Skip to main content

Cara Menangani Anak Remaja Yang Lagi Kasmaran

tips menangani anak remaja yang lagi kasmaran
Bunda, mendapati buah hati yang sudah beranjak remaja dibutuhkan skill khusus menanganinya. Memang tidak ada sekolah mendidik orang tua supaya bersikap baik pada putra dan putrinya. Tapi meski demikian, sebagai orang yang memiliki andil besar dalam kehadirannya di dunia, Bunda memiliki tanggung jawab membimbing, mengarahkan. Supaya masa depannya terselamatkan.

Nah, pada kesempatan kali ini artikel akan membahas permasalahan itu. Yakni bagaimana caranya menangani anak remaja yang sedang berada di masa pubertas, misalnya tengah belajar mengenal lawan jenisnya melalui pacaran. Pasti bingung ya, menghadapi lonjakan emosi mereka tersebab hormon progresteron dan testoteronnya yang lagi berkembang.

Tak usah cemas! Berikut cara menanganinya agar semua berjalan baik, konsentrasinya pada pelajaran sekolah juga tida terganggu. Begini triknya!

1. Jadilah sahabatnya

Untuk sementara waktu, lepaskan kedudukan Bunda sebagai seorang ibu. Ubah pandangan itu di mata anak. jadilah sahabat terbaiknya!

Layaknya sahabat, yang menjadi tempat paling aman menumpahkan segala peraaan dan isi hati. tanpa merasa takut dihakimi, Bunda juga harus mau bersikap seperti itu. Sebab mereka percaya, posisi sahabat adalah seseorang yang bisa dipertanggung-jawabkan ucapan serta tindakannya.

Dekati anak yang sedang berada pada masa ini. Biarkan dia bebas bercerita, mengisahkan siapa orang yang diam-diam telah bersaing dengan Bunda. Tak perlu merasa marah dan cemas, sesudahnya.

2. Beri pengertian arti ‘pacaran’ di usia mereka sekarang

Pacaran atau istilah pendekatan, untuk masing-masing hubungan dapat dibedakan menjadi berbagai kasus dan kepentingan. Merujuk dengan apa yang dilakukan oleh mereka hanyalah ‘cinta monyet’ alias anak-anak, maka sudah selayaknya, Bunda memberi pengertian itu pada mereka.

Arahkan untuk tetap fokus pada pelajaran sekolahnya. Jangan sampai terlena dengan perasaan sesaat yang menyesatkan. Beri dia pengarahan secara hati-hati, usahakan jangan menyinggung perasaannya.

3. Jangan  dimarahi

Hal ketiga ini rawan terjadi. Apalagi bila orang tua juga memiliki embel-embel sebagai orang berpengaruh di lingkungan tempat tinggalnya. Di mana attitude sangat dijaga sekali, tak jarang anak justru menjadi bengal sebab aturan ketat ini.

Akibatnya bukan rasa hormat yang didapat, tapi jusru rasa malu karena ulah anak yang membangkang. Sudah dikatakan tadi di atas yang intinya Bunda semua harus mau bersikap lembut dan bersahabat dalam menghadapi mereka.

4. Ingatkan tentang cita-citanya

Cita-cita terbukti ampuh menjadi peredam sikap itu. Saat si anak sudah mulai melangkah keluar alur, hanya itulah yang masih digunakan untuk memperingatkan mereka.

Ceritakan ke dia tentang kisah orang-orang sukses. Bisa dari buku atau mengajaknya berjalan-jalan keluar. Bertemu yang telah berhasil meraih impian, supaya hatinya terketuk, lebihbersemangat belajar.

5. Bersikap bijak

Fase pubertas pernah dialami oleh siapa saja. Sama seperti Bunda dulu saat remaja, buah hatipun sama. Mengenai perasaan yang sekarang bergejolak dalam dirinya, kurang lebih persis yang Bunda alami waktu.

Karenanya, Bunda tak perlu terlalu berlebihan menanggapi. Bersikaplah wajar, berusahalah bijak agar tidak dimusuhi anak, sehingga anak tetap bisa menghormati orang tuanya, sebab perilaku positif yang ia terima.

Jadi jangan sampai salah menempatkan diri ya, Bunda. Kita ketahui bersama, pergaulan anak zaman sekarang sangat mencemaskan. Semakin dikeras justru anak semakin menentang.

Karena  sudah tidak masanya mendidik anak memakai aturan kolot. Selayaknya orang tua tidak membatasi ruang gerak anak, tapi juga tidak lepas tanggung jawab, tanpa pengawasan penuh.
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar