Seorang Anak yang Aktif, Belum Tentu Hiperaktif

Hiperaktif sering dipakai masyarakat luas untuk menggambarkan seorang anak yang sangat aktif dalam kesehariannya. Padahal tidak semua anak yang aktif bisa dikategorikan sebagai anak “Hiperaktif” yang mempunyai makna secara klinis. Orang tua yang penuh perhatian pada anaknya, akan khawatir dan bertanya-tanya mungkinkah anaknya termasuk hiperaktif, jika dilihatnya anaknya lebih aktif jika dibandingkan dengan teman sebayanya. Sehingga segera mengkonsultasikannya pada dokter.
            Namun sebaliknya, tak jarang juga orang tua yang justru tidak menyadari ketika anaknya mengalami gangguan tersebut, dianggapnya itu adalah sesuatu yang wajar bagi anak-anak, dan akan hilang dengan sendirinya dengan bertambahnya umur. Jika demikian maka akan mengakibatkan terlambatnya usaha untuk mendapatkan pengobatan dan tindakan sedini mungkin yang diharapkan dapat memperbaiki kualitas kehidupan si anak. Oleh karena itu perlu bagi kita untuk mengetahui tanda-tanda anak dikatakan hiperaktif agar sebagai orang tua, kita bisa mensikapinya secara tepat, dan pada akhirnya sangat membantu anak dalam kehidupannya.
            Di bidang kedokteran, hiperaktif disebut dengan “Attention Defisit Hyperactivity Disorder” (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas/GPPH). Merupakan salah satu kelainan tumbuh kembang anak yang ditandai dengan gejala adanya kesulitan memusatkan perhatian disertai aktivitas yang berlebihan dengan atau tanpa impulsivitas.
            Gangguan ini disebabkan karena adanya kelainan di dalam otak. Diagnosa hiperaktif, ditegakkan jika ada tanda/ gejala di bawah ini:

A.    Terdapat enam atau lebih dari gejala-gejala gangguan pemusatan perhatian dibawah ini, yang menetap ada anak selama 6 bulan secara terus-menerus, dibandingkan dengan anak usia sebaya yang normal

Gejala Kesulitan memusatkan perhatian:
1.      Sering gagal dalam memusatkan perhatian pada hal-hal kecil atau ceroboh (tidak hati-hati) dalam pekerjaan sekolah atau kegiatan lainnya.
2.      Sering sulit mempertahankan perhatian pada waktu melaksanakan tugas atau kegiatan bermain.
3.      Sering tidak seperti mendengarkan pada waktu diajak bicara.
4.      Sering tidak mengikuti petunjuk atau gagal menyelesaikan pekerjaan sekolah dan tugas (tidak disebabkan oleh perilaku menentang atau kegagalan memahami petunjuk)
5.      Sering sulit mengatur tugas dan kegiatan.
6.      Sering menghindar, tidak suka atau enggan melibatkan diri dalam tugas yang memerlukan ketekunan yang berkesinambungan (seperti melakukan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah)
7.      Sering menghilangkan benda yang diperlukan untuk melaksanakan tugas atau kegiatan.
8.      Perhatiannya sering mudah dialihkan oleh rangsangan dari luar.
9.      Sering lupa dalam kegiatan sehari-hari.

B.     Terdapat enam atau lebih gejala hiperaktivitas dan atau impulsivitas yang menetap pada anak selama enam bulan, secara terus menerus, dibanding dengan sebayanya.

Hiperaktif:
1.      Sering tangan dan kakinya tidak bisa diam atau tidak bisa duduk diam.
2.      Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau di situasi lain dimana diharapkan untuk tetap diam.
3.      Sering berlari-lari atau memanjat secara berlebihan dalam situasi yang tidak sesuai untuk hal tersebut.
4.      Sering mengalami kesulitan untuk bermain atau mengikuti kegiatan pada waktu senggang dengan tenang.
5.      Sering dalam keadaan siap gerak (bertindak seperti digerakkan oleh mesin)
6.      Sering berbicara berlebihan.

Impulsiv:
1.      Sering melontarkan jawaban terhadap pertanyaan sebelum pertanyaan ditanyakan (menjawab pertanyaan tanpa dipikir terlebih dahulu).
2.      Sering sulit menunggu giliran.
3.      Sering atau memaksakan diri terhadap orang lain (misalnya memotong percakapan atau mengganggu permainan).

C.     Hiperaktif-impulsif atau gangguan pemusatan perhatian dimulai sebelum usia 7 tahun.

D.    Gejala-gejala tersebut terjadi baik di rumah atau di sekolah

Anak-anak yang mengalami gangguan hiperaktif akan mengkibatkan gangguan dalam fungsi sosial, akademik, ataupun pekerjaan. Makin dini mengenali tanda-tanda hiperaktif pada anak, maka akan semakin cepat dapat dikosultasikan pada ahlinya sehingga akan mempercepat tegaknya diagnosa untuk anak hiperaktif. Dengan demikian penanganan yang optimal serta komprehensif dapat segara dilakukan untuk memperbaiki kualitas kehidupan sang anak. Keluarga terutama Ibu adalah orang terdekat yang paling banyak kebersamaannya dengan anak sehingga mudah untuk mengenali perilaku anaknya. Dan akhirnya Ibu atau keluarga dekat jugalah yang memegang peranan penting dalam upaya terapi pada anak hiperaktif.

Semoga Bermanfaat

Oleh: dr. Warih Andan Puspitasari

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel