barter dalam bertransaksi. Mereka berkecukupan dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Bekerja dengan penggajian barang berupa beras, emas, perak, gandum, dan lain sebagainya. Pada setiap keluarga dengan gaji beras 2 karung/bulan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Waktu yang diperlukan untuk bekerja pun hanya 8 jam/hari, sehingga sisanya dapat diisi dengan berinteraksi dengan tetangga dan sanak-saudaranya ataupun hal-hal lain yang baik. Untuk mendapatkan harta tambahan hanya perlu menambah waktu bekerja selain dari 8 jam tersebut. Munculnya uang kertas sebagai pembayar jerih payah setelah bekerja di masyarakat, yang terjadi adalah naiknya harga kebutuhan yang terus menerus. Jika bekerja setiap hari 8 jam untuk mendapatkan Rp. 200.000,- dan dikonversikan menjadi 2 karung beras dalam mencukupi kebutuhan. Untuk tahun berikutnya ia memerlukan Rp. 400.000,- supaya memperoleh 2 karung beras dan seterusnya begitu, sebab nilai uang kertasnya terus menurun sehingga dari 8 jam bekerja memerlukan waktu lagi untuk mencukupkan kebutuhan membeli 2 karung beras tersebut, namun penambahan waktu tersebut bukan sebagai penambah hartanya melainkan sebagai pencukup kebutuhan untuk mendapatkan 2 karung beras. Gaji dengan uang kertas itu seperti mendapatkan 2 karung beras yang semakin lama semakin mengecil ukurannya. Hidup pun semakin lama hanya dipekerjaan saja untuk mendapatkan uang daripada belajar tentang kemanusiaan, bergaul dengan tetangga, sanak saudara dan hidup juga menjadi sangat materialistis, serta lebih mementingkan dirinya sendiri.

‘Ubadah Bin Shamit, Nabi Shalallahu’alaihi wasallam bersabda : “ (juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu secara tunai dari tangan ke tangan”. (Hadist riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah). Barang yang memiliki nilai ditukarkan dengan barang yang juga bernilai, transaksi seperti itu adalah transaksi yang mendekatkan pada keadilan. Berbeda dengan transaksi menggunakan uang kertas yang nilainya tak lebih hanya sebagai kertas biasa, namun dapat ditukarkan dengan sesuatu yang memiliki nilai jauh lebih berharga. Bahkan, walaupun sama-sama berbahan dari kertas, uang tersebut memiliki nilai yang berbeda didasarkan pada jumlah nominalnya. Ini pertukaran yang tidak adil karena dimanapun kita berada, tanah, tanaman, ternak, dan air merupakan suatu yang bernilai. Tapi, bagaimana dengan uang kertas ?. Tentu yang benar adalah uang kertas tetap dihargai dengan nilai yang sama dengan kertas.

Baca juga: Konspirasi Uang Kertas Bagian II

Lihatlah kekayaan sumber alam yang ada di negeri Indonesia ini. Seperti bumi dan langit ketika melihat kondisi ekonomi masyarakatnya. Diperkirakan, seharusnya menimal satu orang yang ada di negeri ini paling miskin memiliki sebuah mobil sebagai kendaraannya. Sistem uang kertas telah merampas kekayaan itu dan memiskinkan banyak orang. Kekayaan megalir hanya kepada orang-orang tertentu saja, tidak ada pemerataan kekayaan pada semua orang yang hidup di negeri ini. Kondisi dimana ketika kita lapar di lumbung padi, apabila ditanah kita sendiri menjadi pekerja, dimana ketika tidak ada yang gratis dalam hal kemanusiaan maka kondisi tersebut merupakan sebuah penjajahan.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar