Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Stroke

Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Stroke

Perhatian khusus pada hipertensi perlu dilakukan. Di Indonesia penderita hipertensi, yaitu; (1) tidak mengetahui menderita hipertensi, (2) mengetahui menderita hipertensi, tapi tidak teratur (3) mengetahui menderita hipertensi, diobati, tapi tidak teratur, hipertensinya tidak terkendali, dan (4) mengetahui menderita hipertensi, diobati, teratur, hipertensinya terkendali.
            Dari suatu penelitan epidemiologic di beberapa komunitas di Indonesia, dilaporkan hanya 5% saja penderita hipertensi yang mengetahui mereka menderita hipertensi, diobati teratur dan terkendali. Dan sisanya 95% yang tidak terkendali (kelompok 1, 2, dan 3 di atas). Dilaporkan pula dari beberapa penelitian prevalensi hipertensi di Indonesia berkisar antara 10%-15% (di atas umur 35 tahun). Seandainya penduduk Indonesia berusia 35 tahun ke atas sebanyak 125 juta, maka penduduk Indonesia yang berpotensi untuk mendapatkan serangan stroke di kemudian hari adalah 95% x 10% x 125 juta adalah 11.875.000 juta orang.
            Apa yang harus dikerjakan
            Ada 2 kegiatan yang harus dikerjakan dalam penanggulangan stroke, yaitu; (1) usaha-usaha supaya tidak terjadi stroke (sebelum stroke terjadi) dan (2) usaha-usaha setelah stroke terjadi.

            Usaha-usaha supaya tidak terjadi stroke

            Selama angka insidensi stroke masih tinggi dan hasil pengobatan stroke masih terbatas, maka potensi untuk mengendalikan kenaikan angka insidensi stroke tersebut dalam usaha prevensi primer. Usaha privensi primer adalah kegiatan untuk mengendalikan factor-faktor risiko pada individu-individu dengan risiko tinggi untuk terjadi stroke.
            Stroke dapat dicegah. Hal ini dibuktikan dari beberapa metaanalisis dari beberapa penelitian prevensi stroke bahwa angka insidensi dapat diturunkan 30%-40% dengan mengendalikan factor-faktor risiko stroke, terutama hipertensi. Angka yang cukup tinggi dan berarti.
            Islam sangat menganjurkan usaha-usaha untuk hidup sehat dan menghidarkan penyakit (usaha prevensi primer). Kita diingatkan supaya makan tidak berlebihan (al ‘Araaf, 31) yang nantinya akan menyebabkan hipertensi, hiperkholesterolemia, kencing manis, kegemukan dan kadar asam urat dalam darh tinggi. Merokok jelas-jelas merusak kesehatan dan pemborosan, yang telah dibuktikan dari ratusan peelitian. Islam tidak menganjurkan merokok. Merokok adalah makruh. Ada yang lebih berani mengatakan rook adalah haram (Maklumat Raja Ibnu Su’ud (23/4/1926). Beberapa ulama dari Universitas Al Azhar juga menyimpulkan rook adalah haram. Bagaimana dengan MUI, kita tunggu saja fatwanya. Usaha pengendalian hipertensi kita dapat mengikuti perintah Allah SWT, seperti; (1) dalam surat al A’raaf, 31, maknlah secukupnya, (2) lakukanlah olah fisik-raga ( an Anfaal, 60), (3) lakukan puasa, dzikrullah (al Baqarah, 183-184; ar Ra’d, 28). Sebenarnya Allah menurunkan al Qur’an sebagai penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (al Israa’, 82)

            Usaha-usaha setelah terjadi stroke

            Apabila masyarakat menemui serangan stroke pada anggota keluarganya bersegeralah ke rumah sakit terdekat, lebih cepat datang e rumah sakit, cacat dan kematian dapat dihindarkan. Sekurang-kurangnya 6 jam setelah serangan stroke tersebut. Pengobatan penderita stroke adalah mengoptimalkan keselamatan dan kualitas hidup. Pengobatan penderita stroke sangat kompleks, diperlukan proses multidisiplin yang memerlukan penegakkan diagnosis yang akurat, pengobatan sedini mungkin, yang memadai, dan biaya yang efektif untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut, mencegah terjadinya stroke ulang, mencegah komplikasi-komplikasi yang terjadi, memaksimalkan penyembuhan fungsional dan dapat hidup dalam keluarga, lingkungan kerja dan sosial di masyarakat.
            Setelah selesai dan selamat dari kematian, perlu diingatkan bagi penderita stroke, yaitu; (1) tetap control ke dokter untuk mencegah stroke ulang dengan mengendalikan factor risiko stroke, (2) lakukan dengan teratur tindakan fisiotherapi, latihan anggota gerak, psikotherapi sangat dianjurkan, (3) control ke dokter sekitar 2 tahun, (4) manfaatkan anggota badan yang sehat, (5) aktifitas berfikir dapat dilakukan untuk meningkatkan daya ingat dan kemampuan dalam mengambil keputusan, dan (6) aktifitas seksual dengan suami atau istri tidak dilarang.


Oleh: Prof. DR. Dr. H. Rusdi Lamsudin, M.Med. Sc, Sps
Buka Komentar