Literasi Media Jadi Mata Kuliah Wajib, Pentingkah?

Literasi Media Jadi Mata Kuliah Wajib, Pentingkah?

Literasi Media Jadi Mata Kuliah Wajib, Pentingkah?

literasi media jadi mata kuliah wajib
Dewasa ini perkembangan teknologi semakin dinamis dan terus beranjak ke arah pembaharuan yang terdepan. Salah satu perkembangan teknologi yang sangat erat hubungannya dengan kehidupan manusia saat ini adalah penggunaan media sosial.Ada banyak manfaat dari perkembangan media sosial yang terus terbaharui bagi beberapa kalangan.Media sosial acapkali dianggap sebagai wadah untuk mengekspresikan diri, berbagi cerita, menyampaikan opini, sarana informasi dan komunikasi, sumber pengetahuan, hiburan dan lain sebagainya. Beberapa pihak berpendapat bahwa media sosial merupakan bentuk perkembangan teknologi yang cukup berpengaruh bagi aspek kehidupan, baik itu positif maupun negatif.

Pengamatan terbaru KPAI November lalu,menyebutkan aksi perkelahian antar pelajar belakangan ini diduga akibat penyebaran konten kekerasan di media sosial. Sehingga persamaan referensi yang mudah didapat membuat perkelahian pelajar lebih terencana dan terstruktur hingga menimbulkan korban jiwa. Sementara pada pertengahan Agustus lalu, Kepolisian Indonesia berhasil menangkap tiga pimpinan sindikat Saracen yang diduga berada di balik sejumlah berita bohong provokatif bernuansa SARA di media sosial.Tak hanya itu, berdasarkan data tahun 2016, dari 1.627 kasus yang ditangani Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, sebanyak 1.207 kasus atau sekitar 70% diantaranya merupakan kasus kejahatan dunia maya (Cybercrime).  Dari beberapa contoh kasus tersebut, jelas bahwa media sosial berpotensi memberikan kerugian serius kepada pihak terkait di samping banyaknya manfaat serta kemudahan yang ditawarkan.

Mengingat pentingnya mahasiswa dalam aktivitas bermedia sosial yang bijak, oleh karenanya penulis merasa literasi media perlu diajarkan di kalangan mahasiswa.Literasi media adalah kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan mendekontruksi pencitraan media. Lebih detail literasi media berarti “melek media” atau “cerdas bermedia”, yaitu kemampuan memahami dunia media massa (cetak/digital) sehingga kritis dan selektif dalam menerima informasi dari media, juga ditujukan agar konsumen media menjadi sadar (melek) tentang cara media dikontruksi (dibuat) dan diakses. 

Dibandingkan beberapa negara-negara Barat seperti Inggris, Denmark ataupun Finlandia, literasi media telah menjadi pendidikan wajib mulai dari bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Di Indonesia sendiri, literasi media seperti belum dianggap vital untuk diterapkan di dunia pendidikan. Walaupun sudah terdapat beberapa perguruan tinggi yang memasukkan kajian literasi media sebagai mata kuliah mahasiswa, namun nyatanya materi ini masih belum bersifat umum ataupun wajib dan sebagian hanya dijadikan kajian khusus dari beberapa jurusan terkait.

Menurut penulis literasi media harusnya sudah dilaksanakan di tingkat perguruan tinggi secara menyeluruh, karena keberadaan perguruan tinggi mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalam perkembangan suatu masyarakat, termasuk pro aktif dalam mengendalikan semua dampak negatif yang timbul di masyarakat akibat perkembangan media. Penulis juga berpendapat bahwa penerapan kajian literasi media kepada mahasiswa sangat strategis dan akan sukses dijalankan apabila mengikuti prinsip tri dharma yang ada yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat. Karena setelah mahasiswa paham tentang mengendalikan penggunaan media dengan bijak serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari dan terus aktif mengembangkan diri melalui penelitian terkait fenomena yang ada, selanjutnya mahasiswa dapat memanfaatkan ilmunya untuk kepentingan masyarakat. Tentunya hal ini perlu mendapat dukungan serta apresiasi dari pemerintah ataupun lembaga terkait, agar kedepannya pendidikan literasi media dapat menjadi mata kuliah umum mahasiswa semua jurusan di perguruan tinggi.

Referensi:
Tamburaka, Apriadi. 2013. Literasi Media: Cerdas Bermedia Khalayak Media Massa. Jakarta: Rajawali Pers.
http://www.pikiran-rakyat.com/jawa-barat/2017/11/28/perkelahian-pelajar-dipicu-konten-media-sosial-414744 [diakses pada tanggal 19 Desember 2017, Pukul 10.28]
https://www.google.co.id/amp/s/www.bbc.com/indonesia/amp/trensosial-41022914[diakses pada tanggal 19 Desember 2017, Pukul 11.30]
https://sumber.com/teknologi/berita-terkini-teknologi/sumber/data-2016,-indonesia-mendapat-42-ribu-serangan-dunia-maya-per-hari.html [diakses pada 19 Desember 2017, Pukul 10.58]
Buka Komentar