Mengapa Harus Pacaran Sebelum Menikah?

Mengapa Harus Pacaran Sebelum Menikah?

Mengapa Harus Pacaran Sebelum Menikah?

Manusia sebagai mahkluk Tuhan yang paling sempurna memiliki fitrah yang sangat mulia. Manusia merupakan makhluk sosial yang membutuhkan hubungan dan komunikasi dengan manusia lain yang lebih luas yang disebut masyarakat. Hubungan-hubungan yang dibangun oleh manusia tentu memiliki gradasi dan tingkat kepekaan yang berbeda-beda. Perbedaan tingkat kepekaan dan kepedulian tersebut tentu dipengaruhi oleh perasaan yang menggerakkan manusia dalam bertindak. Perasaan tersebut adalah fitrah bagi manusia sebagai yang tidak diberikan oleh sang pencipta kepada ciptaannya yang lain. hal terpenting yang harus dilakukan oleh manusia adalah mengelola perasaan atau fitrah tersebut dengan baik, agar perasaan tersebut dapat membimbing manusia kepada kehidupan yang lebih baik. dalam hubungan dengan lawan jenis, manusia sendiri memiliki ketertarikan satu sama lain. ketertarikan tersebut tentu harus bermuara dan menemui satu titik, titik tersebutlah yang dinamai sebagai ketenangan dalam pernikahan. Namun, pernikahan tentu membutuhkan sebuah permulaan yang baik. hal tersebut sangat penting mengingat sakralnya posisi pernikahan dalam kehidupan.

Proses perencanaan pernikahan bisa dimulai dari apa saja, bisa perjodohan langsung dari orang tua, atau kebebasan yang diberikan untuk memilih pasangan sendiri. Hal tersebut sebenarnya hanyalah metode yang terseda untuk mencapai tujuan akhir, yaitu pernikahan. Akan tetapi, kita juga tidak bisa memungkiri banyaknya silang pendapat mengenai kedua metode tersebut. Perjodohan misalnya, kita semua mengetahui bahwa sejarah pernah mencatat sebuah karya yang sangat familiar dengan tema perjodohan, yaitu siti nurbaya. Sebagian orang berpendapat bahwa perjodohan itu adalah cara terbaik, salah satau manfaatnya adalah untuk mencegah perzinahan, walau harus mengenyampingkan naluri atau hak azasi. Orang-orang yang bersepakat dengan perjodohan biasanya meyakini bahwa cinta bisa datang belakangan setelah pernikahan berlangsung. Sedangakan metode yang kedua juga tak kalah kontroversialnya. Kebebasan memilih di identikkan dengan istilah pacaran, dan istilah pacaran juga selalu dikaitkan dengan kedekatan mendekati zina. Tentu kita harus mengurai apa yang dimaksud dengan konsep pacaran sebelum menghukuminya sebagai perbuatan mendekati zina atau maksiat. Ada beragam anggapan yang beragam jika kita ditanya mengenai konsep pacaran. Pacaran tentu bisa jadi merupakan pintu gerbang orang mendekati perzinahan, akan tetapi kita juga tidak boleh memungkiri bahwa pacaran juga bisa memberikan nilai-nilai kebaikan sebagai proses pra- pernikahan.

Tentu kita harus adil dalam menelaah permasalhan pacaran ini. Pacaran yang baik bisa saja terwujud, caranya adalah dengan mengetahui batasan-batasan yang telah ditetapkan berdasarkan hokum-hukum adat aupun agama. Setiap orang boleh berpacaran dengan tidak melanggar larangan-larangan yang telah ditetapkan untuk kemaslahatan bersama. Ini mungkin akan menjadi tugas yang sangat berat, mengingat kencangnya arus informasi di media massa mengenai sisi-sisi negative dari pacaran, serta doktrin untuk tidak melakukan kegiatan pacaran.

Segala sesuatu yangyang dilakukan manusia, tentu memiliki tujuan. Pacaran misalnya, andai saja setiap orang memahami atau setidaknya berupaya mencari tahu tentang tujuan mendasar yang menyebabkan seorang berpacaran, pastilah penghukuman atas pacaran tidak bisa langsung diterima. Setiap orang yang berpacaran dalam rangka mempersiapkan pernikahan tentulah harus didukung. Namun, kita perlu menggarisbawahi bahwa pacaran yang kita maksud disini adalah kegiatan untuk saling mengenali calon pasangan dan juga tidak melanggar ketetapan yang sudah diatur oleh adat dan agama. Sekali lagi, ini memang akan menjadi kerja yang sangat sulit mengingat stigma masyarakat ketika mendengar kata “pacaran” sudah terlampau akut. Oleh karena itu, kita hanya bisa menjelaskan konsep ini hanya kepada mereka-mereka yang masih mampu berpikir jernih dan rasional. Pacaran yang sesuai koridor tersebut akan dapat berfungsi dengan baik apabila kita bisa menerima konsep ini sebagai sebuah upaya untuk memulai suatu hubungan serius yang diawal dikatakanmenjadi cita-cita setiap manusia. pacaran berfungsi untuk mengetahui karakter dan segala sesuatu yang adala dalam pribadi-pribadi yang berkeinginan untuk mendapatkan pernikahan yang berkwalitas dan langgeng.

Jika setiap proses sudah dijalankan dengan baik, maka manfaat akan dapat dirasakan seabagai buah kesabaran. Manfaat tersebut tentu tidak didapat saat proses pacaran, melainkan pada hubungan yang sudah sah seabagai suami istri. Setiap orang yang menjalankan pacaran yang sehat dan baik, tentu akan mendapat manfaat yang baik pula dalam pernikahannya.
Buka Komentar