Zakat dan Baitul Maal

Kewajiban zakat bagi Muslim merupakan bukti nyata betapa pentingnya peranan akuntansi bagi masyarakat, perusahaan lembaga atau perseorangan. Dalam konteks ini akuntansi akan dapat memberikan SUmbangan dalam proses perhitungan zakat yang tepat baik zakat maal, penghasilan, profesi, perdagangan, laba, dan lain sebagainya. Nilai aset yang mana yang akan dijadikan sebagai dasar pengenaan zakat. Bagaimana mungkin kita mengetahui beban zakat tanpa bantuan dari akuntansi? Justru dalam Islam dituntut lagi bidang-bidang khusus akuntansi seperti Akuntansi Pertanian, Akuntansi Peternakan, Akuntansi Sosial, Akuntansi Jaminan Sosial, Akuntansi Sumber Daya Manusia, dan lain-lain untuk dapat menyelesaikan kewajiban kita sebagai Muslim.

Demikian juga masalah pengukuran efisiensi dan pemborosan (yang dilarang keras dalam Islam) tidak akan dapat diketahui tanpa pencatatan atau peran akuntansi.

Pengelola kekayaan negara melalui lembaga terkenal seperti Baitul Maal juga memerlukan akuntansi yang lebih teliti karena menyangkut harta masyarakat yang harus dipertanggungjawabkan baik kepada rakyat maupun kepada Tuhan. Pembagian hak seperti dalam pembagian dividen, hasil likuidasi memerlukan catatan yang adil yang dapat membagi hak-hak mereka yang berkongsi atau berserikat secara adil. Semua ini mendukung hipotesis yang menyatakan akuntansi sangat mutlak dalam Islam. Mustahil Islam tidak memilikinya.

Allah sendiri menjelaskan bagaimana Dia memelihara catatan tentang manusia dengan dua orang "akuntan" Malaikat Raqib dan Atid yang senantiasa bertugas mencatat setiap kegiatan manusia baik yang baik maupun yang jahat, sampai pada yang sekecil kecilnya, bahkan sebesar zarrah pun tidak luput dari pencatatannya. Dan di akhirat catatan ini akan menjadi bahan laporan serta pertanggungjawaban manusia dihadapan Allah dan akan menentukan apakah ia akan merasakan kebahagiaan (surga) atau penderitaan (neraka).

Dari bukti-bukti ini jelaslah bahwa akuntansi sebenarnya wajib diterapkan oleh Islam baik di lembaganya, di keluarga, di perusahaan, di negara bahkan dalam perseorangan pun. Semua ini mendukung hipotesis yang menyatakan akuntansi sangat mutlak dalam Islam.

Kesimpulan berbagai fakta sejarah ini telah cukup kuat untuk menyatakan bahwa akuntansi telah dikenal pada masa kejayaan Islam artinya peradaban Islam tidak mungkin tidak memiliki akuntansi. PermasaIahannya adalah pemalsuan sejarah yang dilakukan beberapa oknum di Barat dan ketidakbisaan umat Muslim untuk menggali khazanah kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologinya sendiri. 

Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan dua hal:
1.      akuntansi telah ada sebelum Pacioli, bahkan mungkin sebelum peradaban Islam;
2.      mustahil sistem akuntansi Islam tidak ada semasa kejayaannya dari 610 -1250 M.

Sumber: Buku Teori Akuntansi - Sofyan Safri Harahap


Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel