Skip to main content

Yuk Baca Pengertian Pendidikan

Sebelum dijelaskan lebih lanjut apa yang dimaksud dengan pendidikan, terlebih dahulu perlu kiranya diterangkan dua istilah yang hampir sama dan selalu dijumpai dalam praktek pelaksanaan pendidikan, secara etimologi, yakni; paedagogie dan paedagogiek.

Paedagogiek berasal dari bahasa Yunani yaitu paedagogia, terdiri dari kata paedos yang artinya anak, dan agoge yang artinya memimpin, (Purwanto, 2000). Paedagogiek dapat diartikan pergaulan dengan anak-anak. Paedagogiek atau ilmu pendidikan ialah ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik. Paedagogie artinya adalah pendidikan.

Pada zaman Yunani kuno ada yang disebut paedagogos ialah seorang pelayan yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah. Dan di rumahnya, juga anak-anak tersebut selalu dalam pengawasan, penjagaan, dan pembimbingan dari paedagogos tersebut, sehingga paedagogos lebih mengerti dan lebih memahami anak; tentang kemampuan, bakat, sifat, dan minatnya, dan juga tentang hal-hal yang ia senangi dan tidak ia senangi. Karena pemahaman tentang anak, maka paedagogos dapat dengan mudah mempengaruhi anak itu dan mudah mengarahkannya. Perkataan paedagogos yang mulanya adalah rendah (pelayan), tetapi sekarang dipakai untuk pekerjaan yang mulia. Dapat dikatakan bahwa paedagogie adalah pendidikan, paedagogiek adalah ilmu pendidikan, sedangkan paedagogoog adalah pendidik atau ahli didik yakni seseorang yang tugasnya membimbing anak dalam pertumbuhannya agar dapat berdiri sendiri (Purwanto, 2000).

Menurut bahasa Belanda, pendidikan berasal dari kata Ofvooden yang artinya memberi makan. Menurut pemahaman mereka sesuatu yang diberi makan akan tumbuh dan berkembang, selain makanan jasmani, rohani juga perlu makan agar berkembang dan ada peningkatan. Makanan rohani diberi berupa pendidikan dan pengajaran, berupa pemberian pengetahuan, latihan, dan pemberian pengalaman.

Dalam bahasa inggris, pendidikan adalah Edication yang artinya the process of training and developping the knowledge, skill, mind, character, etc., by formal schooling; teaching; training. (Neufeldt and Guralnik, 1996). Pengertian ini menekankan bahwa pendidikan tidak hanya mencakup nalar atau intelektual saja, melainkan mencakup pengembangan moral atau kepribadian, karakter atau sikap anak yang meliputi berbagai kecerdasan yang dapat dikembangkan dalam kehidupan anak sebagai manusia. Dalam pengembangan diri anak sebagai manusia dalam kegiatan terjadi interaksi dengan lingkungannya yang berlangsung secara formal.

Menurut bahasa Jerman, pendidikan berasal dari kata Ziechung; artinya membawa keluar. Sedangkan menurut bahasa Romawi kuno pendidikan ialah educare; artinya menarik keluar. Apa yang dibawa keluar dan apa yang ditarik keluar ? Menurut kedua pengertian ini setiap orang atau individu memiliki potensi yang dibawa sejak lahir, yang dapat dikembangkan. Potensi ini masih tersimpan dan belum berkembang. Tugas pendidikan adalah menarik keluar, membawa keluar potensi-potensi yang dimiliki anak, yang berarti membina dan mengembangkannya sehingga menjadi realita atau kenyataan, suatu realita yang terminifestasi dalam wujud-wujud keberhasilan pendidikan. Tugas pendidik dalam pendidikan adalah membimbing, memimpin dan mengarahkan anak didik (peserta didik) dalam pertumbuhannya agar menjadi manusia yang dapat berdiri sendiri atas tanggung jawab sendiri. Kegiatan pendidikan, yang dilaksanakan melalui hubungan pendidikan antara pendidik dan peserta didik, merupakan upaya yang istimewa dan unik. Istimewa karena dengan pendidikanlah (individu-individu) manusia dipersiapkan untuk menjalani kehidupannya, dibukakan jalan untuk memperkembangkan kehidupannya, serta diarahkan dan dimungkinkan untuk mencapai tujuan hidupnya. Unik karena mengandung ciri-ciri yang khas yang tidak terdapat pada kegiatan-kegiatan yang lain dan sifatnya selalu situasional dan kontekstual (Prayitno, 2002)

Pendidikan haruslah berorientasi kepada pengenalan realitas diri manusia dan dirinya sendiri, pengenalan itu tidak cukup hanya bersifat objektif atau subjektif, tatapi harus kedua-duanya. Freire (2004) menyatakan pendidikan untuk pembebasan, bukan untuk penguasaan (dominasi), pendidikan harus menjadi proses pemerdekaan, bukan penjinakan sosial budaya (social and cultural domestication). Pendidikan bertujuan menggarap realitas manusia dan karena itu, secara metodologis bertumpu di atas prinsip-prinsip aksi dan refleksi total, yakni bertindak untuk merubah kenyataan yang menindas dan pada sisi simultan lainnya secara terus menerus menumbuhkan kesadaran akan realitas dan hasrat untuk merubah kenyataan yang menindas tersebut.

Pendidikan dapat diartikan sebagai proses kegiatan mengubah prilaku individu ke arah kedewasaan dan kematangan. Arti kedewasaan dalam konotasi ini sangat luas tidak terbatas hanya pada usia kalender, melainkan lebih menekankan pada mental-spiritual, sikap nalar, baik intelektual maupun emosional, sosial dan spiritual. Bobot kedewasaan ini akan terungkap dalam kematangannya dalam berpikir, berucap, berprilaku dan membuat keputusan. Sudah barang tentu bahwa kedewasaan yang dimiliki seseorang merupakan hasil dari kinerja dalam arti yang seluas-luasnya, pendidikan yang tidak hanya terbatas pada pendidikan persekolahan (pendidikan formal).

Pendidikan merupakan pemberdayaan seumber daya manusia. Makna pendidikan adalah memberikan kebebasan kepada seseorang untuk mengembangkan dirinya sendiri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Kekakuan harus ditembus dengan memberikan kebebasan pada peserta didik. Namun kebebasan yang dilakukan bukan kebebasan yang bertanggungjawab. Untuk lebih jelas menghayati peranan pendidikan memberdayakan sumber daya manusia, perlu dijelaskan dulu apa yang dimaksud dengan pemberdayaan (empowerment). Berikut ini adalah penjelasan dari Jan Carizon (dalam Nursid Sumaatmadja, 2002: 79) tentang pengertian empowerment: “Empowerment adalah pembebasan seseorang dari kendali yang kaku... dan memberikan orang tersebut kebebasan untuk bertanggungjawab terhadap ide-idenya, dan keputusan-keputusannya, rindakan-tindakannya. Kata kunci dalam pengertian pemberdayaan itu adalah pembebasan. Dalam aktivitas pemberdayaan diarahkan untuk memberikan kebebasan kepada seseorang, memiliki tanggung jawab pengembangan pribadi yang meliputi kemampuan berpikir, melakukan tindakan, mengembangkan gagasan, bersikap, sampai pada membuat keputusan. Untuk menmbus kekakuan yang mungkin selama ini banyak mempengaruhi pelaksanaan pendidikan kita harus ditembus dengan pelaksanaan memberdayakan peserta didik melalui kebebasan yang bertanggungjawab.

Proses pemberdayaan, selanjutnya harus didasarkan pada kasih sayang. Sumber daya manusia (SDM) yang telah memilki pemberdayaan tidak lepas dari manusia lainnya, selalu dijalin interaksi sosial dengan sesamnya dalam suasana kasih sayang. Tidak ada manusia jenius yang bekerja sendirian, selalu membutuhkan dan dibutuhkan manusia lainnya. Dalam suasana yang demikian, indivisu terhadap indivisu lainnya dapat saling memberdayakan.

Dalam proses pemberdayaan, peserta didik dididik dan dibimbing menjadi SDM yang memiliki visi, berpijak di atas realita, selalu berhadapan dengan orang lain, dan sebagai orang yang berani. Sarah Cook & Steve Macaulay (dalam Nursid Sumaatmadja, 2002: 80) menjelaskan ada empat dimensi, yaitu visi, realita, orang (manusia lain), dan keberanian. Keempat dimensi ini harus dimiliki oleh orang atau kepemimpinan yang ber-empowerment. Dalam proses pemberdayaan diri, terutama peserta didik, harus berlandaskan pada realita, kehidupan yang sedang dihadapi penuh dengan persaingan atau kompetisi, tantangan, perbedaan, hambatan, gangguan, ancaman, bahkan juga sangat berisiko, itulah realita yang sesungguhnya dihadapi. Maka, melalui proses permberdayaan peserta didik harus benar-benar terbuka matanya untuk mampu menghayati realita kehidupan saat ini, dan terutama di masa yang akan datang merupakan arena yang harus dihadapi dan diperangi, karena masa di depan akan semakin berat dan semakin berisiko tinggi sesuai dengan tuntutan dan tantangan perkembangan jaman. Suasana realita kehidupan masa kini dan masa yang akan datang menuntut dalam proses pemberdayaan sumber daya manusia terbentuk sifat dan sikap jujur, perwira, kesatria, dan berani terutama pada diri peserta didik, tidak ada tempatnya pada hari-hari mendatang sudah pasti akan penuh dengan berbagai masalah, karena itu maka, dalam proses pemberdayaan ini, visi peserta didik harus semakin dipertajam, harus memiliki visi atau wawasan yang luas ke depan, guna dapat mengantisipasi dan menghadapi realita hidup seburuk apapun. Dalam mengantisipasi dan menghadapi realita hidup dengan berbagai persoalan atau masalah yang mungkin juga penuh resiko tidak akan berhasil bila dihadapi sendiri-sendiri tanpa kerja sama dengan orang atau pihak lainnya. Adanya orang lain di sekitar kita memiliki makna sosial yang harus diberdayakan. Sebagai makhluk sosial yang selalu berhubungan dan membutuhkan serta dibutuhkan orang lain sudah barang tentu tidak dapat meremehkan keberadaan orang lain. Gagasan, pemikiran, bantuan, pendapat orang di diri kita akan dapat memecahkan kekakuan, kesunyian, kekawatiran, dan keresahan. Keberadaan orang di sekitar kita, dapat meningkatkan keberdayaan hidup dalam suasana saling ketergantungan terutama dalam kehidupan yang penuh masalah, yang menuntut pemecahan ke arah kesejahteraan bersama.

Ketakberdayaan individu dan atau kelompok yang terjadi oleh karena kebodohan, kemiskinan, perbudakan, dan harga diri (rendah diri), harus ditembus melalui pendidikan sebagai perekayasaan manusia yang kegiatannya diarahkan pada pengembangan kreativitas, sadar IPTEK, setia kawan, dan modern. Melalui pendidikan, kualitas SDM makin ditingkatkan untuk menghadapi dan memasuki abad XXI yang penuh dengan tantangan. Pendidikan sebagai perekayasaan manusia, tidak seperti perekayasaan non manusia yang sifatnya mekanistik, melainkan harus menembus serta menukik lebih mendalam mengenai nalar intelektual, emosional, sosial dan spiritualnya. Manusia tidak hanya dididik dan dibina kualitas fisik atau biologisnya saja, melainkan juga kesadaran penghayatan masyarakat dan budaya, sampai pada tingkat religius yang meningkat kualitas akhlaknya. Pendidikan sebagai proses pemberdayaan, pembebasan, dan rekayasa, menjadi pengokoh kehidupan manusia sebagai sumber daya saat ini, terutama di hari-hari mendatang dalam melayani manusia sendiri yang kualitatif berkembang aspirasinya, dan secara kuantitatif terus tumbuh jumlahnya. Dalam hal ini, pendidikan sebagai proses kegiatan, bukan hanya berperan strategis memberdayakan manusia, melainkan secara metodologis-praktis harus memberdayakan dirinya dengan kajian-kajian yang berkualitas sesuai dengan pengembangan nalar inteletual, emosional, sosial, dan spiritual yang menjadi tuntutan dewasa ini.


Tim Pengajar
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar