Skip to main content

Transaksi Riba pada Bank Syariah, Oleh Sihir Uang Kertas

Permasalahan Riba sungguh suatu hal yang delematis. Hampir semua aktivitas perniagaan ada tersangkut dengan yang namanya Riba. Saat ini, bisa dikatakan sangat sulit untuk menghindar dari arus Riba tersebut. Mengapa ini bisa terjadi? Ironinya banyak kaum muslimin yang belum menyadari bahwa dirinya terkena sihir. Sihir yang hari ini menyerang yang telah membuat sebuah sistem yang kuat dan kokoh. Apakah sihir itu? Sihirnya terletak pada uang kertas yang dipergunakan dalam aktivitas transaksi jual beli. Kenapa disebut dengan sihir? Sebab menjadikan kertas menjadi sesuatu yang bernilai dan menjadi alat tukar, bukankah ini sihir? Masyarakat pun terbutakan matanya, sehingga melihat sesosok kertas yang dasarnya hanyalah sebuah kertas, kini menjadi bernilai dan menjadi barang rebutan.

Beginilah akibat hidup dalam dekapan sihir, yang pada akhirnya membuat derita didalam kantong dan menabur luka didalam jerih payah. Fakta-fakta tersebut sudah nampak dihadapan mata. Dalam kurun waktu 50 tahunan. Sihir uang kertas mulai memudar dan mulai menampakkan wujud aslinya hari ini. Masyarakat yang menyimpannya semakin lama semakin miskin, sementara menyimpan harta yang lain tidak seperti yang dialami uang kertas. Mengapa bisa beda? Apakah uang kertas bukan harta? Mengapa setiap hari nilainya terus tergerus menurun, sehingga pemegangnya melongo ketika menyaksikan harga-harga semakin melambung tinggi.

Oleh sebab itu, untuk menuntaskan perbincangan terkait Riba dalam bentuk traksaksi apapun. Haruslah menuntaskan terlebih dahulu permasalahan-permasalahan yang ditimbulkan didalam uang kertas, yang disebut sebagai Sihir. Menelisik tentang kajian tersebut, memang dikarenakan masih dipercayanya uang kertas, sehingga ia akan terus dijadikan sebagai alat untuk bertransaksi di segala produk/jasa.

Bagaimana jika sihir uang kertas tidak dituntaskan? Baiklah jika demikian, mari melihat bagaimana transaksi yang dikatakan syariah itu? Apakah bank syariah sudah benar-benar syariah?

Menurut Yusuf Al-Qardawi, setiap pinjaman yang mensyaratkan didalamnya tambahan adalah Riba. Dalam Riba itu sendiri, ada jenis-jenisnya;

1. Riba Nasi’ah. Riba ini muncul disebabkan karena ada penangguhan atau penundaan.
2. Riba Fadhl. Riba ini muncul disebabkan adanya tambahan atau kelebihan.

Contoh Riba Nasi’ah, yaitu ada orang beli lembu 1 ekor, dengan harga hari ini 10 juta. Sementara pembayaran 2 bulan kemudian, sehingga harga yang dibayar tidak lagi 10 juta, tapi 11 juta.

Contoh Riba Fadhl, yaitu orang membeli emas 1 dinar, tapi dibayar dengan 1,2 dinar.

Salah satu contoh bahwa transaksi syariah yang terjadi pada Bank Syariah, yang membedakan dengan Bank Konvensional terletak pada Akadnya, sebagai sesuatu jual beli, bukan pinjam meminjam uang. Pada dasarnya pihak bank membeli terlebih dahulu kemudian dijual kembali kepada nasabah dengan harga yang berbeda. Tentunya dengan harga yang lebih tinggi, dibanding ketika pihak bank membeli diawal.

Jika dihitung-hitung juga, harganya menjadi tinggi seperti halnya jika meminjam di bank konvensional yang memakai bunga. Akan tetapi di bank syariah sifatnya jual beli, dan sah-sah saja jika mengambil keuntungan dari transaksi jual beli tersebut.

Didalam jual beli tidak dilarang jika mengambil keuntungan. Namun, harus diperhatikan juga, apakah jual beli itu termasuk kepada Riba? Nah.... pertanyaannya apakah bank syariah dalam jual beli tidak mengandung Riba? Dari data beberapa bank syariah yang menerapkan sistem syariah, ternyata masih mengandung Riba dalam transaksi jual belinya.

Mari, bersama mencerna analogi berikut ini:

Pemuda dan Praja ingin membeli rumah pada komplek perumahan yang sama dengan ukuran 36. Dan kemudian mereka memutuskan untuk meminjam uang di bank syariah. Karena bank menerapkan sistem syariah maka berlakulah jual beli diantara bank dengan Pemuda dan Praja. Akan tetapi, Pemuda dan Praja berbeda waktu dalam pelunasan terhadap rumah yang dibelinya. Untuk Pemuda akad dengan bank selama 10 tahun, sedangkan untuk Praja akad dengan bank selama 15 tahun. Dari total uang yang harus dibayar sampai pelunasan selama 10 tahun, yaitu Rp. 200.000.000,- dan untuk yang 15 tahun, yaitu Rp. 250.000.000,-.

Mari melihat, apakah jual beli diatas tidak Riba? Padahal inilah yang diterapkan beberapa bank yang ngakunya syariah. Semakin lama jangka waktunya, kok... harga terus naik! Padahal Rumah yang dibeli sama, tidak ada bedanya!. Hanya ada perbedaan waktu, sehingga harga juga berbeda. Inilah yang termasuk kedalam jenis Riba Nasi’ah dan itu juga masih diterapkan pada beberapa Bank Syariah. Rumah hanyalah dijadikan sebagai alat untuk menjalankan praktek-praktek Ribawi.

Baca juga: Apakah Bunga Bank Sama Dengan Riba?, Simak Jawabannya Berikut Ini!
Kembali lagi, ini permasalahan yang delematis. Mau maju, mundur, dan samping pasti akan kena juga. Maka yang haq tetap menjadi haq dan yang bathil tetaplah bathil, yang terus disampaikan kepada ummat. Namun, pada akhirnya dikembalikan kepada setiap individunya masing-masing, sebab Allah SWT itu tuhan yang penuh dengan ampunan, sehingga usaha/ikhtiar kitalah mencoba keluar daripada yang bathil dan semampunya melaksanakan yang haq.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar