Sistem Ekonomi dan Perdagangan yang Berbudaya

Sistem Ekonomi dan Perdagangan yang Berbudaya

Sistem Ekonomi dan Perdagangan yang Berbudaya

Secara sederhana judul tulisan ini memiliki tiga suku kata, yaitu : ekonomi, perdagangan, dan budaya. Ketika dirumuskan barangkali terkesan mengada-ngada atau diada-adakan, tetapi sesungguhnya tidak demikian, karena kita juga mengenal berbagai istilah dalam ekonomi dan perdagangan, yang selama ini sering terdengar di telingan kita. Misalnya, ekonomi liberal/kapitalis, ekonomi terpimpin, ekonomi pancasila, ekonomi global, ekonomi  hijau (green economy), perdagangan global, perdagangan bebas, perdagangan berkeadilan, dll.

            Ekonomi dan perdagangan yang berbudaya kontennya pasti hendak merespon tentang berbagai kenyataan yang hidup ditengah-tengah masyaratkat akibat diterapkannya sistem ekonomi dan perdagangan di suatu Negara (termasuk Indonesia). Fakta menunjukkan, hamper di semua Negara di dunia, dewasa ini merupakan penganut doktrin ekonomi liberal dan paham perdagangan bebas, yang konon bila sistem ini diterapkan akan mendatangkan kesejahteraan umat manusia. Namun bila ditelusuri secara cermat, yang menerapkan sistem tersebut secara murni dan konsekuen hamper tidak ada, karena memang dari awalnya yang namanya kekuatan dan kelemahan itu tidak ada yang sama,seimbang, setara, dll.

            Sistem ekonomi liberal/kapitalis dan sistem perdagangan bebas ketika dijalankan dalam kurun waktu yang panjang, ternyata bukan menghasilkan kesejahteraan bersama bagi umat manusia (meskipun harus diakui banyak keberhasilan yang dicapai), tetapi melahirkan juga semacam kejahatan. John Perkins menyebutnya sebuah “Kejahatan Korporatokrasi”, yaitu jaringan yang bertujuan memetik laba melalui cara-cara korupsi, kolusi, dan nepotisme dari Negara-negara Dunia Ketiga. Cara kerjanya mirip mafia karena menggunakan semua cara, termasuk pembunuhan untuk mencapai tujuan (John Perkins.”Confession of An Economic Hit Man”, 2004).

            Dalam bahasa yang lebih elegan, Joseph E. Stiglitz (pemenang Nobel Ekonomi) dalam bukunya “Making Globalization Work” mengatakan, pertumbuhan ekonomi itu penting jika dibarengi dengan pemerataan. Menurutnya, kaum “fundamentalis” pasar gagal menciptakan dunia yang lebih adil melalui globalisasi. Globalisasi dengan sistem pasar yang terlalu terbuka/bebas tanpa campur tangan pemerintah bisa saja menciptakan Negara kaya, tetapi dengan rakyatnya yang miskin. “Pembangunan”, menurutnya, adalah tentang transformasi kehidupan manusia, bukan sekedar transformasi ekonomi. Negara-negara barat yang berekonomi kuat berhasil mengambil manfaat dari globalisasi, dengan mengkibatkan kerugian bagi mereka yang ekonominya masih relative lemah.

            Pertanyaanya, kenapa bisa demikian? Jawabnya sederhana saja, yaitu sistem ekonomi dan perdagangan bebas hakikatnya hanya berbicara laba/profit dan kapitalisasi asset ekonomi. Jawaban yang agak idealis dan filosofis, sistem ekonomi dan perdagangan yang seharusnya diharapkan adalah “Sistem Ekonomi dan Perdangan yang Berbudaya”. Tidak mudah memang mewujudkan sistem ekonomi dan perdagangan yang berbudaya. Ekonomi dan perdagangan yang berbudaya tentunya tidak dimaksudkan untuk mengbaikan nilai-nilai tentang efisiensi, produktivitas, dan persaingan. Tidak juga dimaksudkan untuk membatasi ruang gerak masyarakat melakukan aktivitas ekonomi dan perdagangan.

            Berbudaya dalam konteks membangun ekonomi dan perdagangan dimaksudkan agar pertama, kebijakan-kebijakan yang akan diambil selalu memperhitungkan sesuatu yang secara nayata hidup di masyarakat. Kedua, kalau kita sepakat, pembangunan hakikatnya sebuah proses transformasi kehidupan manusia. Maka tata nilai yang berdimensi sosial dan budaya selayaknya dapat diakomodasikan secara subtansial di dalam proses penetapan kebijakan ekonomi dan perdagangan. Agar dampak yang dihasilkan melahirkan transformasi ekonomi yang lebih berbudaya, bermartabat, berkeadilan, dan berperadaban.

            Ketiga, proses globalisasi telah berlangsung. Semua mengakui, globalisasi adalah sebuah keniscayaan. Namun kita tidak juga harus menutup mata, ternyata globalisasi adalah tempat berlangsungnya konflik-konflik yang terjadi di masyarakat. Mau tidak mau diperlukan campur tangan pemerintah untuk mengatasi konflik-konflik tersebut, dengan mengedepankan kepentingan nasional dalam arti luas. Oleh karena itu, globalisasi harus disiasati sedemikian rupa, sehingga dapat membawa manfaat yang sebesar-sebesarnya bagi masyarakat di suatu Negara, sekaligus meminimalkan dampak negatifnya.


Penulis : FAUZI AZIZ
Buka Komentar