Spirit Islam dalam Akuntansi

Kalau kita katakan Islam dalam Akuntansi maksudnya adalah apakah comprehensive accounting itu kelengkapan yang sama sesuai dengan tujuan dan hakikat Islam. Di muka telah dibatasi bahwa Islam dalam konteks ini dimaksudkan sebagai yang mendorong menciptakan keadilan dan kebenaran dalam pencatatan dan menjaga keadilan dalam berbisnis dan bekerja sama atau berutang piutang. Jadi pertanyaan kita adalah apakah dalam akuntansi itu kita temukan keadilan dan kebenaran? Untuk menjawab pertanyaan ini tentu kita perlu membahas lebih dalam sifat dan ciri Akuntansi. Namun, penulis hanya memberikan poin-poinnya saja yang merupakan dasar bagi kita untuk menjawab pertanyaan tadi.

1.      Transaksi yang dicatat oleh akuntansi adalah transaksi (muamalah). Transaksi adalah the occurrence ofan event or ofa condition that must be recorded atau segala sesuatu yang mengakibatkan perubahan dalam aktiva dan passiva perorangan atau perusahaan.

2.      Dasar pencatatan transaksi adalah bukti (evidence) atau disebut juga business paper seperti faktur, surat utang, cheque, dan kuitansi. Yang dianggap sebagai bukti adalah bukti yang didukung oleh sifat-sifat kebenaran tanpa ada penipuan. Ini menurut Islam. Dalam akuntansi ada jenis dan tingkatan bukti yang menandakan kuat-tidaknya suatu bukti, yaitu sebagai berikut.
-          Real evidence, yaitu bukti fisik;
-          Testimonial evidence, yaitu bukti yang berasal dari kesaksian pihak luar.
-          Indirect evidence, yaitu bukti yang diperoleh secara tidak langsung.
Bukti yang diperoleh dari luar perusahaan lebih kuat dibandingkan bukti yang diperoleh dari dalam sendiri. Bukti yang diperoleh dari sistem internal control perusahaan yang baik lebih kuat dari yang diperoleh dengan infernal control yang lemah dan bukti yang diperoleh secara langsung oleh akuntan lebih kuat dari bukti yang diperoleh secara tidak langsung. Islam menginginkan bukti yang benar sejajar dengan keinginan akuntansi yang hanya mencatat bukti yang sah (valid).

3.      Bukti yang menjadi dasar pencatatan akan diklasifikasikan secara teratur melalui "Aturan Umum" atau General Accepted Accounting Principle (GAAP), yang di Indonesia disebut Standar Akuntansi Keuangan Indonesia. Standar akuntansi dilahirkan melalui suatu panitia ahli melalui berbagai tahap pengujian sampai menjadi prinsip yang diterima umum. Proses kelahiran prinsip ini teruji dan tetap didasari oleh keadilan dan objektivitas. Proses pencaratan, sampai kepada klasifikasi akan menghasilkan I-aporan Keuangan (Neraca dan Laba Rugi) yang merupakan output dari manajemen. Hanya masalahnya, dalam akuntansi kadang ada tuduhan bahwa standar akuntansi selalu memerhatikan kelompok perusahaan besar.

4.      Akuntansi berprinsip pada substance over form. Artinya akuntansi   lebih menekankan pada kenyataan atau subsİstensİnya bukan formulirnya. Artinya kendatİpun bukti menurut form misalkan Rpl.000,00 namun nilai yang sebenarnya form Rp800,00 maka yang harus dicatat adalah Rp800,00 bukan Rp1.000,00 berdasarkan form.

5.      Tahap kelahİran laporan keuangan di atas masih belum sampaİ pada titik "dipercaya". Untuk sampaİ kepada titik dipercayai, laporan İtü masih perlu dİujİ atau disaksikan lagİ oleh pihak tertentu yang dianggap İndependent (tidak memihak) melaluİ pemeriksaan Laporan Keuangan yang disebut audİt atau general audit. Pemeriksaan İni dilakukan oleh Akuntan Publik Terdaftar. Akuntan pemeriksa akan memberİkan laporan mengenaİ pemeriksaannya apakah laporan yang disajİkan manajemen tadi wajar atau tidak, atau ada sesuatu pos yang tidak wajar atau sama sekalİ tidak wajar. Opininya ini ada empat, yaitu:
a.       Opini wajar (unqualified);
b.      Opini wajar dengan syarat (qualified);
c.       Opini tidak wajar (adversed opinion
d.      Tidak ada opini (disclaimer ofopinion

Dasar pemberİan opini ini adalah sampai di mana laporan keuangan menaatİ standar akuntansi, pengungkapan, konsistensi, dan syarat-syarat lainnya.

Demikianlah proses yang kita temukan dalam comprehensive accounting dalam melakukan pencatatan sampai kepada laporannya dan laporan Pİhak lainnya sehingga menjadİ konsumsi umum. Dan jelas kita lihat bahwa secara ideal formal” betapa ketatnya sistem itü menjaga agar output aküntansi tetap dalam sifat kebenaran, keadilan, dan kejujuran (objektivitas), sebagaimana halnya keinginan İslam. Kalau semua berjalan secara benar maka sistem akuntansİ juga menciptakan kebenaran dan keadilan.

İslam adalah ideologi, pedoman dan pandangan hidup yang mengatur tata cara hidup dan merumuskan tujuan hidup pula yang berbeda dengan ideologi kapitalisme. İslam adalah satu sistem hidup yang ditentukan Tuhan untuk menghadapi semua permasalahan hidup di dunia dan juga Setelahnya yaitu di akhirat. İslam memiliki aturan tentang sistem ekonomi dan tentunya juga sistem bisnis, manajemen, dan akuntansi harus jug mengacu pada sistem ideologi Islam itu. Akuntansi juga harus dapat menopang dan sejalan dengan ideologi itu. Karena Islam berbeda dengan ideologi kapitalisme, telah dapat dipastikan bahwa sistem akuntansinya juga akan berbeda dengan sistem akuntansi kapitalis kendatipun perbedaannya tentu tidak pada semua level. Barangkali dari aspek teknik tidak banyak perbedaan modalnya dalam hal melakukan pencatatan. Namun, dalam tataran filosofi dan prinsip tentu akan memiliki perbedaan mendasar.

Namun, di sinilah permasalahannya apakah internal sistem akuntansi sendiri sampai sekecil-kecilnya bisa melahirkan keadilan dan kebenaran pada kondisi di mana filsafat ilmu atau epistemologi akuntansi konvensional itu adalah value free (bebas nilai) tidak ada yang mengontrol di luar sistem itu. Jawabannya relatif. Namun, kenyataan yang kita lihat berbagai permasalahan profesi akuntan masih selalu muncul, baik kasus pemalsuan, penipuan, kesalahan, bahkan kerja sama antara akuntan publik dengan kliennya yang merugikan masyarakat. Salah satu alasan kemunculan Akuntansi Islam sebagaimana yang dijelaskan Triyuwono (2000) adalah mendobrak hipotesis yang menyatakan bahwa akuntansi itu adalah bebas nilai. Menurut Triyuwono, akuntansi itu bukan bebas nilai, ia dipengaruhi Oleh oknum-oknum yang ada dalam suatu organisasi. Oleh karena itu, untuk mencapai keadilan dan kebenaran hakiki seyogianya akuntansi itu harus diwarnai oleh etika, ukuran moral sehingga tercipta akuntansi dan informasi yang benar dan adil.

Sumber: Buku Teori Akuntansi - Sofyan Safri Harahap



Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel