Tidak Sekedar TRINITAS, Tapi POLITEISITAS

Dalam memenuhi kebutuhan rohaninya manusia harus memiliki harapan-harapan yang digantungkan terhadap sesuatu yang memiliki kelebihan dari siapapun juga, walaupun harapan itu dapat terwujud ataupun tidak. Harapan itu menimbulkan dorongan kepada manusia untuk percaya terhadap harapan tersebut. Ketika, manusia menggantungkan harapannya kepada sesuatu dan sesuatu yang diharapkannya itu terwujud, maka hal ini akan menambah kepercayaan terhadap susatu yang Ia bergantung kepadanya. Apakah Ia berharap kepada bintang, matahari, pohon, batu, bahkan manusia. Dalam hak azasi manusia ini tidak masalah, karena keyakinan itu hak mutlak bagi siapa saja. Pada prakteknya misalnya ada manusia yang menggantungkan harapannya kepada pohon, namun harapan itu tidak kian terwujud. Hal ini akan menyebabkan berkurangnya kepercayaannya kepada pohon tersebut. Sehingga Ia harus mencari tempat bergantung yang lain tanpa meninggalkan keyakinan yang awal, misalnya saja matahari.  Secara logis jika pohon dan matahari yang dijadikan tempat bergantung ini disatukan akan menjadi double power. Tidak perlu menghilangkan kepercayaan yang diawal, tapi mencampur ke sesuatu yang lain untuk menggantungkan harapannya dan tentu semakin banyak sesuatu itu semakin sempurna untuk dijadikan tempat bergantung. Namun, ada manusia yang ketika keyakinan diawal terhadap sesuatu itu luntur karena sesuatu yang lain, Ia meninggalkan yang lama dan beralih ke yang baru. Jika ada sesuatu yang baru lebih hebat daripada yang lama, untuk apa tetap mempertahankan yang lama. Dalam pemikirin ini, apabila keduanya disatukan maka akan menimbulkan cekcok diantara mereka. Mana yang paling kuat, mana yang paling hebat kesana saja Ia menggantungkan harapannya. Pada kaum-kaum primitif mereka lebih panatisme terhadap dokrin awal yang telah merasuki diri mereka, sehingga walau harapan yang digantungkannya terhadap sesuatu itu tidak terwujud tidak mengganggu keyakinannya. 
            Paham (isme) tidak memiliki perintah dan larangan. Tidak ada perintah dan larangan yang dibuat oleh sesuatu yang menjadi tempat bergantung. Menggantungkan harapan terhadap pohon, tapi tidak perlu menjalankan perintah dan larangan dari pohon tersebut. Karena tidak ada perintah dan larangan yang dibuat oleh pohon. Sebagai contoh paham yang ada yaitu monotisme dan politeisme. Paham seperti monotisme atau politeisme berbeda dengan trinitas atau politeisitas. Paham terhadap yang satu (monotisme) tidak mengharuskan untuk mengikuti aturannya. Tidak ada kegiatan peribadatan pada monotisme atau politeisme. Pada kepercayaan yang trinitas baru ada aktivitas yang dijalankan. Tidak sekedar percaya, tapi juga menjaga kepercayaan dengan menjalankan sesuatu aktivitas. Trinitas merupakan satu kesatuan yang padu. Seolah kelihatan satu padahal tidak. Seperti ada pembungkus yang membuat isinya menyatu atau bercampur. Bisa kita sebut tiga dalam satu, empat dalam satu, dan seterusnya begitu. Tidak sama dengan politeisme yang merupakan sesuatu yang berbeda-beda/terpisah. Ada dua karakteristik atau lebih yang berbeda. Trinitas atau Politeisitas sama dengan penggunaan kata wahid, yang menunjukkan satu tetapi tidak esa. Seperti contoh : satu rumah yang terdiri banyak komponen sebagai penyusun rumah, baik yang menyangkut isi rumah, pernak-pernik yang melengkapi rumah, dan bahan-bahan untuk membuat rumah itu sendiri.
In God We Trust merupakan pemenuhan hasrat rohani manusia selain daripada memenuhi kebutuhan fisiknya saja. Pemahaman manusia sampai pada saat ini juga menuntut untuk mencapai kebutuhan rohani dengan sempurna, karena kebutuhan fisik terbatas pada kebahagian yang semu saja sementara kebutuhan rohani akan menghantarkan manusia pada kebahagiaan yang hakiki. Baik itu kepercayaan yang monotisme, trinitas, ataupun politeisitas sebagai sarana pemenuhan kebutuhan rohaninya. Akan tetapi, pemenuhan ini tidak akan tercapai jika berlandaskan pada suatu pemikiran yang dibuat-buat, tidak berlandaskan pada wahyu. Kepercayaan yang dibuat-buat, aturan yang dibuat-buat, perintah yang dibuat-buat yang tidak berdasarkan pada wahyu akan menghancurkan kebahagiaan yang hakiki itu sendiri dan menimbulkan banyangan yang semu terhadap keyakinan yang membawa kepada kepastian dan ke-hakiki-an.
Islam menghilangkan trinitas, politeisme, monotisme, politeisitas, dan apapun juga selain sesuatu yang Esa. Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk beribadah kepada Allah SWT yang semua makhluk bergantung kepadanya. Ke-Esa-an Allah SWT tidak dipengaruhi oleh zat yang lainnya. Pada paham-paham/atau praktek-praktek ibadah yang muncul dikalangan masyarakat merupakan olahan dari imajinasinya sendiri. Sehingga, Islam memberikan sebuah petunjuk yang ketika manusia berpegang teguh kepadanya, maka Ia akan selamat baik di kehidupan dunia maupun akhirat yaitu Alqur’an dan Hadist. Begitu cintanya Allah SWT kepada manusia melebihi cintanya ibu kepada anaknya, maka memberikan sebuah petunjuk kepada manusia agar tidak tersesat. Ada ukuran nilai aktivitas baik yang diperintahkan ataupun yang dilarang. Jika kita pikirkan, tidak pantas kita sebagai makhluk yang diciptakannya mencari tuhan-tuhan yang lain. 
Keselamatan didasarkan pada dua rambu, yaitu perintah (amar) dan larangan (munkar). Jika ingin selamat maka laksanakan perintah dan meninggalkan larangan. Sebab Setan juga percaya akan Allah SWT, namun Ia tidak mematuhi perintah sehingga harus memasuki lembah kehancuran. Untuk menjalankan perintah dan meninggalkan larangan, perlu penyerahan diri secara total. Penyerahan diri secara penuh berarti 100 % keyakinan yang murni tanpa adanya campuran terhadap keyakinan tersebut.
Dalam Al Qur’an Surat Al Baqarah (2) : 208, Allah SWT mengatakan ;
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”.
Masuklah Islam secara keseluruhan jika direalisasikan dengan persen adalah 100. Sehingga masuk islam yang tidak 100 % maka tidak masuk kedalam islam secara keseluruhan. Contoh dalam persen berarti jika 90 % islam, maka 10 % ke sesuatu yang lain. Jika 70 % islam, maka 30 % ke sesuatu yang lain. Al qur’an menyebutkan manusia yang lalai selain daripada AllaH SWT, maka Ia telah membuat tandingan-tandingan untuk Allah SWT. Sesuatu apapun itu yang membuat lalai dari Allah SWT, maka itu adalah tuhan-tuhan tandingan Allah SWT. Ya, mungkin kita akan berkata selama masih lebih dari 50 % keislaman kita kan tidak apa-apa. Itu kan belum melewati quota keimanan sebagai manusia biasa. Gula pun akan terasa asin jika 40 % adalah garam. Sisa persen dari selain Allah SWT merupakan perusak dari yang lainnya. Itulah sebabnya Islam memerintahkan kepada manusia untuk secara kaffah bertawakal kepada Allah SWT agar tidak merusak.
Dan kepada Allah saja hendaknya kalian bertawakal, jika kalian benar-benar beriman.” (QS. Al-Ma’idah: 23)
            Ada sebuah cerita, katakan sajalah ada sebuah ikatan/organisasi yang menamai dirinya A yang berada di sebuah Universitas U. Kemudian datanglah Seorang pemuda (sebut saja B), yang berasal dari sebuah pedesaan yang jauh terpencil dari perkotaan dengan berbagai tata krama yang masih terjaga dengan baik masuk ke perguruan tinggi U. Dengan keluguhan yang dimilikinya, melihat A yang sedang mempromosikan ikatannya dengan jiwa yang berkobar seperti api yang melalap habis sepucuk kertas. Bertopangkan pada misi yang mulia untuk menegakkan amar ma’ruf dan nahi munkar, maka ikutlah terbujuk si B untuk masuk bergabung dengan A. Si B pun merasa bangga ketika bergabung dengan A, dengan harapan akan bersama-sama berjalan untuk menegakkan islam dikalangan kampus, mempertahankan keidealan sebagai manusia yang berakhlak secara bersama-sama tentu akan lebih kuat, melihat begitu banyak debu-debu yang dapat mengotorinya, dan ingin meningkatkan kualitas diri sebagai hamba yang pantas untuk memasuki surga Allah SWT. Berbagai kegiatan si B ikuti dan berbagai sifat manusia yang Ia lihat. Ketika ada seorang dari ikatan tersebut memperoleh dana proposal dan si B ikut dengannya, dengan gampang seorang itu mengajak makan si B di Kantin. Dan si B pun bertanya, mengapa kita memakai uang A, ini kan bukan hak kita. Seorang itupun langsung menjawab, kita mengambil dana ini kan pakai perjuangan juga, uang ini untuk dakwah kita, dan kita kan pakai kendaraan yang memerlukan biaya operasional. Jadi, sudah semestinya kita mengambil sebagian uang karena Islam juga tidak melarangnya. Si B pun terpengaruh dengan perkataannya, sehingga setiap mengambil proposal ada upahnya. Si B semakin lama semakin terbiasa dengan hal tersebut, malah jika tidak ada upah akan merasa dirugikan. Tak lama kemudian pun, ada suatu hari mereka harus berkumpul dalam suatu tempat untuk merapatkan kegiatan yang akan dilaksanakan. Sepintas waktu itu si B melihat ada yang meminum minuman milik orang lain tanpa izin, spontan si B menegurnya. Tapi Ia mengatakan bahwa minuman yang dimiliki orang lain itu adalah milik bersama, milik umat. Dengan berdalih bahwa kita akan semakin kuat jika kita bersama-sama, termasuk dalam makanan dan minuman. Pada puncaknya si B melihat ada berbagai kebohongan-kebohongan yang mengatasnamakan islam, menyuruh orang sholat pada waktunya tapi Ia jarang tepat waktu sholatnya, menyuruh berinfaq tapi Ia pun sulit mengeluarkan uang dari kantongnnya. Ini merupakan kebohongan yang dikemas dengan begitu cantiknya dengan mengatasnamakan islam sebagai landasannya. Meletakkan Al Qur’an diujung tombak untuk membunuh orang lain. Kita tentu terheran ketika akhlak seseorang itu semakin bobrok ketika masuk dalam sebuah organisasi/ikatan, semakin materialistik, menambah sedikit teman tapi memperbanyak musuhnya. Meremehkan tipu daya setan lama-kelamaan juga akan terperangkap dalam jurang yang terlihat indah, biasa, dan tak berbahaya.

            Dalam kehidupan ini kita sering terperdaya oleh setan. Sebenarnya wajar jika kita juga disebut dengan setan dari golongan manusia, namun kita menolak dengan keras julukan itu karena pada kenyataannya kita tidak menyadari bahwa kita telah mencampur keislaman kita dengan membuat tandingan-tandingan dengannya. Tidak hanya sekedar 3 dalam satu (Trinitas), tetapi sudah Politeisitas. Mencapurkan yang hak dengan yang bathil padahal sudah jelas diantara keduanya. Seolah-olah kita sudah menyerahkan diri masuk islam secara kaffah, namun kita mencampurnya dengan yang lain dan setan pun memperlihatkan kepada kita seolah-olah kita sudah total islamnya. Jangalah mengikuti langkah-langkah setan, apabila tidak ingin terperangkap oleh jebakannya. Setan suka dengan perpecahan, mengaduh domba diantara manusia. Tidak selayaknya kita memusihi saudara-saudara kita sesama muslim dan menjadikan setan sebagai teman. Siapakah diantara kita yang hari ini melihat keislaman seseorang dengan kaffah ?. Takut kepada hilangnya jabatan, kepada senior, mencintai tontonan TV yang merusak, memanjakan diri dengan kemalasan yang berkepanjangan, dan sebagainya tapi juga mempercayai Allah SWT sebagai pelindung dan penyelamat seolah-olah kita berada pada naungan dan rahmatnya. Inilah Politeisme yang mencampur berbagai zat-zat tetapi menamakannya sebagai Islam. Membuat madu tetapi mencampurnya dengan gula merah, dan air tapi tetap saja menyebutnya madu. Praktek Politeisme mungkin sudah menyebar di berbagai kalangan. Ya, jika 80 % madu dan 20 % air dan gula merah masih terasa di mulut sebagai madu karena lebih dominan madu daripada yang lain. Tapi bagaimana jika 49 % madu dan 51 % air, gula merah, tepung, minyak, dan santan ?. Maka tetaplah kita selalu waspada pada jebakan setan yang menyesatkan baik dalam bentuk manusia ataupun jin.        

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel