Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Hipotesis Dalam Metodologi Penelitian

Pengertian Hipotesis Penelitian

Tinjauan pustaka memuat uraian atau pembahasan teoritik yang akan menjadi landasan dalam penyusunan kerangka pikir untuk merumuskan hipotesis penelitian. Pada tinjauan pustaka, peneliti membahas teori-teori yang relevan dengan masalah yang akan dijawab dalam suatu penelitian. Pembahasannya dapat berupa pembahasan konseptual mengenai variabel serta keterkaitan teoritik antara variabel-variabel penelitian. Pembahasan ini dapat menggunakan pendekatan deduktif dan dapat pula menggunakan pendekatan induktif. Dalam pendekatan induktif pembahasan teoritik juga didukung oleh hasil-hasil penelitian yang relevan.
Berdasarkan pemikiran tersebut jelas bahwa hipotesis penelitian tidak ditentukan secara asal-asalan, tetapi berdasarkan atas teori, kerangka pikir, dan fakta komparasi yang cukup kuat, sehingga secraa teoritik telah mempunyai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Jadi, hipotesis adalah hasil dari tinjauan pustaka atau proses rasional dari penelitian yang telah mempunyai kebenaran secara teoritik. Namun demikian kebenaran hipotesis masih harus diuji secara empirik. Oleh karena itu, hipotesis juga dianggap sebagai jawaban sementara terhadap masalah yang telah durumuskan dalam suatu penelitian dan masih perlu diuji kebenarannya dengan menggunakan data empirik.

Trelease (1960) memberikan definisi hipotesis sebagai “suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati” ; sedangkan Good dan Scates (1954) menyatakan bahwa “hipotesis adalah sebuah taksiran atau referensi yang dirumuskan dan diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta yang dapat diamati, dan digunakan sebagai petunjuk untuk langkah penelitian selanjutnya” (Nazir, 1985)

Dalam pengujian hipotesis yang akan diuji adalah apakah hipotesis benar adanya, yaitu sesuai dengan fakta yang ada di populasi. Dalam hubungan ini, hipotesis dipandang sebagai pernyataan tentang karakteristik populasi yang akan diuji kebenarannya bedasarkan data sampel. Oleh karena itu, hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan yang merupakan jawaban sementara terhadapa masalah inferensial yang telah dirumuskan, dan pernyataan tersebut merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi yang akan diuji melalui pengujian hipotesis secara statistik dengan menggunakan data empirik yang diperoleh dari sampel. Karena pengujian hipotesis dilakukan secara statistik, maka rumusan hipotesis dalam bentuk pernyataan tersebut biasanya dilengkapi dengan rumusan statistik. Misalnya “ada hubungan positif antara motivasi belajar dengan Prestasi belajar atau “ makin tinggi motivasi belajar, maka prestasi belajar yang dicapai juga makin tinggi. Penyataan hipotesis ini sebaiknya dilengkapi dengan rumusan statistik yang berbunyi sebagai berikut :

H1 : p = 0     Versus    H0 : p = 0

Atau hipotesis mengenai perbedaan mislanya “terdapat perbedaan rata-rata, preatsi belajar metematika antara siswa yang diajar dengan metode ceramah dan siswa yang diajar dengan metode diskusi” ; pernyataan hipotesis ini sebaiknya dilengkapi dengan rumus statistik yang berbunyi sebagai berikut :

Hi : p = 0    versus    Ho : p = 0


Perlu pula dijelaskan bahwa dalam pengujian hipotesis secara statistik yang diuji adalah Ho (hipotesis nol) yang merupakan nagasi atau ingkaran dari hipotesis penelitian (H1 = hipotesis alternatif). Karena distribusi statistik yang tersedia adalah distribusi untuk menguji hipotesis nol.

Ciri-Ciri Hipotesis

Hipotesis yang baik mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1.      Hasil dari proses teoritik dan komparasi fakta yang andal, dan sevara teoritik dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
2.      Merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi.
3.      Jawaban sementara yang masih perlu diuji kebenarannya dengan menggunakan data empirik yang diperoleh dari sampel.
4.      Hipotesis harus menyatakan hubungan atau perbedaan.
5.      Hipotesis harus dapat diuji.
6.      Hipotesis harus spesifik dan sederhana.

Teknik Perumusan Hipotesis Secara Statistik

Hipotesis adalah suatu pernyataan tentang karakteristik populasi yang merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang telah dirumuskan dalam suatu penelitian. Hipotesis merupakan hasil penelaahan teoritik (melalui proses rasional) baik dengan penalaran deduktif maupun penalaran induktif. Namun demikian kebnaran suatu hipotesis masih harus diuji dengan menggunakan data empirik yang diperoleh dari sampel. Pengajuan hipotesis tersebut dilakukan dengan menggunakan teknik-teknik statistik.

Untuk kepentingan pengujian hipotesis secara statistik, kita selalu merumuskan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif H1. H1 adalah hipotesis penelitian, sedang H0 adalah ingkaran negasi dari H1 yang akan diuji secara statistik. Jadi dalam pengujian hipotesis yang diuji adalah         H0, sedangkan kesimpulan mengenai H1 adalah konsekuensi logis dari hasil pengujian H0. Artinya jika H0 ditolak maka H1 diterima, sebaliknya jika H0 diterima maka H1 ditolak.

Rumusan hipotesis untuk keperluan pengujian dengan menggunakan teknik-teknik statistik dibedakan atas tiga, yaitu (1) hipotesis tidak langsung, (2) hipotesis langsung positif. dan (3) hipotesis langsung negatif.

1. Hipotesis tidak langsung

Untuk menguji hipotesis tidak langsung digunakan uji dua pihak, yaitu pihak kanan dan ½ pihak kiri sebagai daerah penolakan.

Contoh :
“Ada hubungan antara pendidikan ibu dengan tingkat kematian bayi”

Secara statistik hipotesis ini dirumuskan :

H1 : p = 0          Versus              H0 : p ≠ 0

Jika nilai mutlak koefesien hubungannya cukup besar sehingga masuk pada daerah penolakan kiri, maka H0 akan ditolak, dan kita berkesimpulan bahwa hubungannya signifikan atau ada hubungan pada populasi.

2. Hipotesis langsung positif

Untuk menguji hipotesis langsung positif digunakan uji satu pihak kanan dengan daerah penolakan sebesar terletak di sebelah kanan.

Contoh :
“Ada hubungan positif antara tingkat pendidikan ibu dengan status gizi anak balita”. atau “ Makin tinggi pendidikan ibu, maka status gizi anak balita juga makin baik”. Secara statistik hipotesis ini dirumuskan :

H1 : p > 0         Versus              H0 : p ≤ 0

H0 akan ditolak jika koefisien hubungannya positif dan cukup besar sehingga masuk pada daerah penolakan.

3. Hipotesis langsung negatif

Untuk menguji hipotesis langsung negatif digunakan uji satu pihak kiri, dengan daerah penolakan sebesar terletak di sebelah kiri.

Contoh :
“Ada hubungan negatif antara jumlah anak dengan status gizi” atau “Makin banyak anak, maka status gizinya akan makin rendah”. Secara statistik hipotesis ini dirumuskan :

H1 : p < 0         Versus              H0 : p ≥ 0

H0 akan ditolak jika koefisien hubungannya negatif dan nilai mutlaknya cukup besar sehingga masuk pada daerah penolakan.

Effi Aswita dan Thamrin