Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Konspirasi Uang Kertas Bagian III

Penggunaan uang kertas sebagai alat transaksi yang universal terhadap barang dan jasa memiliki dampak terhadap kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang rajin bekerja akan memperbanyak pundi-pundi uang kertas dirumahnya. Sejalan dengan pendapatan yang diterimanya, uang kertas harus mampu menghantarkan pada kesejahteraan yang nyata, bukan yang semu. Namun, sejauh ini uang kertas telah menunjukkan keaslian dirinya sebagai produk gagal yang memiskinkan masyarakat.

Penggunaan uang kertas itu sungguh merugikan bagi banyak pihak. Jikapun ada dampak yang baik dari uang kertas, bisakah kita sebutkan itu ? Tapi dalam kenyataannya justru dampak negatiflah yang timbul walau memerlukan waktu untuk dapat merasakannya. Mengapa kita tidak menggantinya ? Bila ada alternatif yang lebih baik sesuai Al-Qur’an dan Hadist. Tentunya akan lebih mendekatkan diri pada taqwa.


Dampak buruk yang terjadi karena penggunaan uang kertas (fiat money) dapat dilihat dari 3 hal, yaitu :

1. Bahan yang Digunakan Dalam Mencetak Uang

Memang apa pentingnya jika uang itu terbuat dari kertas, batu, emas, perak, dll. Toh... jika orang rajin bekerja tentu ia akan kaya. Permasalahannya ada orang yang bermalas-malasan saja dirumah, duduk santai, bahkan berbelanja barang-barang mewah, tapi hartanya tetap bertambah dan tetap berpenghasilan. Bukan karena harta warisan ataupun sejenisnya, melainkan karena sistem. Dan sistem itu mendorong aliran kesatu arah dengan model piramida tegak. Tidak lain sistem itu adalah uang kertas.

            A. Ketidakadilan

Dengan teknologi mesin pencetak, pohon dapat dijadikan menjadi kertas. Kemudian kertas tersebut dijadikan sebagai mata uang yang mewakili nilai terhadap barang dan jasa. Dengan dikrit yang diberikan pemerintah, kertas tersebut tidak dinilai dari bahannya, tapi nominal yang tertera pada kertas tersebut. Apakah ini bukan penipuan ? Jika kita menghitungnya, kita akan merasa dibodohi dengan penggunaan uang kertas ini.

Bila ada 2 orang yang melakukan transaksi. Seorang membawa 1 karung beras dan seorang lagi membawa uang kertas dengan nominal Rp. 200.000. Pertukaran itupun terjadi, maka orang yang mendapat uang kertas akan sangat rugi. Bila ia datang di suatu daerah dengan mata uang yang berbeda dengan rupiah. Ia pun tidak bisa membeli apa-apa. Sementara, jikapun uangnya dapat ditukar, maka ia tak bisa membeli 1 karung beras di daerah itu. Bagaimana dengan orang yang mendapatkan beras ? Ia akan makmur dalam memenuhi kebutuhan makannya. Jual beli seperti ini menimbulkan ketidakadilan bagi masyarakat penerima uang kertas.

‘Ubadah Bin Shamit, Nabi Shalallahu’alaihi wasallam bersabda : “ (juallah) emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma, dan garam dengan garam. Jika jenisnya berbeda, juallah sekehendakmu secara tunai dari tangan ke tangan”. (Hadist riwayat Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I dan Ibnu Majah).

B. Eksploitasi

Jejaring sosial seperti facebook yang banyak dipakai oleh semua orang yang ada di berbagai negara. Memberikan keuntungan bagi pembuatnya. Begitu juga dengan uang kertas telah sukses mengkayakan pembuat mesin cetak uang kertas. Tapi lebih parahnya adalah ia pun merampas harta dari masyarakat.
Tidak ada peraturan baku mengenai batasan berapa banyak uang yang harus dicetak. Didukung oleh bahan yang mudah ditemukan dan tak terbatas memberikan peluang untuk melakukan aksi eksploitasi.

Semua daerah yang memakai uang kertas akan mudah untuk dirampas sumber daya alamnya. Si pembuat uang kertas, bila datang di daerah yang menggunakan rupiah, ia akan cetak rupiah untuk membeli sumber daya alamnya, jika ia datang di daerah yang menggunakan ringgit, ia akan cetak uang ringgit untuk merampas sumber alamnya, seterusnya begitu di daerah-daerah yang lainnya. Mereka tahu bahwa uang kertas bukanlah harta, tapi bagaimana dengan masyarakat ? Dalam hal ini masyarakat menjadi penderita bagi pelaksananya yaitu pemerintah dan bank. Sebenarnya, pemerintah dalam hal ini juga akan terkena imbasnya.

            C. Kemiskinan

Harta riil itu adalah tanah, ternak, rumah, emas, pohon-pohon, dan sumber alam lainnya. Masyarakat yang menjual tanah mereka untuk biaya pendidikan anak-anaknya. Tentu, ingin menjadikan anaknya menjadi orang yang ahli di bidang pendidikan yang dijalaninya. Anehnya dalam siklus ini, mengapa harus menjual tanah (sumber primer), tidak masalah jika harus menjual hasil dari keberadaan tanah berupa air minum, ternak, sayuran, dan hasil lainnya. Tapi jangan menjual tanah ! Toh... juga hasil dari jenjang pendidikan yang tinggi itu untuk membeli tanah, jika ia jurusan pertanian harus menanam yang memerlukan tanah.

Masyarakat yang menjual harta riilnya untuk mendapatkan uang kertas tidak dapat menabungnya sebagai investasi dimasa depan disebabkan ketidakstabilan nilai uang kertas tersebut. Mereka yang menjual harta riilnya telah memberikan kekayaan bagi orang lain dan memiskinkan dirinya sendiri. Ini sistem untuk memiskinkan bukan untuk mensejahterakan. Pikirkan saja, untuk saat ini, pilih gaji dengan beras atau gaji dengan uang kertas ? Gaji dengan beras akan menstabilkan harta, sementara uang kertas akan menurun nilainya.

Tuhan memberikan gratis tanah bagi manusia. Dan hasil yang dikelolah dari tanah tersebut dipersilahkan untuk diperjualbelikan karena itu usaha manusia sebagai jasa yang diberikan Tuhan kepada si pengelolah bumi.

            D. Penjajahan Baru

Adanya peperangan, pembunuhan, dan perebutan wilayah merupakan penjajahan yang terlihat jelas oleh mata kita. Pemberontakan atau perlawanan terhadapnya bisa dilakukan dengan cara bersama-sama. Sementara penjajahan dengan uang kertas membuat orang sakit jiwa sehingga ia tidak dapat berdiri dengan stabil dan membentuk manusia-manusia materialis, serta mendorong ketidakpedulian sosial. Penjajahan ini pun tidak di sadari oleh masyarakat sebagai penderita. Seperti melakukan dosa, yang dosanya tidak langsung dirasakan, namun suatu saat akan menyiksa secara tiba-tiba yang sakitnya tak bisa terbayangkan lagi.

Perlawanannya juga bukan dengan serangan fisik secara bersama-sama menyerang. Fenomena ini sama dengan 1.000 orang yang sama sekali tidak tahu mengenai ilmu matematika melawan 1 orang yang cerdas dalam ilmu matematika. Bagaimana bisa melawannya ? satu soalpun tidak akan terselesaikan walaupun 1.000 orang telah bersatu.

Perebutan kekuasaan, wanita, dan harta sudah terjadi dari awal  kehidupan manusia. Untuk itu perlu adanya aturan yang universal yaitu Al-Qur’an dan Hadist sebagai perjanjian akhir. Uang kertas bukanlah sistem yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Tentu saja menimbulkan huru-hara ekonomi. Penjajahan baru ini terus akan berjalan sejauh manusia tetap menggunakan uang kertas. Pada akhirnya, sifat manusia juga berubah menjadi ganas sampai titik dimana sistem ini digantikan.

2. Bunga

Adanya bunga yang diberikan kepada nasabah sebagai jasa yang membuat biaya baru yang harus diterima atau diberikan oleh pihak bank kepada nasabahnya. Biaya baru ini tidak riil atau bukan dalam bentuk uang kertas, tapi pencatatan. Permasalahannya adalah pada pencatatan dan jumlah uang yang  riil. Bila dalam pencatatan kita punya hutang Rp. 1.000.000 + bunga 2 % = Rp. 1.020.000, uang riil hanya Rp. 1.000.000, bagaimana membayar bunganya ? Permasalahan ini sudah disinggung pada uang kertas bagian I.

Pertarungan bunga pun terjadi pada bank-bank yang ada. Penawaran bunga yang menggiurkan nasabah untuk menabung dan berhutang membuat terus terciptanya uang dalam bentuk yang tidak riil. Pertambahan uang yang riil ditambah bunga, membuat fenomena inflasi terjadi. Uang beredar terus bertambah pesat yang tidak diimbangi dengan jumlah barang dan jasa yang ada.

3. Cadangan Uang di Bank

Simpanan pertama atau sebut saja sebagai original deposit besarya Rp. 100.000. Kalau ini dianggap sebagai jumlah dari 10 % FRR (Cadangan Kecil), maka 100 % dari original deposit adalah Rp. 1.000.000. Dengan kata lain, ada tambahan uang yang bisa di ciptakan bank sebesar Rp. 1.000.000 – Rp. 100.000 = Rp. 900.000.

Bisa dibayangkan kalau untuk seorang deposan bank bisa mencetak tambahan uang sembilan kalinya, maka bila satu bank memiliki nasabah 100 orang dengan deposit yang sama, bank bisa menciptakan tambahan uang beredar hingga Rp. 900.000 X 100 atau senilai Rp. 90 juta ! Ini baru dalam satu bank. Kalau dalam negara itu ada, katakanlah 100 bank, maka dengan jumlah original money Rp. 100.000 X 100 orang X 100 bank mencapai Rp. 1 miliar, bank bisa mencetak uang tambahan hingga Rp. 9 miliar.

Ketika Tuhan Menciptakan Emas

Kenapa Tuhan perlu menciptakan emas dan perak ? Dalam buku Muqaddimah, Ibn Khaldun menulis, Tuhan menciptakan dua logam mulia itu untuk menjadi alat pengukur nilai/harga (mesure of value) bagi segala sesuatu. Terutama karena hanya sedikit saja logam mulia yang bisa menyimpan perwakilan nilai transaksi yang sangat besar. Al-Maqrizi dalam Ighatsah menambahkan, Tuhan menciptakan dua logam mulia itu bukan sekadar sebagai alat pengukur nilai, atau untuk menyimpan kekayaan, tapi juga sebagai alat tukar (medium of exchange).

Karena itu, logam mulia itu menempati kedudukan yang tinggi, boleh dibilang seperti mata uang surga (Heaven’s Currency). Bukan karena keduanya digunakan sebagai mata uang di surga, tapi lebih itu karena fungsinya dalam menjaga keadilan yang menjadi salah satu ciri utama penghuni surga.

Emas dan perak memiliki nilai dan dianggap sebagai komoditas untuk menyimpan kekayaan, jauh sebelum mereka digunakan sebagai alat tukar atau uang. Masyarakat kuno sudah menggunakan emas, perak, dan tembaga untuk transaksi ekonomi. Emas dan perak dipilih karena kelangkaan (rare) dan warnanya yang indah. Dalam sejarah manusia, tak lebih dari 90.000 ton emas yang ditambang dari perut bumi. Sementara perak dan tembaga untuk memenuhi transaksi dengan nilai yang lebih rendah dari emas.

Uniknya, dunia modern mengklasifikasikan logam-logam itu dalam kolom yang sama. Tabel periodik menempatkan emas, perak, dan tembaga (dengan simbol kimia masing-masing Au, Ag, dan Cu) dalam grup yang sama, yakni golongan 11. Berbeda dengan kebanyakan logam lainnya, emas
memiliki sifat yang istimewa. Ia tidak bisa diubah dengan bahan kimia lain (indestructible). Archimides, 300 M, membuktikan bahwa emas bisa dideteksi tanpa merusak dan cuma menggunakan alat bantu air tawar biasa. Karena bukan logam yang aktif, emas juga tidak terpengaruh oleh air dan udara. Tidak seperti besi atau logam lain, emas tidak berkarat.

Selain keistimewaan itu, emas juga termasuk logam yang lunak. Emas bisa ditempa menjadi lempengan super tipis (malleable) dan juga bisa dibuat dawai atau kawat super mini (ductile). Banyangkan, satu ons emas bisa ditempa dengan luas seukuran 100 kaki persegi atau dibuat kawat sepanjang 50 mil.

Beberapa metode sebagai alternatif uang kerta sebagai berikut :
1.    Penggunaan emas sebagai mata uang tunggal
Emas sebagai mata uang yang dapat diterima di semua negara akan memberikan harapan kemakmuran yang besar terhadap negara yang memiliki sumber alam yang berlimpah termasuk penghasil emas. Uang tidak dinilai dari nominalnya yang  berdampak pada ketidakadilan, melainkan dari massa emas yang ada.
2.      Kembali kepada sistem barter
Pada dasarnya semua transaksi adalah barter. Disini, penggunaan barter di fokuskan untuk penggunaan uang kertas yang berlebihan. Sehingga dengan barter, masyarakat tidak harus bertransaksi dengan uang kertas, tapi bisa tukar barang/jasa dengan pedoman nilai yang disepakati.
3.      Menggunakan Poin
Menggunakan universal unit of account (poin) sebagai perwakilan dari emas yang ada. Total jumlah emas yang ada disesuaikan dengan poin dengan kriteria 1/10.000. Poin ini sebagai pengganti emas dalam transaksi.
4.      Kartu Transaksi
Setiap manusia yang lahir diberikan kartu transaksi. Transaksi ini harus didukung dengan terknologi yang ada. Setiap orang melakukan transaksi hanya menggunakan kartu sebagai debit dan kreditnya.

Pesan George Bernard Shaw

“Anda harus memilih antara stabilitas alamiah emas dengan kejujuran dan kecerdasan para wakil yang duduk di pemerintah. Dan tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada mereka, saya menganjurkan Anda, selama sistem kapitalis yang akhirnya unggul, untuk tetap memilih emas”