Skip to main content

Poligami, Solusi untuk Martabat Seorang Wanita

Islam hadir dipermukaan bumi ini adalah sebagai hudallinnas, sebagai petunjuk atau pedoman bagi manusia untuk mencapai hakekat kemanusiaan sebagai hamba Tuhan. Adanya petunjuk yang diberikan kepada manusia melalui para rasul Allah SWT ini menggiring manusia pada jalan keimanan yang akan lahir pada setiap insan dan juga kelompok-kelompok yang berorientasi pada pencegahan kemungkaran dan penegak kemakrufan. Hal ini membawa pada sudut pandang yang sama pada setiap manusia dalam melihat realita kehidupannya. Tidak hanya untuk diri sendiri penyelamatan petunjuk dari Allah SWT (Al qur’an) ditujukan. Melainkan juga, bagi seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Dengan demikian, kehadiran Islam bagaikan tanah tandus yang dijatuhi air hujan, sehingga tanahnya menjadi subur.

Petunjuk Allah SWT tentu adalah pedoman yang terbaik diatas segalanya. Pemecahan dari sebuah permasalahan akan mendapatkan hasil yang terbaik bila dikembalikan kepada Allah SWT. Tentu dalam hal ini kita sadar bahwasanya dalam mengarungi hidup dan kehidupan ini, kita sebagai manusia yang lemah sering mendapatkan cobaan atau melihat orang-orang yang mendapatkan sebuah permasalahan dalam hidupnya. Jika kita yakin bahwa petunjuk Allah lah yang terbaik, maka kita harus menggunkannya. Banyak pula manusia yang meyakini Islam sebagai agama satu satunya ini, agama yang haq, namun enggan dalam mengamalkan dalam kehidupannya. Rasa keraguan juga muncul bila ada niat untuk mempraktekan ajaran Islam. Sehingga nilai-nilai kemanusian yang mencerminkan kepribadian Islam itu tidak muncul. Ragu dalam mengamalkan Islam, sama saja minimnya keyakinan terhadap keIslaman itu sendiri, dan bisa jadi malah akan merusak Islam karena umatnya tidak bisa menjadi cermin yang memperlihatkan ia adalah seorang muslim.
Rasa takut juga terkadang menghantui perasaan seseorang jika ingin mempraktekan Islam terkhusus di dalam keluarganya, apalagi diperuntukkan untuk khalayak ramai, akan semakin menjadi beban kehidupan. Allah SWT tentulah tidak akan menghinakan hamba-hambanya yang dengan kerelaan mengabdi kepadanya untuk menegakkan kemakrufan di muka bumi. Mudah-mudahan dalam rasa apapun, baik munculnya keraguan bahkan ketakutan didalam diri, jika petunjuk Allah SWT ini dijalankan maka tentulah Allah SWT sebagai penolongnya. Darimana ada rasa yang buruk bila Allah SWT sendiri adalah pemberi rasa itu. Hal itu merupakan Imajinasi Syaitan yang menghalangi manusia dalam menjalankan tugas keHambaannya.

Seorang muslim, dalam menjalankan tugas keHambaannya, sering terdapat pemikiran, tafsiran, atau sudut pandang yang berbeda, walau telah dilakukan pendekatan dialog. Sudut pandang ini yang menjadi penyebab baik atau buruknya nilai pedoman Tuhan yang ada. Kita Akan mengacu pada pembahasan yang berkaitan dengan Poligami. Pertanyaan awal yang akan muncul adalah…Apakah seorang wanita rela, suka, atau ikhlas jika di Poligami? Jawaban 90% adalah Tidak. Tapi mengapa Islam hadir, dengan dua sudut pandang yang berbeda yaitu ada yang bilang Sunnah Rasul ada yang bilang diperbolehkan sebagai pengecualian.

Kita lihat, Alqur’an Surah An-Nisaa’ (4) ayat : 4 yang menyatakan sebagai berikut:
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.

Allah SWT masuk berawal dari pintu nafsu seorang pria, kita tahu nafsu normal seorang pria mengingini wanita lebih dari satu, yang cantik dan juga manis. Kemudian, dengan menaikkan derajat seorang manusia khususnya seorang pria, Allah SWT kemudian masuk ke dalam pemikirannya dengan membuat pernyataan ‘jika kamu tidak bisa berbuat adil, maka cukup satu’. Ini juga menggambarkan pemikiran normal seorang pria. Bila menelaah ayat ini ketidakadilan merupakan perbuatan aniaya, dan tentu merupakan sesuatu yang dibenci oleh Allah SWT dan pastinya mendorong manusia mendekati nerakanya Allah SWT. Satu istri ini merupakan posisi normal seorang pria tanpa ada pengecualian apapun. Karena jika nambah satu, akan mendekati ketidakadilan, dan jika nambah lagi maka ketidakadilannya semakin besar. Sehingga resiko aniaya yang mendorong manusia ke neraka semakin didepan mata.

Berbicara Normal, Tidak Normal (Negatif/ Positif) akan dibahas dalam pembahasan tersendiri agar lebih mendalam. Alqur’an surah An-Nisa tersebut menguatkan atau menganjurkan pada seorang pria menikahi satu orang yang inilah merupakan keadaan Normal dan juga memperboleh kan lebih dari satu, hal ini menunjukkan ada keadaan yang tidak normal atau adanya pengecualian. Misalnya, dalam sejarah Nabi Muhammad SAW tidak memperkenankan putrinya yang bernama Fatimah dipoligami oleh Ali yang merupakan pria pertama yang masuk Islam (menantu Nabi Muhammad SAW), jika kita memiliki sudut pandang bahwa Poligami adalah sunnah, mengapa nabi melarang? Itu karena tidak ada pengecualiannya atau masih dalam keadaan yang normal.

Islam datang memberikan jalan terbaik bagi manusia. Perkara Poligami ini merupakan sesuatu yang memiliki mudhorat, akan tetapi akan menjadi solusi atau pencegahan terhadap suatu mudhorat yang lebih besar. Siapa yang hatinya tidak tersakiti bila di Poligami (dalam keadaan normal)? Berarti mudhoratnya ada.

Allah SWT lebih mengetahui hukumnya dari pada manusia itu sendiri. Dengan poligami dalam keadaan yang tidak normal akan mengangkat martabat seorang wanita tersebut. Setidaknya keadaan tidak normal berikut ini akan merubah sudut pandang kita terhadap Poligami yang merupakan Solusi dalam menjaga martabat seorang wanita:
1.      “Di antara tanda tanda kiamat adalah berkurangnya ilmu, munculnya kebodohan, tersebarnya perzinahan, banyak wanita, dan sedikitnya laki laki sehingga lima puluh wanita mempunyai satu laki laki” (HR Bukhari)
Pada hadist diatas, menggambarkan kondisi yang tidak normal. Jika tidak dilakukan Poligami maka bagaimana nasib dari wanita yang lain.
2.      Status sosial seorang wanita tetap terjaga. Okay lah jika hanya dilakukan satu perkawinan yang sah dan yang lain sebagai pemenuh hasrat saja. Dengan begitu, pemenuhan kebutuhan secara biologis tetap terpenuhi. Akan tetapi ini akan merendahkan kaum wanita, yang seperti sebuah barang yang tak berharga. Dengan dilakukan Poligami, seorang wanita akan medapatkan status yang jelas di masyarakat dan bila memiliki anak pengakuan adanya seorang orang tua juga jelas. Status di masyarakat juga akan baik, kejelasan seorang Ayah dan Ibu, pengakuan terhadap anak dimasyarakat menjadi penumbuh keadaan psikologis yang baik.
3.      Adanya kondisi-kondisi yang dibawah oleh sepasang suami-istri, seperti jika 1) seorang istri dinyatakan mandul (catatan: suami tetap meminta ijin kepada istri sebagai cerminan akhlak islam, bila tidak dijinkan maka hal terbaik adalah mematuhinya. Allah SWT menganjurkan menyayangi istri, dikatakan Nabi “sebaik-baik pria adalah yang paling mencintai/menyanyangi istrinya, mudah-mudahan Allah SWT mengaruniahkan seorang anak. Kenapa tidak? Yang perlu dilakukan adalah menambah kenyakinan. Inilah salah alasan mengapa kita berTuhan!), 2) dan seterusnya merupakan sudut pandang pembaca sendiri dalam memahami Poligami. Setiap manusia memiliki pandangan sendiri dan pandangan yang terbaik adalah hikmah Tuhan yang diberikan kepadanya.


Wassalam…
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar