Skip to main content

Perlakuan Biaya Angkut Terhadap Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli

Menurut prinsip akunatansi yang lazim semua biaya yang terjadi untuk mernperoleh bahan baku dan untuk mendapatkannya dalam keadaan siap dipakai, merupakan elemen harga pokok bahan baku yang dibeli. Oleh karena itu, harga pokok bahan yang dibeli, bukan saja yang tercantum dalam faktur pembelian, akan tetapi meliputi:
·         Harga faktur
·         Biaya angkut
·         Biaya-biaya Iain yang berhubungan, seperti biaya pemesanan, biaya penerimaan, biaya penggudangan, biaya asuransi dan sebagainya
Apabila di dalam pembelian bahan baku, leveransir memberikan potongan tunai, maka potongan itu diperlakukan sebagai pengurangan terhadap harga pokok bahan baku yang dibeli
Mengenai biaya angkut, jika bahan yang dibeli hanya satu jenis, tidak ada kesulitan membebankan biaya angkut kepada bahan baku yang dibeli. Tetapi jika biaya angkut yang dikeluarkan untuk beberapa jenis bahan, maka timbul masalah pengalokasian biaya angkut kepada bahan-bahan yang dibeli. Perlakuan terhadap biaya angkut ini dapat dibedakan sebagai berikut:

a. Biaya Angkut Diperlakukan Sebagai Tambahan Harga Pokok Bahan Baku yang Dibeli.

Apabila biaya angkut diperlakukan sebagai tambahan harga pokok bahan baku yang dibeli, maka alokasi biaya angkut kepada masing-masing jenis bahan baku yang dibeli dapat didasarkan pada:

1.      Atas Dasar Perbandingan Kuantitas Tiap Jenis Bahan Baku yang Dibeli

Cara ini biasanya dipergunakan jika satuan ukuran bahan baku yang dibeii sama atau dapat disamakan.
Contoh: PT. Ardian Membeli dua jenis bahan baku, masing-masing sebagai berikut:
Bahan baku A
300 kg
@ Rp 800,-
= Rp 240.000,-
Bahan baku B
200 Kg
@ Rp 700,-
= Rp 140.000,-
Jumlah
500 kg

   Rp. 380.000,-
Biaya angkut yang dibayar untuk bahan baku A dan B tersebut di atas, berjumlah Rp 25.000,-.

Alokasi biaya ang ut kepada bahan baku A dan B, dihitung sebagan berikut:
Ø  Bahan baku A (300 : 500) x Rp 25.000,- = Rp 15.000,-
Ø  Bahan baku B (200 : 500) x Rp 25.000,- = Rp 10.000,-
Ø  Biaya angkut per Kg bahan baku A Rp 15.000 : Rp 300 = Rp 50,-
Ø  Biaya angkut per Kg bahan baku A Rp 10.000 : Rp 200 = Rp 50,-

Dari perhitungan di atas terlihat bahwa alokasi biaya angkut bahan atas dasar perbandingan kuantitas tiap jenis bahan akan menghasilkan biaya angkut tiap Kg yang sama untuk setiap jenis bahan baku.


2.      Atas Dasar Perbandingan Harga Faktur Tiap Jenis Bahan Bakü yang Dibeli

Contoh: Suatu perusahaaan membeli tiga jenis bahan baku sebagai berikut:
Bahan baku A
   600 kg
@ RP 1.000,-
= RP    600.000,-
Bahan baku B
   700 Kg
@ RP 1.200,- 
= RP    840.000,-
Bahan baku C
   500 Kg
@ RP    800,-
= RP    400.000,-
Jumlah
1.800 Kg

= RP 1.840.000,-

Biaya angkut untuk ketiga jenis bahan baku tersebut, dikeluarkan sebesar Rp. 46.000,-
Alokasi biaya angkut bahan baku yang dibeli, adalah sabagai barikut:
Bahan baku A
600.000 : 1.840.000 x 46.000,-
= RP 15.000,-
Bahan baku B
840.000 : 1.840.000 x 46.000,-
= RP 21.000,-
Bahan baku C
400.000 : 1.840.000 x 46.000,-
= RP 10.000,-
Jumlah

= RP 46.000,-

Tiap kg bahan baku yang dibeli, masing-masing dibebani dengan biaya angkut sebagai berikut:
Bahan baku A
15.000 : 600 Kg
= RP 25,-
Bahan baku B
21.000 : 700 Kg
= RP 30,-
Bahan baku C
10.000 : 500 Kg
= RP 20,-

3.      Biaya Angkut Diperhitungkan Dalam Harga pokok bahan baku yang dibeli berdasarkan Tarif yang Ditentukan Di Muka.

Untuk manyederhanakan perhitungan harga pokok bahan baku, biaya angkut dibabankan kepada bahan baku yang dibeli atas dasar tarif yang ditentukan di muka. Penghitungan tarif dilakukan dengan menaksir biaya angkut yang akan dikeluarkan dalam tahun anggaran tertentu. Taksiran biaya angkut ini kemudian dibagi dengan dasar yang akan digunakan untuk mangalokasikan biaya angkut tersabut. Pada saat terjadi pembelian bahan baku, harga faktur bahan baku harus ditambah dengan biaya angkut sabesar tarif yang telah ditentukan. Biaya angkut yang sesungguhnya dikeluarkan dicatat dalam perkiraan biaya angkut.

Contoh :
Biaya angkut yang diperkirakan akan dikeluarkan dalam tahun 2010 adalah sebesar RP 4.000.000,- dan jumlah bahan baku yang diangkut diperkirakan sebanyak 50.000 kg. Jadi tarif biaya angkut untuk tahun 2010 adalah sabesar RP 80,- (RP 4.000.000 : 50.000 kg) per kg dari bahan baku yang diangkut. Dalam tahun 2010 jumlah bahan baku yang dibeli dan alokasi biaya angkut atas dasar tarif adalah sebagai. berikut:
Jenis bahan baku
Berat
kg
Harga faktur
(Rp)
Biaya angkut yang dibebankan atas dasar tarif (Rp)
Harga pokok bahan baku (Rp)
A
B
C

10.000
15.000
25.000
50.000
     4.500.000,-
     6.000.000,-
     5.500.000,-
   16.000.000,-
   800.000,-
1.200.000,-
2.000.000,-
4.000.000,-
     5.300.000,-
     7.200.000,-
     7.500.000,-
   20.000.000,-
Jika misalnya biaya angkut sesungguhnya dibayar dalam tahun 2010 adalah sebesar 4.250.000,- maka jurnal yang dibuat dalam tahun 2010 untuk mencatat bahan baku yang dibeli tersebut adalah sebagai berikut:

a.       Jurnal pembelian bahan baku

Persediaan Bahan Baku                                              RP 16.000.000
Hutang Dagang                                                           RP 16.000.000

b.      Jurnal pembebanan biaya angkut atas dasar tarif

Persediaan Bahan Baku                                              RP 4.000.000
Biaya Angkut                                                              RP 4.000.000

c.       Jurnal pencatatan biaya angkut yang sesungguhnya

Biaya angkut                                                               RP 4.250.000
Kas                                                                              RP 4.250.000

d.      Jurnal penutupan saldo perkiraan biaya angkut ke perkiraan Harga Pokok Penjualan

Harga Pokok Penjualan                                               RP 250.000
Biaya Angkut                                                              RP 250.000
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar