Hidup Bukan Bagaimana Harus Menjadi Siapa

Hidup Bukan Bagaimana Harus Menjadi Siapa

Hidup Bukan Bagaimana Harus Menjadi Siapa

Hidup Bukan Bagaimana Harus Menjadi Siapa
Ketika kecil, kita lahir dengan sejuta mimpi dan ambisi. Ada banyak potret  yang kita coretkan pada lembaran kertas gambar dimasa kecil dulu. Seringkali kita melukis potret wajah senja yang menawan dangan hamparan sawah menghijau permai dikaki gunung berbaris sendu, lalu burung-burung yang turut menebar pesonanya pada hamparan senja yang kian menepi. Ya, sebuah karya nyata yang sempurna, tercoret dari jari-jari berhitung sianak SD. Seiring berjalan waktu seorang anak tumbuh dengan banyak mimpi dan harapan-harapan besar diatas kepalanya. Menatap dunia dengan ramah, menggantung mimpi dengan senyum pasti, lalu mengidolai banyak profesi yang tercitra baik dan berbakti. Waktu terus berlalu menemui masanya, lembar demi lembar tercoret dengan angan-angan yang tak kunjung bertemu wujudnya. Berajak dari satu masa, melewati banyak peristiwa, menjadi pribadi yang semakin kukuh abadi. Kita bertransformasi menjadi lebih nyata, tumbuh dengan banyak komponen-komponen dalam diri kita, menjadi dewasa dengan banyak proyeksi tercipta.

Baca juga: Temukan Jati Diri Lewat Berorganisasi

Pada masa ini kita mulai mengenal siapa diri kita, mengenal seberapa besar potensi yang kita miliki, serta kelemahan yang kerap kali menjadi penghambat untuk terus melangkah. Disinilah kita mulai menyiapkan banyak strategi, menentukan arah dan tujuan, cermat memandang peluang didepan, lalu berusaha mewujudkan impian. Tapi sekali lagi, benar rasa kecewa memang jauh lebih berat dari rasa bangga. Banyak usaha yang kita lakukan belum cukup untuk membayar lunas sebuah impian. Jatuh, kembali jatuh, jatuh lagi diantara gagal yang kesekian. Lalu apakah semuanya sudah cukup sampai disini ? Apakah kita sudah benar-benar gagal ? Apakah kita sudah benar-benar berhenti dibatas bisa ? Bagaimana dengan wajah-wajah yang harus kita genapi senyumnya ? Mereka(orangtua) begitu menaruh harapan penuh agar kelak akan berhasil dan menutup riwayat lelah sejuta langkah yang mereka berikan dengan sebuah senyuman. Jika anda berada pada posisi ini maka ada beberapa hal yang harus anda yakini untuk tetap tegak dan kembali kukuh setelah sebuah peluh dan keluh yang meniup sendu.

Setiap manusia punya potensi dan kualitas dirinya masing-masing

Yakinlah, bahwa setiap individu terlahir dengan potensi dan kualitas dirinya masing-masing. Anda dilahirkan dengan begitu banyak komponen pendukung, tinggal bagaimana anda mampu mengenali keseluruhan dari diri anda, dan menggali semua potensi yang anda punya. Lakukan apa yang masih bisa anda lakukan, berikan apa yang masih bisa anda berikan, jadilah yang bermanfaat atas diri anda. Yakinlah tidak ada usaha yang sia-sia, setiap niat baik pasti diperkenankan untuk menemui jalannya.

Tidak Ada istilah “Salah Jurusan”

Baca juga: Sisi Gelap Mahasiswa Menjadi Anak Kos-Kosan

Jika anda berkuliah dan anda merasa bila anda “salah jurusan” untuk saat ini, mungkin karena ketatnya persaingan untuk menuju jalan tersebut, maka buanglah persepsi itu jauh-jauh. Anda harus kembali berpikir bahwa tidak ada niat baik yang sia-sia. Berkuliah mungkin memang mendukung untuk meraih sebuah kesuksesan, namun hal itu tidaklah dominan. Banyak orang sukses tanpa riwayat pendidikan yang tinggi, jadi mulailah mengambil hikmahnya, bahwa berkuliah adalah untuk membuka cakrawala berpikir anda. Dan pada akhirnya sebuah proseslah yang akan membentuk diri anda.

Rencana Tuhan Lebih Baik

Jika semua usaha dan upaya terbaik telah anda lakukan, namun yang menjadi harapan belum juga anda dapatkan. Maka sadarilah ada yang tidak bisa dipaksakan, walau entah sudah usaha keberapa yang dilakukan. Yakinilah bahwa rencana Tuhan lebih baik, Tuhan lebih tahu apa yang kita butuhkan. Maka tetaplah berusaha untuk sejalan dengan kehendakNya.

Menjadi Bernilai Bukan Sebatas Profesi

Bernilai bukan atas dasar siapa diri anda, apa jabatan atau profesi yang anda sandang, dan seberapa tinggi riwayat pendidikan anda. Menjadi bernilai yang sesungguhnya adalah kemampuan anda untuk membaur dan bisa diterima dimasyarakat. Siapapun anda, apapun riwayat pendidikan anda, dan seberapa tinggipun pangkat serta jabatan yang anda sandang, kalau pada akhirnya anda tidak mampu membaur dan diterima dimasyarakat, maka sama saja anda tidak akan menjadi pribadi yang bernilai. Karena sejatinya kita semua lahir, tumbuh, dan akan kembali dimasyrakat.

Detak-detak jantung diantara detik-detik waktu yang bergulir adalah kenyataan hidup yang sebenarnya, sekali berhenti berarti mati. Tetaplah berusaha untuk menemui senja yang pernah engkau lukiskan dulu, nikmati setiap prosesnya, jatuh untuk kembali bangun agar semakin tegak diatas gemetar. Hidup bukan bagaimana kita harus menjadi siapa, tapi sampai sejauh mana kita mampu bertahan mengukur batas sanggup kita berjalan beriringan dengan kehendak Tuhan. Yakinlah akan ada pelangi setelah hujan yang tumpah.
Buka Komentar