Kritik dan Saran HARGA Kereta Api Kelas Ekonomi Bersubsidi Medan-Tanjung Balai

Kritik dan Saran HARGA Kereta Api Kelas Ekonomi Bersubsidi Medan-Tanjung Balai

Kritik dan Saran HARGA Kereta Api Kelas Ekonomi Bersubsidi Medan-Tanjung Balai

Saat ini perjalanan menggunakan kereta api sangat diminati banyak kalangan. Kelas ekonomi pun sudah difasilitasi AC didalam ruangan. Tak hanya itu setiap orang tidak lagi kecolongan tempat duduk, karena 1 kursi diisi satu penumpang saja, jika tidak dapat tiket? Ya silahkan beralih ke transport yang lain. Dengan kenyamanan yang sudah begitu baik sebagai pelayanan kepada masyarakat tentunya saya pun tak mau beralih ke transport yang lain.

Walaupun berbagai kemajuan sudah ditempuh oleh PT. Kerata Api Indonesia, terkhsusus untuk daerah Medan-Tanjung Balai, namun tetap saja ada beberapa hal yang dengan pengamatan dan pengalaman yang saya rasakan juga perlu adanya perbaikan. Disinilah kita sebagai penumpang dapat memberikan kritik dan dilanjutkan dengan saran agar dapat dipertimbangkan oleh pihak yang melayani.
Berikut ini kritik dari saya terhadap system yang sudah ada dari pengamatan dan pengalaman selama menggunakan kereta api kelas ekonomi, semoga saja menjadi bahan pertimbangan!

1.      Tarif yang dikenakan pada kelas ekonomi bersubsidi.
Masih segar dalam ingatan bagi orang medan-tanjung balai dengan kalimat “jauh dekat harga sama” tentunya. Termasuk saya yang sering melakukan perjalanan Kisaran-Medan-Binjai. Nah… Tarif jauh dekat sama inilah yang menjadi kritik saya. Kritik ini ditujukan kepada harga kereta api kelas ekonomi. Bagi transport yang lain, seperti MEBIDANG yang jauh dekat dipatokan dengan tarif Rp. 6.000,- tidak masalah, bahkan saya sangat setuju dengan system seperti itu. Walau punya ongkos yang pas-pasan bisa melakukan perjalan yang jauh dengan harga yang sama dengan yang dekat.
Tapi berbeda halnya jika tarif jauh dekat ini diterapkan pada harga tiket pesanan kereta api kelas ekonomi. Permasalahan ini terletak bukan pada sistemnya, tapi pada tindakan yang dilakukan penumpang yang iseng. Kritiknya begini, jika harga medan-tebing tinggi sama dengan harga medan-perlanaan, medan-kisaran, medan-tanjung balai atau kita balik rutenya harga tanjung balai-tebing tinggi sama harganya dengan tanjung balai-pakam, tanjung balai-batang kuis, tanjung balai-medan. Bila ada penumpang iseng, misalnya ia dari tanjung balai hendak ke pakam, tapi ia pesan tiket dari tanjung balai-medan. Ya bisa saja iseng, karena harganya sama. Jika ini terjadi maka;
1.      Pihak kereta api akan rugi, jika pas rame-ramenya penumpang dan ada penumpang yang pesan dari pakam-medan, maka tentu karena ada penumpang yang iseng membeli tiket tanjung balai-medan, padahal ia turun di pakam. Berarti kursi sudah kosong, tapi tidak bisa dibeli. Sistem tentu masih mencatat perjalanan penumpang yang iseng tadi sampai ke medan.
2.      Bagi pihak penumpang yang ingin membeli tiket dari pakam-medan tentu akan diinformasikan kepadanya bahwa kursi sudah penuh/terisi, tapi kenyataan penumpang isengnya sudah turun di pakam. Heheheee…. Kasihan tentu bagi penumpang yang butuh untuk perjalan pakam-medan.

Saran: Sebaiknya lakukan kembali evaluasi harga jauh dekat sama. Saran saya kepada pihak pelayanan untuk merubah harga tiket tidak lagi jauh dekat sama, setidaknya ada sedikit perbedaan harga supaya tidak ada lagi penumpang yang iseng membeli tiket untuk merepotkan penumpang yang lain.

2.      Sistem boarding pass.
Saat ini jika melakukan pemesanan tiket harus kembali melakukan boarding pass untuk cetak tiket yang baru. Bagi saya ini sungguh memakan waktu, merapotkan, dan bikin capek karena harus antri lagi untuk melakukan boarding pass, apalagi jika computer cuman satu, pasti panjanglah tuh yang ngantri. Masih mending jika computer untuk boarding pass nya banyak, jadi antrinya gak lama-lama banget.

Saran: perbaiki system yang ada. Jika ada penumpang yang memesan tiket lagsung ke loket PT. Kereta Api Indonesia tidak lagi harus melakukan boarding pass. Alasan pertama, tidak ada pemborosan pada kertas yang harus dicetak sampai 2 x. Yang kedua, tidak merepotkan penumpang yang harus antri lagi untu boarding pass, apalagi bila harus nunggu penumpang yang agak gaptek untuk boarding pass… antrinya lohh… makin panjanggg…!. So… yang harus boarding pass itu hanya bagi penumpang yang membeli tiket di luar loket PT. Kereta Api Indonesia.

Mudah-mudahan kritik dan saran yang diberikan dapat menjadi bahan masukan yang perlu dipertimbang oleh pihak pelayanan, sehingga kedepannya PT. Kerta Api Indonesia, khususnya yang berada dalam rute Medan-Tanjung Balai.
Buka Komentar