Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pacaran, Salahkah ?

Sering kita mendengar ungkapan “Demi dirimu, laut kan kuseberangi, gunung kan kudaki” inilah bukti begitu dalam cintaku kepadamu. Ungkapan tersebut menunjukkan pengorbanan apapun akan diberikan asalkan tujuan cintanya tercapai. Sepanjang kehidupan manusia selalu ada bumbu yang sedap rasanya, harum baunya, dan indah semerbak bagai bunga yang selalu mekar serta takan pernah layu tangkainya yaitu cinta. Begitupun, sepanjang perjalanan cinta yang ada menampilkan corak yang berbeda terkait pada zamannya masing-masing. Jika, dengan cinta menjadikan seseorang rela berkorban, membangkitkan semangat, membutakan mata dari pandangan yang lain, memutar-mutar kepala seakan-akan sedang terbang, dan memberi kebahagian yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Definisi-definisi cinta seperti ini yang mungkin akan dikatakan lebay di kalangan anak-anak masa sekarang ini. Kita mungkin sudah mendengar cerita-cerita tentang cinta yang begitu dalam, ungkapan kata cinta menyentuh hati yang takan terlupa sampai mati pada masa nenek kita atau pada tahun 80 an ke bawah. Kisah cinta pada masa sekarang ini sangat jauh berbeda dengan kisah-kisah cinta pada masa lampau yang memiliki arah dan tujuan dalam cintanya. Yang masih mengedepankan agama, adat, dan tata karma. Bagi penulis sendiri menjaga kesucian cinta adalah dengan tidak pernah menyentuh sebelum menjadi muhrim dan menjaga kesucian hati adalah dengan tidak memalingkan hati kepada hati yang lain. Sesuai dengan Hadist Nabi Muhammad SAW :

Telah berkata Aisyah r.a. "Demi Allah, sekali-kali dia (Rasul) tidak pernah menyentuh tangan wanita (bukan mahram) melainkan dia hanya membai'atnya (mengambil janji) dengan perkataaan." (HR. Al-Bukhari dan Ibnu Majah).

Pada abad yang silam nenek moyang kita sudah memahami makna kehormatan diri perempuan dengan ajaran agama. Bahkan berjalan berdua-duan dengan lawan jenis sudah akan menjadi buah bibir di kalangan masyarakat. Dan hal ini sesuai dengan anjuran nabi :

“Janganlah seorang laki-laki berdua-duaan dengan wanita kecuali bersama mahramnya.”(HR. Bukhori dan Muslim)

Dan juga :

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah seorang laki-laki sendirian dengan seorang wanita yang tidak disertai mahramnya. Karena sesungguhnya yang ketiganya adalah syaitan.” (HR. Ahmad).

Ya, tidak salah jika cinta yang dibangun memperkuat hati antara satu dengan yang lainnya, menjadi awet dengan obat cinta dari ramuan agama, adat, dan nilai-nilai yang baik bukan hanya sekedar menimbulkan kebahagian dan ketentraman tapi juga kesucian cinta dan hati juga selalu terjaga karena Tuhan bersama mereka.

Bagaimana dengan kisah cinta pada masa sekarang ini ?

Jalinan cinta yang biasa disebut pada abad 20 an ini dengan istilah Pacaran. Merupakan mode yang sudah tidak jelas batasannya. Mengapa ? jika kita bertanya mengenai apa sih tujuan pacaran ? maka jawabannya akan berlawanan dengan tujuannya terkait pada prakteknya. Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas menyebutkan, Pacaran merupakan proses perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan pernikahan. Pada kenyataannya, penerapan proses tersebut masih sangat jauh dari tujuan yang sebenarnya. Manusia yang belum cukup umur dan masih jauh dari kesiapan memenuhi persyaratan menuju pernikahan telah dengan nyata membiasakan tradisi yang semestinya tidak mereka lakukan. Dan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (Edisi Ketiga, 2002:807), pacar adalah kekasih atau teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih. Berpacaran adalah bercintaan; (atau) berkasih-kasihan (dengan sang pacar). Memacari adalah mengencani; (atau) menjadikan dia sebagai pacar. Sementara kencan sendiri menurut kamus tersebut (lihat halaman 542) adalah berjanji untuk saling bertemu di suatu tempat dengan waktu yang telah ditetapkan bersama.

Mari kita menggunakan istilah Pacaran, sebagai pertanyaanya ; apakah ada Pacaran yang tidak bersentuhan walaupun hanya berpegangan tangan ?. Anak SD pun bahkan sudah memiliki pacar, tidak hanya sekali berpacaran bahkan sudah berulang kali putus nyambung. Apalagi dengan anak yang sudah SMP atau SMA, mungkin akan lebih parah lagi jalinan asmaranya. Menurut penelitian sederhana Penulis, pacaran berasal dari kata fujurun فُجُورٌ atau ketika menjadi objek menjadi fujuran فُجُوراً. Artinya adalah tindakan tunasusila, atau pelanggaran susila. Jika dalam bahasa inggris berarti immorality. Nah, Islam juga tidak menganjurkan Pacaran, bukan berarti semata-mata karena penggunaan istilahnya, tapi menekankan pada praktek dalam Pacarannya.

“Dan orang-orang yang tidak mampu menikah hendaklah menjaga kesucian (dirinya) sampai Allah member kemampuan kepada mereka dengan karunianya...” (QS. An-Nur [24]: 33.

Dan juga :

"Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan sesuatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra, 17 : 32).

Sebagian orang akan berkata boleh berpacaran jika diambil nilai positifnya. Seperti buat menambah kedewasaan, supaya ada yang melindungi, buat status di dunia maya, buat manas-manasin mantan, dan supaya HP tidak pernah sepi. Wah.. bagi Penulis sendiri ini yang namanya lebay tingkat tinggi. Jika pun Pacaran memiliki nilai yang positif, tapi lebih besar negatifnya maka Islam akan menganjurkan untuk meninggalkannya. Islam memandang wanita yang suci adalah mereka yang tidak pernah disentuh oleh yang bukan mahramnya. Dan Hati yang suci adalah hati yang tidak berpaling untuk melanggar janjinya, kemudian Tuhan tidak akan menyia-nyiakan cinta yang seperti itu baik di dunia begitu pula di akhirat. Tidak akan ada rasa takut dan cemas bagi orang-orang yang menjaga dirinya, karena Tuhan sudah berjanji wanita yang baik akan mendapatkan pasangan yang baik pula.

Seorang pria atau wanita yang dihantui ketakutan di dalam pikirannya mengenai siapa pasangannya, akan mendorong dirinya untuk berpacaran. Ketidakpastian membuatnya khawatir sekiranya tidak sekarang mau kapan lagi dan semakin lama perkiraannya juga semakin sulit untuk mencari yang sesuai dengan tipenya. Adakalanya berpacaran hanya sekedar untuk memenuhi hasrat hawa nafsunya saja, bahkan berpacaran dijadikan sebagai ajang pencari pasangan dan seleksi mana yang paling sesuai dengan dirinya. Tidak heran dikalangan pemuda-pemudi hari ini yang salah memilih dan gagal dalam dunia percintaan.

            Ada 2 (dua) kerugian menurut Penulis dalam Pacaran, yaitu :

1. Mengurangi Keindahan Cinta

Bagi siapapun cinta pertama terhadap seorang pria ataupun wanita adalah cinta yang paling membahagiakan. Sebab perasaan yang demikian itu baru pertama kali dirasakan. Sehingga perasaaan yang melukiskan keindahan bercampur aduk seperti nano-nano. Tapi bagaimana dengan rasa cinta yang kedua, ketiga, dan seterusnya…, akan semakin biasa-biasanya saja akibat dari pengalaman cinta sebelumnya. Banyangkan dengan cinta yang perdana, dengan tahap mengenal kemudian sampai pada jenjang pernikahan dengan cinta yang pertama putus, lanjut yang kedua, dan seterusnya sampai menempuh pada jenjang pernikahan dengan cinta yang ke tujuh. Tentu rasa yang menyangkut hati tersebut, yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata itu terletak pada cinta yang pertama (penulis sebut dengan pandangan pertama) jauh keindahannya dengan cinta yang kedua, ketiga, dan seterusnya.

2. Menjadi Barang Kedua

Menggunakan istilah pacaran berarti tidak terlepas dari berpegangan tangan. Bagi kebanyakan orang tidak masalah jika pasangan tersebut terus menyatuh sampai ke jenjang pernikahan. Dan pasangan yang sampai ke pernikahan dengan kisah cintanya dimulai dari SD, SMP, ataupun SMA sering mengatakan cinta kami yang paling awet, ya memang … dari SD gitu loch. Tapi berharap juga awet sampai berumah tangga. Jangan sampai pacaran lebih lama dari pada berumah tangganya. Lebih baik awet dalam rumah tangga, toh.. pacaran juga bisa ketika sudah menikah. Namun, bagaimana dengan pacaran yang tidak awet ? sudah dipastikan yang menjadi pasangan berikutnya mendapatkan barang yang kedua.

Islam menganjurkan bagi wanita dan pria untuk menjaga dirinya salah satuhnya dengan tidak menyentuh yang bukan mahramnya.

"Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi, itu lebih baik dari pada menyentuh wanita yang tidak halal baginya." (Hadist Hasan, Thabrani dalam Mu'jam Kabir 20/174/386).

Islam tidak melarang membuat janji dengan pasangan yang kita cintai baik pria maupun wanita, semenjak SD sekalipun. Tapi, melarang untuk menyentuhnya. Karena mungkin saja dikemudian hari janji yang telah dikrarkan tersebut luntur akibat ada hal yang lain. Pasangan dengan ikatan janji ini pun sekiranya terpisah, bagi hati yang akan muncul berikutnya tetap akan mendapatkan seseorang yang tak pernah tersentuh oleh tangan yang bukan muhrimnya. Ketahuilah bahwa cinta itu berasal dari lubuk hati yang paling dalam yang ketika Ia melihat sesorang mengingatkannya akan Tuhan. Dengan, praktek pacaran zaman sekarang ini telah menghilangkan makna dari cinta itu. Mengapa tidak ? seharusnya dalam mencintai bagi yang bukan mahramnya tidak menyentuh itu adalah pembuktian cinta karena ada rasa ingin menjaga, memelihara dan melindungi.

Praktek-praktek pacaran yang ditunjukan pada pemuda-pemudi sekarang ini lebih kepada cinta yang pragmatis. Mencintai karena rupanya, hartanya, jabatannya merupakan contoh dari cinta-cinta yang pragmatis. Padahal cinta itu harus tumbuh secara alami yang merupakan fitrah dari manusia. Tidak menurutkan hawa nafsunya yang hanya sekedar sebagai hiburan semata. Di dunia ini tiada hal yang terindah melainkan cinta. Tidak akan mengurangi rasa cinta itu jika tidak ada sebuah sentuhan-sentuhan yang malah akan membawa pada dosa dan kerugian pada kesucian diri serta hati.

Begitu naifnya sebagai manusia yang memiliki mutiara di dalam dirinya namun lebih mengedepankan keinginan setan yang selalu menyesatkan. Begitu rendahnya diri ini jika memandang materi-materi dunia ini sebagai ukuran untuk mencinta. Padahal hati itu jauh lebih bernilai dari segalanya yang ada di bumi ini. Mutiara ini pun yang sesungguhnya menjadi penyebab timbulnya kebahagiaan yang hakiki, bukan materi yang umurnya sesaat. Mengapa kita tidak mengindahkan perintah Tuhan padahal kita memiliki hati ? Pantaskah kita melanggar perintahnya padahal kita adalah ciptaannya ? Marahkah kita padahal Tuhan menginginkan kita supaya menjadi manusia yang mulia dengan menjaga diri dan hati ? dan Merasa beratkah kita atas perintah Tuhan yang tidak memperbolehkan menyentuh sesorang yang bukan mahramnya ?