Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian dan Komposisi Kas


Menurut IAI PSAK No. 09 Paragraf 07, Sub a bahwa kas adalah alat pembayaran yang siap dan bebas dipergunakan untuk membiayai kegiatan umum perusahaan. Kas meliputi uang tunai (kertas dan logam) yang ada dipergunakan dan simpanan rekening giro.
Dari pengertian diatas dapat dilihat bahwa kas merupakan alat pembayaran atau alat pertukaran dan juga dipindahkan sebagai ukuran dalam akuntansi. Kas berupa aktiva yang paling banyak lancar, kas mempunyai karakteristik mudah dipindah tangankan, karena mempunyai identitas pemilikan dan bersifat aktif namun tidak produktif artinya tidak menimbulkan pendapatan jelas jika tidak diubah (dikonversi) ke dalam bentuk aktiva lain. Oleh karena itu harus dijaga supaya jumlah kas tidak terlalu besar sehingga tidak ada “Idle Kas”. Daya beli ini tidak akan mengakibatkan penilaian kembali berubah terhadap kas.

Sifat-sifat kas tersebut mengkibatkan cara perlakuan akuntansi terhadap kas menjadi sangat penting, terutama untuk kepentingan penyelidikan atau pengawasan kas.

Berdasarkan pengertian kas diatas, dapat disimpulkan bahwa yang termasuk kedalam golongan kas adalah aktiva yang dapat digunakan sebagai alat pembayaran atau media tukar pada saat diperlukan. Ciri lain yang dapat dijadikan alat ukur apakah aktiva termasuk ke dalam golongan kas atau tidak. adalah diterima sebagai setoran dengan nilai yang sama dengan jumlah yang tertulis didalamnya.

Mengacu pada ciri-ciri diatas, termasuk ke dalam golongan kas antara lain sebagai berikut
  1. Uang tunai dalam uang kertas atau logam baik mata uang sendiri (yang dikeluarkan oleh pemerintah), maupun mata uang asing.
  2. Uang simpanan di bank yang sewaktu-waktu dapat diambil, atau dalam bentuk simpanan giro (demand deposit)
  3. Cek yang diterima sebagai pembayaran dari pihak lain.
  4. Cek perjalanan (Traveller’s Check), yaitu cek yang dikeluarkan, oleh suatu bank untuk melayani nasabah yang melakukan perjalanan jarak jauh. Cek ini dapat digunakan sebagai alat pembayaran biaya perjalanan, misalnya biaya transportasi, penginapan dan sebagainya. Keuntungan menggunakan Traveller’s Check, cek tersebut dapat dicairkan pada cabang bank penerbit di kota lain sehingga tidak membawa uang tunai dalam jumlah yang banyak. Selain itu jika hilang dapat diganti oleh bank penerbit.
  5. Kasir Cek (Cashir’s Check), adalah cek yang dibuat yang ditandatangani oleh suatu bank, ditarik oleh bank itu sendiri. Dengan demikian Cek Kasir merupakan surat perintah dari suatu bank kepada bank itu sendiri, untuk melakukan pembayaran kepada pihak lain.
  6. Wesel Pos. Termasuk kedalam golongan kas karena sifatnya yang dapat segera dijadikan uang tunai pada saat diperlukan.
Sementara yang tidak termasuk golongan kas, antara lain :
  1. Deposito Berjangka (Time Deposit), adalah uang simpanan di bank yang hanya dapat diambil setelah jangka waktu tertentu berakhir, sehingga tidak dapat diambil sewaktu-waktu.
  2. Surat Berharga, misalnya saham atau obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan lain.
  3. Uang disediakan untuk tujuan-tujuan tertentu sehingga terikat penggunaannya misalnya dana untuk pelunasan obligasi, dan pensiun dan dana untuk pembayaran deviden.
  4. Wesel tagih adalah perintah tertulis yang tak bersyarat dari pihak penarik kepada pihak tertarik untuk membeyar sejumlah uang tertentu, pada suatu tanggal yang sudah ditentukan.
  5. Cek mundur (post datet checks), tidak dapat digolongkan dalam kas sebelum tanggal jatuh temponya.
  6. Perangko. Walaupun dapat digunakan sebagai alat pembayaran untuk biaya pengiriman dalam jumlah kecil, tetapi tidak digolongkan kedalam kas karena tidak diterima sebagai setoran ke bank. Biasanya diperlukan perlengkapan kantor (Office Supolies)
Tim Dosen