Lagi Viral, Tabloid Olahraga Bola Gulung Tikar

Lagi Viral, Tabloid Olahraga Bola Gulung Tikar

Lagi Viral, Tabloid Olahraga Bola Gulung Tikar

Lagi Viral, Tabloid Olahraga Bola Gulung Tikar
Desas-desus banyak media cetak gulung tikar sudah lama berembus di kalangan para pebisnis penerbitan koran dan majalah. Dan hal tersebut bukan isapan jempol semata. Maraknya media online yang berdiri, telah mampu menggeser kedudukan mereka.
Pekan ini, dunia literasi juga dikejutkan oleh kabar yang diberikan redaksi tabloid olahraga Bola. Melansir dari laman situs m.antaranews.com, Jumat kemarin tepatnya tanggal 26 Oktober 2018 menjadi edisi terakhirnya dicetak ke publik. Media yang resmi berdiri pada tanggal 3 Maret 1984 mengaku sudah tak sanggup lagi bersaing dengan keadaan pasar yang terjadi sekarang, di mana ramai-ramai pindah ke metode baca sistem aplikasi gadget.

Penyebab Media Cetak Tutup 

Isu buruk itu sebenarnya sudah berlangsung semenjak dunia digital mulai merambah dan menguasai publik. Selera masyarakat yang cenderung menginginkan kemudahan, perlahan tapi pasti menggerus eksistensi media cetak sebagai penyedia informasi terdahulu.

Tapi demikianlah zaman. Tak ada yang benar-benar abadi dan bisa diprediksi kapan terus berjaya. Miris memang bila dirasakan. Sebab walau bagaimanapun media-media tersebut memiliki andil besar dalam kehidupan banyak orang, sebelum internet datang.

Media Cetak Lain Yang Juga Ikut Kukut

Selain tabloid bola, ternyata masih banyak deretan nama majalah serta koran yang memilih menutup usaha. Berikut jenis-jenisnya, seperti dilansir dari laman situs www.tentik.com.

1. Sinar Harapan

Terbit pertama pada tahun 1961. Tentang kejayaannya menduduki peringkat kedua setelah Kompas. Memilih menutup ketika tak ada iklan masuk dan memiliki hutang sebesar 1.1 M.

2. Jakarta Globe

Koran tersebut saingan berat dari Jakarta Post yang berbahasa Inggris. Tahun 2017 lalu resmi ditutup sesudah tak sanggup lagi melawan persaingan media maya.

3. Koran Tempo Mingguan

Karena tak sanggup bersaing, Koran Tempo Mingguan harus rela digabungkan dengan Koran Tempo Sabtu, melalui perubahan nama menjadi Koran Akhir Pekan per 11 Oktober 2015. Penggabungan itu untuk menyelamatkan diri dari kebangkrutan.

4. Majalah Trax

Segmen pembacanya para pecinta musik. Pertama kali terbit pada tahun 2002 serta merupakan favorit anak muda. Gulung tikar setelah eksis selama 14 tahun.

5. Jurnal Nasional

Tanggal 1 November 2014 resmi ditutup oleh pemiliknya yaitu mantan Presiden Susilo Bambang Yudoyono. Tapi dialihkan ke sistem online mengikuti perkembangan zaman bernama jurnas.com.

6. Majalah Dewasa Pria Penthouse

Tak hanya koran biasa dan tabloid, bahkan majalah dewasa pria yang terkenal fenomenal inipun ikutan merugi. Eksis telah 50 tahun, akhirnya harus bertekuk lutut digerus modernisasi zaman.

7. Majalah Horizon

Sama seperti yang lain, Majalah Horison juga harus mengalami kekalahan. Konon masalah keuangan yang menjadi penyebabnya.

8. Majalah Slam Indonesia

Ini merupakan majalah basket. Ditengarai kejatuhannya dikarenakan berita tak berimbang dan jumlah iklan yang semakin mengecil.

9. Tabloid Soccer

Serupa tabloid Bola, Soccer juga mengangkat tema mengenai seputar pemberitaan olahraga. Berdiri sejak tahun 2000 lalu. Persaingan dunia digital, lagi-lagi yang jadi pemicunya.

Suka tak suka, inilah keadaan yang sedang terjadi di masyarakat Indonesia bahkan dunia. Bila ingin tetap dicari dan dicintai pembaca harus pula menyesuaikan diri, mengikuti perubahan. Terdengar memilukan, sebab faktanya perusahaan tersebut juga tempat bergantung hidup banyak orang. Terkadang menjadi dilema tersendiri bagi pemilik usaha media saat ditutup.

Apa pendapat Anda, mengenai kenyataan pahit dari semua fenomena ini?
Buka Komentar