Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Preposisi, Dalil, Teori dan Fakta

Preposisi adalah pernyataan tentang sifat dari realita (Nazir, 2005). Preposisi tersebut dapat diuji kebenarannya. Jika preposisi sudah dirumuskan dan sementara diterima untuk diuji kebenarannya, maka preposisi tersebut akan menjadi hypothesis. Preposisi merupakan pernyataan antara dua atau lebih konsep. Sedangkan konsep terbentuk dari generalisasi suatu keadaan yang spesifik.

Contoh: Tingkat Pendidikan adalah salah satu faktor penentu tingkat kesejahteraannya. Contoh ini merupakan suatu preposisi yang menghubungkan dua faktor penyebab dari faktor lainnya. Sedangkan konsep disini adalah Tingkat Pendidikan dan Tingkat Kesejahteraan. Bila preposisi sudah mempunyai jangkaun yang luas dan telah didukung oleh data empiris maka ditanamkan dalil. Dalil adalah singkatan dari suatu pengetahuan tentang hubungan sifat-sifat tertentu yang bentuknya lebih umum jika dibandingkan dengan penemuan-penemuan empiris pada mana dalil tersebut didasarkan (Selltiz et.all, 1964).

Teori menurut Babbie (1992) adalah suatu penjelasan sistematis tentang hukum-hukum dan kenyataan-kenyataan yang dapat diamati yang berkaitan dengan aspek khusus dari kehidupan manusia. Sedangkan Neuman (2003) menjelaskan bahwa teori merupakan suatu sistem gagasan dan abstraksi yang memadatkan dan mengorganisasi berbagai pengetahuan manusia tentang dunia sosial sehingga mempermudah pemahaman manusia tentang dunis sosial. Menurut Sekaran (2003), teori merupakan kumpulan preposisi umum yang saling berkaitan dan digunakan untuk menjelaskan hubungan yang timbul antara variabel yang diamati. Menurut Sekaran, formulasi teori merupakan upaya untuk mengintegrasikan semua informasi secara logis., sehingga alasan atas masalah yang diteliti dapat dikonseptualisasikan dan diuji.

Teori merupakan alat untuk menjelaskan dan memprediksi fenomena yang diteliti. Teori selalu berdasarkan fakta, didukung oleh dalil dan preposisi. Secara devenitif, teori harus didasarkan atas bukti/fakta empiris., karena tujuannya adalah untuk menjelaskan dan memprediksi realita. Oleh karena itu teori harus sesuai dengan realita.

Kerangka teori merupakan upaya penggalian teori yang dapat digunakan peneliti untuk menjelaskan hakikat dari gejala yang ditelitinya. Neuman menjelaskan bahwa teori memberikan kita seuatu kerangka yang membantu dalam melihat permasalahan. Teori menyediakan konsep-konsep yang relevan, asumsi-asumsi dasar dapat digunakan dan mengarakan pertanyaan peneliti yang diajukan serta membimbing kita agar dapat memberi makna terhadap data (Neuman, 2003).

Kerangka teoritis merupakan suatu pondasi utama dimana sepenuhnya proyek penelitian itu ditujukan. Hal ini merupakan jaringan hubungan antar variabel secara logis diterangkan, dikembangkan dan dielaborasi dari perumusan masalah yang telah diidentifikasi.

Sekaran menjelaskan (2003) bahwa untuk membangun kerangka teori meliputi antara lain:
1.      Memperkenalkan definisi dari konsep, atau variabel didalam model penelitian.
2.      Mengembangkan model konseptual yang akan menyediakan penyajian deskriptif dari teori yang digunakan.
3.      Teori tersebut akan memberikan penjelasan tentang hubungan antara variabel didalam model penelitian yang disebut juga justification model.

Melalui kerangka teori akan mungkin dilakukan uji hipotesis yang akan kemudian akan dikembangkan untuk menguji apakah teori tersebut valid atau tidak. Hubungan hipotesis tersebut akan diuji melalui analisis statistik. Seluruh riset akan didasarkan pada kerangka teoritis tersebut, meskipun tidak semua riset yang menggunakan hipotesis. Pengembangan kerangka teoritis yang baik merupakan pusat (sentral) untuk menguji masalah yang ada dalam penelitian.

Dalam penelitian kuantitatif yang menggunakan proses berpikir deduktif, peranan kerangka teori adalah sebagai dasar untuk mengajukan pertanyaan sementara (hipotesis) atas dasar pertanyaan penelitian yang telah dirumuskan.

Lima faktor yang memberikan peranan penting yang harus dipenuhi  dalam membangun kerangka teoritis (Sekaran, 2000:103) yaitu:
1.      Variabel yang relevan harus dapat dijelaskan dan disebutkan dalam diskusi.
2.      Diskusi haruslah dapat mewujudkan bagaimana dua atau lebih variabel itu berhubungan satu dengan yang lain.
3.      Jika jenis dan arah hubungan tadi dapat diterima secara teori berdasarkan atas penelitian sebelumnya, maka harus ada indikasi pada diskusi apakah hubungan tadi positif atau negatif.
4.      Harus ada penjelasan secara jelas kenapa kita mengharapkan hubungan tersebut harus dipertahankan.
5.      Skema diagram yang menjelaskan kerangka teoritis harus dapat diperlihatkan sehingga pembaca dapat melihat dengan mudah dan memahami bagaimana hubungan antar variabel secara teoritis.



Kuncoro (2009) menjelaskan secara implisit bahwa landasan dasar dari metode ilmiah adalah empiris dan rasional. Empiris diperoleh melalui observasi yang dilakukan berdasarkan pengalaman dari berbagai logika induktif. Empiris harus berdasarkan realita. Rasional berarti mempercayai bahwa semua pengetahuan dapat diperoleh dari aturan atau kebenaran hukum alam. Usaha untuk menjelaskan fenomena ekonomi biasanya dilakukan dengan menggunakan model. Hal tersebut dapat terlihat pada gambar dibawah ini: