Cara Mendeteksi Kelainan Pada Bayi

tips mengetahui kelainan pada bayi
Bunda, memiliki bayi lincah dan tumbuh  sehat, tentu dambaan semua orang tua di dunia. Akan tetapi sayangnya hal tersebut bukan kuasa manusia. Meski demikian ada cara-cara yang bisa dilakukan untuk mengetahui dan mungkin saja bisa dicegah, jika terindikasi ada kelainan.

Idealnya pendeteksian sudah dilakukan sedari awal, semenjak janin masih berada dalam kandungan sang ibu. Itu cara tepat melakukannya, bukan ketika mereka sudah lahir ke dunia. Karenanya, bila merasa ada sesuatu yang tidak beres pada kandungan, harus segera diperiksakan ke dokter.

Pemeriksaan itu melalui USG, dan paling tidak selama 3 kali selama kehamilan. Demikian dikutip dari laman situs www.hellosehat.com. Lalu kapan sebaiknya dikerjakan, berikut penjelasan selengkapnya!

1. Meski tidak 100% akurat,  tapi tetap harus dilakukan

Namanya manusia, pasti tetap kalah dengan kekuasaan Tuhan. Jadi meski tidak 100% akurat, setidaknya memang Bunda harus mau melakukannya. Sebab terkadang walaupun sudah dikatakan janin normal tak ada gangguan, begitu lahir  baru menunjukkan tanda-tanda mengalami kelainan.

Dan  berikut cacat bawaan, yang dibawa dari dalam kandungan oleh janin yang bersangkutan. Umumnya terjadi pada mereka :

  • Spina bifida
  • Anencephaly
  • Hidrosefalus
  • Club foot/kaki bengkak
  • Bibir sumbing
  • Cacat ginjal
  • Down syndrome  

2. Pahami waktu yang tepat untuk melakukan pemeriksaan

Sudah dijelaskan tadi bahwa waktu yang diperlukan untuk melakukan pemeriksaan ini terbagi menjadi menjadi 3 bagian. Idealnya saat kandungan berusia 6-8 bulan. Namun lebih awal lebih baik. Dapat mengetahui secara dini, sehingga orang tua mampu mempersiapkan mental, menghadapi kenyataan buruk.

Tapi biasanya mereka melakukan pada usia 11-13 minggu atau tri semester pertama. Adapun manfaatnya pada fase pemeriksaan ini adalah :

- Melihat perkembangan kehamilan

- Mendeteksi apakah Anda hamil dengan lebih dari satu janin atau tidak

- Memperkirkan usia kehamilan

- Memperkirakan risiko kelainan kromosom seperti down syndrome

Pemeriksaan pada trisemester kedua 18-20 minggu. Manfaatnya yakni :

- Memperkirakan usia kehamilan

- Melihat ukuran dan posisi janin, plasenta, dan cairan ketuban

- Memeriksa posisi janin, tali pusar dan plasenta sebelum melakukan prosedur amniocentesis atau pengambilan sampel sampel darah tali pusar

- Menemukan kemungkinan cacar lahir seperti cacat tabung saraf, masalah jantung, spina bifid, tidak adanya bagian aggota badan dan bibir sumbing

Pemeriksaan trisemester dilakukan kurang dari 21 minggu. Manfaatnya :

- Memastikan janin masih hidup dan bergerak normal

- Melihat ukuran dan posisi janin, plasenta serta cairan ketuban

Setelah Bunda mengetahui dengan pasti janin di dalam kandungan bermasalah, tentu pasti sangat sedih bukan? Sebagai orang tua bisa dipahami kondisi ini. Akan tetapi bersedih saja tidak cukup Bunda.

Solusi satu-satunya adalah segera mendiskusikannya kepada pihak dokter bersangkutan, bila sudah terdeteksi masalah kelainan tersebut. Supaya dilakukan penanganan terbaik untuk calon buah hati Bunda, jika masih bisa  ditangani, dan berdoa yang terbaik pada Allah.

Biasanya dokter kehamilan masih mampu mengatasi, pada jenis kelainan semacam spina bifida. Temuan ini didasari atas penelitian pada tahun 2011. Bahwa memperbaiki kondisi itu, terbukti dapat hasil lebih baik, ketimbang melakukannya setelah bayi lahir.

Tapi berita buruknya tidak semua kasus kelainan pada janin dapat dilakukan tindakan seperti demikian. Jadi sebaiknya Bunda memang langsung saja segera berdisikusi dengan dokter bersangkutan, untuk penanganan lebih lanjut.

0 Response to "Cara Mendeteksi Kelainan Pada Bayi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel