Akuntansi: Kapitalisme, Kamera, Netral atau Bias

Banyak pihak yang masih salah persepsi terhadap fungsi akuntansi seolah akuntansi itu dapat melakukan berbagai fungsi di luar fungsinya yang sebenarnya. Untuk memudahkan pemahaman terhadap fungsi akuntansi itu, penulis mengibaratkannya sebagai kamera yang mengambil foto dari berbagai objek kejadian. Dalam konteks pengertian dari sudut ini, memang akuntansi itu dapat dianggap sebagai sesuatu yang bersifat netral karena ia hanya menangkap apa yang dapat ditangkap oleh lensa yang dimilikinya. Akuntansi mencoba menangkap transaksi yang terjadi dalam perusahaan dan mengangkat kejadian itu dalam bentuk "foto” yang dapat memberikan gambaran tentang posisi keuangan perusahaan (Neraca), hasil usaha (Laba Rugi) dan Laporan sumber dan pengeluaran Arus Kas (Laporan Arus Kas). Informasi yang dikeluarkan oleh sistem akuntansi mestinya tidak dapat berubah dari objek yang difoto. Perubahan İtu merupakan penyimpangan terhadap fungsinya selaku "kamera.” Pada saat yang sama akuntansi jangan dianggap mampu memberikan İnformasi atau fungsi di luar fungsinya sebagai tukang foto. Misalnya dapat memprediksi, dapat melakukan hal-hal yang sebenarnya hanya dapat dilakukan manusia atau manajemen. Akuntansi itu pasif bukan aktif. Dia hanya mampu memberikan İnformasi sesuai objek yang memang merupakan bidangnya, yaitu İnformasi tentang semua transaksi keuangan yang dilakukan perusahaan yang memengaruhi kekayaan, utang, modal, hasil, dan biaya.

Akuntansi itu dapat memengaruhi orang lain setelah informasinya terwujud. Dalam akuntansi dikenal behavioral accounting yang mencoba mempelajari dampak informasi akuntansi kepada perilaku pihak lain yang menggunakannya termasuk dalam bidang auditing. Di sinilah pendapat Iwan Triyuwono sangat tepat ketika beliau menyatakan bahwa akuntansi tidak netral. Akuntansi adalah buatan atau rekayasa atau teknologi yang dibuat manusia sesuai dan searah dengan ideologi dan tujuan hidup yang dimilikinya. Dia desain akuntansi sesuai dengan kepentingannya, kepentingan para pemakainya dan kepentingan ideologinya.

Dari Sisi lain output informasi akuntansi juga dapat memengaruhi perilaku orang yang menggunakannya. Informasi akuntansi dapat menimbulkan orang marah (manajer atau pemilik), jika misalnya kinerja perusahaan yang dilaporkan tampak rendah. Return on Investment (RoI) tidak sesuai dengan rencana yang sudah dibuatnya. Atau misal lain variance (penyimpangan) yang dicapai dengan budget atau- standar jauh di atas ambang toleransi yang disepakai. Akuntansi dapat membuat orang gila atau seperti orang gila karena akuntansi dapat memberi harapan atau membuat malu. Pengguna memakai akuntansi dalam kegiatan manajemen misalnya dapat memengaruhi perilaku orang manakala informasi akuntansi digunakan satu-satunya dalam menilai kinerja manajemen. Hopwood misalnya menemukan perusahaan yang menggunakan budget constraint style dalam menilai kinerja bawahan akan menimbulkan hubungan yang tegang antara atasan bawahan, saling curiga, tidak muncul kerja sama, dan membuat mereka tidak menyusun budget sesuai dengan yang sebenarnya, mereka melakukan slack budgeting (membuat budget lebih rendah dari yang sesungguhnya dapat dicapai) agar dalam penilaian kinerjanya jangan sampai menjatuhkannya. Kesimpulannya akuntansi dalam konteks ini adalah memiliki bias ideologi. Informasi Akuntansi dapat memengaruhi Orang yang menggunakannya dan sistem informasi akuntansi itu disusun oleh sekelompok masyarakat yang memiliki ideologi dan tujuan hidup tersendiri dalam hal ini ideologi dan tujuan hidup ala kapitalisme.

Pada hakikatnya akuntansi itu adalah mengukur dan melaporkan informasi tentang Harta atau Kekayaan. Dalam ideologi kapitalisme harta merupakan bukti kemakmuran, ukuran keberhasilan hidup Oleh karenanya pemupukan harta merupakan sasaran dan tujuan hidup. Oleh karenanya semua tenaga dan resorsis harus diarahkan untuk mencari, memupuk kekayaan dengan berbagai cara yang dilakukan. Dalam ideologi kapitalisme pemrakarsa penciptaan dan pendistribusian harta diberikan kepada pemilik modal bukan kepada negara atau kepada kaum pekerja (buruh). Dalam kenyataannya, kapitalis berhasil bukan saja menjadi produser harta, tetapi dia berupaya untuk terus-menerus menjadi penguasa dalam memupuk harta Oleh karenanya semua kemampuannya diusahakan untuk menjaga perannya ini. Hal inilah yang membuat kapitalis juga merambah ke bidang: bidang politik, sosial, dan keagamaan. Kapitalis membiayai kegiatan elite politik dengan imbalan semua kebijakan politik harus menguntungkan kapitalis. Di bidang sosial juga demikian bahkan dalam bidang keagamaan kapitalis mencoba memengaruhi ulama dalam pemahaman konsep keagamaan untuk menjamin pemahaman agama tidak merusak penguasaannya pada kekayaan tadi.

Sumber: Buku Teori Akuntansi - Sofyan Safri Harahap

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel