Skip to main content

Konspirasi Uang Kertas Bagian II

Pertukaran uang kertas dengan beras atau uang kertas dengan komoditi lain yang dilakukan oleh kedua belah pihak yang saling setuju, hal itu menunjukkan bahwa transaksi dengan uang kertas termasuk juga ke dalam barter, walaupun jauh dari keadilan dalam bertansaksi karena kertas bisa ditukar dengan komoditi yang memiliki nilai yang jauh lebih tinggi. Namun, dikalangan masyarakat menganggap transaksi dengan uang kertas tidak termasuk kedalam barter. Pada kenyataannya tetap saja semua transaksi merupakan barter. Pada prakteknya memang pada saat sistem barter diperkenalkan tidak ada mata uang yang dapat mewakili dalam setiap pertukaran. Saat ini uang kertas menjadi mata uang yang universal di sebuah Negara yang dapat menjadi acuan nilai terhadap barang atau jasa yang ada. Pada transaksi barang yang tidak sejenis sangat sulit untuk menentukan nilai masing-masing barang tersebut, maka diperlukan mata uang yang disepakati bersama oleh pemerintah yang dapat di konversikan ke semua barang dan jasa.
Ada bebarapa kriteria yang diungkapkan oleh Iswardono untuk menggunakan uang, yaitu:
1.      Acceptability, sesuatu barang yang dapat menjadi uang adalah diterima secara umum dan diketahui secara umum.
2.      Stability of Value, mempunyai nilai yang stabil.
3.      Elasticity of Supply, mempunyai kecukupan dan elastisitas.
4.      Portability, mudah untuk dibawa.
5.      Durubility, mempunyai ketahanan dalam waktu yang lama.
6.      Divisibility, mudah dibagi dan mempunyai pecahan.
7.      Tidak mudah ditiru.

Pada kriteria yang disebutkan oleh Iswardono, uang kertas hanya mencakup pada poin 1, 4 dan 6 saja, itupun poin yang tidak memiliki fungsi yang subtantif. Jika poin 2, 3, 5, dan 7 tidak terpenuhi maka akan menjadi masalah, karena poin-poin tersebut merupakan hal yang subtantif terhadap penggunaan uang yang selanjutnya akan berdampak pada perekonomian.

Pada uang kertas bagian I telah disinggung eksploitasi, penjajahan, dan kemiskinan yang tidak lain diakibatkan adanya pemakaian uang yang berbahan dari kertas (fiat money). Uang kertas (fiat money) yang tidak lagi di back-up oleh logam mulia. Dalam keadaan seperti itu, otoritas moneter di Negara manapun mudah tergoda untuk mencetak uang tanpa batas. Ketika penciptaan uang melebihi jumlah barang dan jasa atau out put riil yang bisa diproduksi, maka fenomena inflasi terjadi. Harga-harga barang dan jasa mengalami tren naik dari waktu ke waktu. Mereka yang hidupnya memiliki sumber penghasilan yang sifatnya tetap, seperti buruh dan pegawai paling terpukul oleh dampak yang ditimbulkannya. Itu lantaran gaji yang mereka terima, nilai riilnya sudah terpotong sekian persen oleh inflasi akibat jumlah uang kertas yang beredar melebihi kapasitas barang dan jasa yang tersedia.

Uang kertas yang terus dipersilahkan beredar, ini sama saja menyetujui adanya eksploitasi, penjajahan, dan kemiskinan. Perusahaan atau personal yang memiliki jumlah uang yang setiap tahunnya betambah, namun tidak semata-mata mengindikasikan bahwa hartanya betambah. Apabila pada tahun 1970 memiliki uang Rp. 10.000.000,- dan pada tahun 2014 bertambah menjadi Rp. 100.000.000,-  dikonversikan ke kambing, maka pada tahun 1970 harga kambing Rp. 50.000,-, dengan uang Rp. 10.000.000,- memperoleh 200 ekor kambing. Sementara pada tahun 2014 harga kambing Rp. 2.000.000,- , dengan uang Rp. 100.000.000 memperoleh 50 ekor kambing saja. Artinya uang sebagai penyimpan nilai (store of value) sudah tidak berfungsi lagi.

Bertansaksi dengan uang kertas sudah mulai merepotkan. Uang kertas Rp. 500,- bisa membeli 1 bungkus roti, namun ditahun berikutnya harga roti menjadi Rp. 1000,-, sehingga harus pulang ke rumah untuk mengambil Rp. 500,- atau berhutang Rp.500,- sebab pada saat itu tidak tahu bahwa harga 1 bungkus roti telah naik. Begitu juga ketika kita ingin membeli 1 bungkus nasi dengan harga Rp. 8000,-, dengan pecahan Rp. 100,-, supaya genap Rp. 8000,- maka kita perlu membelinya dengan membawa 80 lembar uang kertas. Bahkan jika kita berkeliling membawa 1 box uang 50 juta, itu sungguh merepotkan dibandingkan dengan membawa logam mulia berupa emas 100 gram (Rp. 500.000/gram).

Uang kertas dengan nilai nominal yang tidak sama dengan nilai intrinsiknya tetap saja mendorong masyarakat untuk menabung ke bank dengan harapan bahwa uangnya aman terjaga dari pencurian dan juga bertambah dari hasil persenan bunga. Pada masyarakan cina uang kertas tidak masuk dalam hitungan harta, namun dijadikan sebagai alat untuk berspekulasi terhadap komiditi yang riil. Uang kertas bukanlah harta, melainkan tanah, emas, ternak, air, pepohonan, dan komoditi lainnya itulah harta sesungguhnya.

Sebagai jasa penyimpan uang maka dibutuhkan sebuah bank yang dapat menampung uang kertas dari masyarakat. Jumlah tabungan dari deposan dicadangkan umumnya jauh di bawah 100 %. Istilah ini dikenal dengan nama Fractional Reserve Requirement (FRR). Cadangan sebagian yang dipersyaratkan ini diperlukan untuk memenuhi kondisi normal permintaan dari para deposan menarik tabungan atau depositonya. Jika bank sentral mensyaratkan besarnya FRR 10 %, maka untuk besaran deposit Rp. 100 juta, perlu menyediakan paling tidak , cadangan sebesar Rp. 10 juta. Bayangkan saat ini bank meyimpan deposit nasabahnya sebesar Rp. 100.000,-. Melalui prosedur FRR 10 %, bank bisa menciptakan tambahan uang sebesar Rp. 900.000,- yang ia berikan dalam bentuk pinjaman atau kredit kepada nasabahnya.

Sangkaan terhadap ekonomi yang terus tumbuh. Padahal, kemampuan sektor riil untuk tumbuh ada batasannya. Sementara sektor moneter yang setiap saat bisa menggandakan uang jauh meninggalkan sektor riil. Ketidakseimbangan inilah yang akhirnya bisa meletus setiap saat. Ketika gelembung balon ekonomi yang terus dipompa itu tidak lagi kuat menahan beban, letupan besar pun terjadi. Itulah krisis ekonomi. Itulah huru-hara yang dampaknya bisa jauh meyengsarakan dari perang.

Biaya servise yang dikenakan bank untuk pinjaman  atau kredit yang diberikan kepada nasabahnya biasanya dikenal sebagai bunga. Apa yang terjadi bila bunga menghiasi ekonomi. Ada tiga konsekuensi utama dengan berlakunya bunga.  Pertama, bunga akan terus menuntut tercapainya pertumbuhan ekonomi yang terus-menerus, meskipun kondisi ekonomi aktual sudah mencapai titik jenuh atau konstan. Kedua, bunga mendorong persaingan di antara para pemain dalam sebuah ekonomi. Ketiga, bunga cenderung memposisikan kesejahteraan pada segelintir minoritas dengan memajaki kaum mayoritas.

Itulah yang sudah diperingatkan Al-Qur’an yang 14 abad lalu sudah memperingatkan mausia tentang ketidakstabilan ini.

Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. (QS. AL-Baqarah (2) : 275).

Manusia yang kerasukan jiwanya menjadi tidak stabil. Mudah terhuyung-huyung karena tidak bisa mengontrol diri. Begitu pula ketika ekonomi kapitalis yang dimotori riba sebagai dasarnya. Uncertainty menjadi bagian yang pasti. Ekonom menyebutnya disekuilibrium ekonomi. Ketika petumbuhan semu tercipta, ia tinggal menunggu waktu kapan meledak, berantakan dan menyisakan penderitaan panjang bagi manusia.

Kondisi perekonomian di Indonesia merupakan fenomena yang riil akibat uang kertas (fiat money). Dimana orang-orang yang memiliki banyak uang kertas dapat menguasi sektor-sektor riil, menyebabkan banyak penduduk harus tersingkir dan tidak berdaya. Masyarakat juga harus menanggung penderitaan terhadap pendapatannya yang terus-menerus menurun nilainya untuk bertransaksi. Sehingga wajar saja tindak kejahatan bertambah dalam masalah ekonomi untuk memenuhi kebutuhannya. Melihat sumber alam yang begitu berlimpah, mustahil rasanya jika masyarakat yang ada didalamnya miskin. Berarti, sistem ini telah membuat miskin masyarakat, merampas kekayaan, dan sebagai penjajahan baru.

Baca Juga: Konspirasi Uang Kertas Bagian III
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar