Skip to main content

Presentase The Illusion Of Truth (Ilusi Tentang Kebenaran), Derek Muller, PhD (Sydney University)

Penelitian membuktikan, jika anda berulang-ulang mengucapkan kalimat: “Suhu Tubuh Ayam”. Ya, betul. “Suhu Tubuh Ayam…” meskipun GAK ADA INFOMASI PENTING soal suhu tubuh ayam, Anda akan CENDERUNG MENGANGGAP BENAR pernyataan ini: “Suhu tubuh ayam adalah 34 derajat Celcius.” Salah sih, sebenarnya suhunya mendekati 41 derajat C. Tapi hasil penelitian ini menunjukkan, aspek yang sangat penting bagi psikologi kita, yang sangat berperan dalam cara kita memandang dunia.

Hal-hal yang terus DIKEMUKAKAN BERULANG-ULANG, akan DIRASA LEBIH BENAR. Ini terjadi akibat mekanisme yang disebut COGNITIVE EASE (kemudahan pemahaman). Kemudahan pemahaman mengukur seberapa keras otak Anda bekerja. Dari tingkat mudah, seperti Anda scrolling facebook,

sampai tingkat sulit, seperti Anda mencoba menghitung 14 x 37 diluar kepala.
Hal-hal yang dianggap benar, umumnya LEBIH MUDAH DIPAHAMI. Misalnya, api itu panas, bumi mengelilingi matahari, anjing kakinya empat, dll. Bukanya hal-hal tersebut RASANYA BENAR, tapi juga RASANYA FAMILIAR, TANPA USAHA dan RASANYA NYAMAN. Semua ini adalah akibat mekanisme “kemudahan pemahaman”.

Masalah timbul disebabkan “kemudahan pemahaman” BISA DIREKAYASA lewat berbagai cara. Salah satunya adalah dengan MENGULANG-ULANG stimulusnya. Pada sebuah percobaan klasikdi 2 Universitas di Michigan, para peneliti memasang Koran-koran di kampus. Tiap iklan hanya berisi salah satu dari KATA-KATA TANPA MAKNA ini: KARDIGA, SARICIK, BIWONJNI, NANSOMA, IKTITAF. Mereka mengulang dalam frekuensi yang berbeda-beda. Ada kata yang tampil dalam Koran sebanyak 1x, sementara kata lainnya tampil 2x, 5x, 10x, atau 25x. Gelombang frekuensi dibalik di Universitas satunya.

Di akhir eksperimen, para peneliti kirim kuesioner meminta public member nilai ARTI dari KATA-KATA MAKNA itu, apakah bermakna sesuatu yang BAIK, atau bermakna sesuatu yang BURUK. Dan hasilnya sangat jelas. Semakin sering sebuah kata tampil di Koran, semakin banyak orang MERASA bahwa kata tersebut bermakna BAGUS.

Jadi, dengan pengulangan terus-menerus, bahwa KATA YANG TIDAK ADA ARTINYA pun rasanya jadi FAMILIAR. Hal ini memicu “kemudahan pemahaman” dan perasaan yang nyaman pada umumnya. Tapi di bidang FISIKA, dimana banyak jawaban yang KONTRA INTUITIF dan begitu banyak MISKONSEPSI YANG UMUM, sangat penting untuk bersikap lebih skeptis.

Dan inilah DILEMA antara BELAJAR dan BERPIKIR KRITIS. Cognitive ease (kemudahan pemahaman) adalah NYAMAN, TANPA USAHA, FAMILIAR, tapi bisa juga MENIPU ANDA. Hal itu bisa membuat sesuatu TAMPAKNYA BENAR, padahal SEBENARNYA TIDAK. Di sisi lain, bersikap skeptis dan analitis memerlukan lebih banyak PERSIAPAN MENTAL. Lebi MEMBINGUNGKAN, dan rasanya TAK BEGITU NYAMAN, tapi itu CARA TERBAIK untuk memisahkan antara FAKTA dan FIKSI.  
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar