Akuntansi dalam Islam

Salah seorang penulis Barat mengungkapkan bahwa dengan runtuhnya Uni Soviet bersama ideologi Leninisme Komunisme, ideologi yang tinggal hanya kapitalisme dan Islam. Kemudian, penulis ini melanjutkan bahwa ternyata Islam memiliki tingkat compatibility yang sangat dekat dengan Islam. Di dalam buku Akuntansi Pengawasan dan Manajemen Dalam Perspektif lslam (Harahap, 1992), disimpulkan bahwa berdasarkan berbagai penelitian yang dilakukan di Barat, ternyata konsepsi Islam yang diturunkan kepada manusia oleh Allah Swt. melalui Rasulullah Saw. ternyata merupakan suatu sistem way of life yang utuh, sesuai dan tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan serta fenomena alam yang ada. Kenyataan ini dapat dilihat dari berbagai sudut dan disiplin ilmu seperti ilmu alam, astrologi, sosiologi, medical, psikologi, ekonomi, dan juga akuntansi.

Penelitian dan penulisan yang mengkaji akuntansi dalam Islam sudah mulai merebak, baik di Barat maupun di tanah air sendiri. Literatur yang membahas topik ini di tanah air dapat dilihat dalam buku Akuntansi Pengavasan dan Manajemen dalam Perspektif lslam (Harahap, 1992), Akuntansi Islam (Harahap, 1999), Organisasi dan Akuntansi Syariah (Triwiyono, 2000) dan sebagainya. Pembahasan akuntansi dalam Islam ini tidak mengada-ada dan tidak bersifat apologia, tetapi benar-benar dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan sumber referensinya yang sah. Akuntansi dalam Islam dapat kita lihat melalui pedoman suci umat Islam, Alquran sebagai berikut.  

Dalam Alquran Surat Al-Baqarah ayat 282 merupakan ayat terpanjang  dalam Alquran adalah sebagai berikut. 

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bermuamalah  tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Danjanganlah penulis enggan menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkannya, maka hendaklah ia menulis, dan hendaklah orang yang berhutang itu mengimlakkan apa yang ditulis itu, dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan janganlah ia mengurangi   sedikitpun daripada utangnya. Jika yang berutang itu orang yang    lemah akal atau lemah keadaannya atau dia sendiri tidak mampu   mengimlakkan, maka hendaklah wakilnya mengimlakkan dengan    jujur dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang laki laki di antara kamu. Jika tidak ada dua orang laki-laki maka bolehlah seorang laki-laki dan dua orangperempuan dari saksi yang kamu ridhoi, supayajika seorang lupa seorang lagi mengingatkannya. Janganlah saksi itu enggan memberi keterangan apabila mereka dipanggil, dan janganlah kamu jemu menuliskan utang itu, baik kecil mauPun besar sampai waktu membayarnya. Yang demikian itu lebih adil di sisi Allah dan lebih dapat menguatkan persaksian dan lebih dekat kepada tidak menimbulkan keraguan. (Tulislah muamalahmu itu) kecuali jika muamalahmu itu perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan persaksikanlah apabila kamu berjual-beli, dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan yang demikian itu maka sesungguhnya hal itu adalah kefasikan Pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah. Allah mengajarmu dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.
(Lihat Alquran dan Terjemahannya, YPPA, PT Bumi Restu).

Kemudian, dalam catatan kakinya, ”muamalah” diartikan seperti kegiatan berjual-beli, berutang-piutang, sewa-menyewa, dan sebagainya. Berutang-piutang tentu mempunyai pengertian yang luas dalam bisnis. Pendirian perusahaan oleh pemilik modal menyangkut utang-piutang antara dia dengan manajemennya. Pengelolaan harta pemilik modal oleh manajemen merupakan hubungan kerja sama, utang-piutang (atau agency relationship). Hubungan transaksi dagang maupun bentuk bisnis lainnya selalu mempunyai konteks utang-piutang, pinjaman kepada lembaga keuangan mempunyai hubungan utang-piutang. Oleh karena itu, setiap lembaga perusahaan sarat dengan kegiatan muamalah sebagaimana dimaksudkan ayat 282 tadi. Dengan demikian, dapat dipastikan bahwa pemeliharaan akuntansi wajib hukumnya dalam suatu perusahaan bahkan juga pribadi.

Dalam Islam selalu ditekankan jangan melakukan kecurangan dan menimbulkan kerugian kepada pihak lain. Ketentuan ini harus ditegakkan  dengan cara apa pun. Harus ada sistem yang dapat menjaga agar semua hak-hak stakeholders termasuk sosial dan pemerintah dijaga dan jangan sampai ada yang dirugikan dalam kontrak kerja sama apakah dalam bidang jual beli, mudharabah, atau musyarakah.

Prof. Dr. Hamka dalam tafsir Al-Azhar juz 3 tentang surat Al-Baqarah ayat 282 ini mengemukakan beberapa hal yang relevan dengan akuntansi sebagai berikut.

Perhatikanlah tujuan ayat! Yaitu kepada sekalian orang yang beriman kepada Allah supaya utang piutang iłu ditulis, itulah dia yang berbuat sesuatupekerjaan karena Allah, karenaperintah Allah dilaksanakan. Sebab iłu, tidaklah layak berbaik hati kepada kedua belah pihak lalu berkata tidak perlu dituliskan karena kita sudah percaya mempercayai. Padahal umur kedua belahpihak sama-sama ditangan Allah. Si Anu mati dałam berutang, tempat berutang menagihpada warisnya yang tinggal. Si waris bisa mengingkari utang iłu karena tidak ada surat perjanjian.

Beliau mengungkapkan secara jelas betapa wajibnya memelihara tulisan. Dan perintah inilah yang selalu diabaikan umał Islam sekarang ini. Bahkan yang lebih parah sudah sampai pada suatu situasi seolah-olah menuliskan transaksi seperti ini menunjukkan kekurangpercayaan satu sama lain, padahal ini merupakan perintah Allah Swt. kepada umatnya yang tentunya harus dipatuhi.

Buya Hamka melanjutkan lagi:

...dan apabila dibelakang hari perlu dipersaksikan lagi sudah ada hitam diatasputih tempat berpegang dan keragu-raguan hilang, sebab sampai sekecil-kecilnyapun dituliskan.

Mengomentari tentang transaksi kontan Buya Hamka menulis sebagai berikut:

...di zaman kemajuan sebagai sekarang, orang berniaga sudah lebih teratur sehingga membeli kontan pun dituliskan orang juga, sehingga si pembeli dapat mencatat berapa uangnya keluar pada hari iłu dan si penjual pada menghitung penjualan berapa barang yang laku dapat pula menjumlahkan dengan sempurna. Tetapi yang semacam ini terpuji pada syara.' Kalau dikatakan tidak mengapa (dałam Alquran. Pen) tandanya ditulis lebih baik.

Pendapat Buya Hamka ini menunjukkan bahwa sebenarnya syara' pun menganjurkan pencatatan baik yang tunai maupun yang masih accrual sebagaimana yang sekarang diterapkan dałam akuntansi.

Dari ayat ini dapat kita catat bahwa dałam Islam, sejak munculnya peradaban Islam sejak Nabi Muhammad Saw. telah ada perintah untuk melakukan sistem pencatatan yang tekanannya adalah untuk tujuan kebenaran, kepastian, keterbukaan, keadilan antara dua pihak yang mempunyal hubungan muamalah tadi. Dengan perkataan lain, dapat kita sebutkan bahwa Islam mengharuskan pencatatan unduk tujuan keadilan dan kebenaran. Sementara iłu, pencatatan untuk tujuan lain seperti data untuk pengambilan keputusan tidak diharuskan. Akan tetapi, menurut Buya Hamka justru karena sesuai syara', mungkin ketidakwajiban ini disebabkan hal ini sudah merupakan urusan yang sifatnya tidak perlu diatur oleh suatu kitab suci. Dan mengenai hal ini Rasulullah mengatakan,"Kamu lebih tahu urusan duniamu." Urusan dunia  (dalam tanda kutip) yang diserahkan bulat-bulat kepada manusia merupakan bukti kebebasan berpikir sekaligus membuktikan "kedinamisan" Islam, dan menjaga agar Alquran tetap up to date dan tidak pernah ketinggalan karena perubahan dan kemajuan cara berpikir manusia. Tekanan Islam dalam kewajiban melakukan pencatatan sebagai berikut.

a.       Menjadi bukti dilakukannya transaksi (muamalah) yang menjadi dasar nantinya dalam menyelesaikan persoalan selanjutnya.
b.      Menjaga agar tidak terjadi manipulasi atau penipuan, baik dalam transaksi maupun hasil dari transaksi itu (laba). Bagaimana menurut akuntansi? Dalam akuntansi tujuan pencatatan adalah:
a.       pertanggungjawaban (accountability) atau sebagai bukti transaksi;  
b.      penentuan pendapatan (income determination);  
c.       informasi yang digunakan dalam proses pengambilan keputusan, dan lain-lain.

Akuntansi juga merupakan upaya untuk menjaga terciptanya keadilan dalam masyarakat karena akuntansi memelihara catatan sebagai accountability dan menjamin akurasinya. Pentingnya keadilan ini dapat dilihat dari Alquran surat Al-Hadid ayat 24 sebagai berikut.

Sesungguhnya kami telah mengutus rasul-rasul kami dengan membawa bukti yang nyata dan telah kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan Neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.

Dalam Alquran surat Al-Syuraa' ayat 182-183 berbunyi sebagai berikut.

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orangorang yang merugikan. Dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka burni dengan membuat kerusakan.

Penggunaan sistem akuntansi jelas merupakan manifestasi dari pelaksanaan perintah itu karena sistem akuntansi dapat .menjaga agar aset yang dikelola terjaga accountability-nya sehingga tidak ada yang dirugikan, jujur, adil, dan kepada yang berhak akan diberikan sesuai haknya. Upaya untuk mencapai keadilan, baik dalam pelaksanaan utang-piutang maupun dalam hubungan kerja sama berbagai pihak seperti dalam persekutuan, musyarakah, mudharabah memerlukan sarana pencatatan yang menjaga agar satu sama lain tidak dirugikan sebagaimana spirit ayat di atas. Dari usul fiqih disebutkan untuk mencapai sesuatu yang diwajibkan, sarana untuk mencapainya pun menjadi wajib. "Mala yummitul wajibu ila bihi fahua wajibun. " Jika untuk melaksanakan sesuatu yang hukumnya wajib harus dengan dia, dia itu pun menjadi wajib. Oleh karena itu, dapat disebutkan memelihara pencatatan baik sebagai informasi, untuk penyaksian, untuk pertanggungjawaban, untuk pemeliharaan hak, atau untuk keadilan, hukumnya termasuk menjadi wajib.

Sumber: Buku Teori Akuntansi - Sofyan Safri Harahap



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel