Jihad Sebagai Metode Islam Dalam Mewujudkan Perdamaian

Jihad Sebagai Metode Islam Dalam Mewujudkan Perdamaian

Jihad Sebagai Metode Islam Dalam Mewujudkan Perdamaian

cara islam wujudkan perdamaian adalah dengan jihad
BacaNulis.Com - Dalam Islam berkaitan dengan ibadah banyak yang bisa dilakukan. Segala aktivitas kehidupan bernilai ibadah jika di niatkan karena Allah ta'ala. Salah satunya dengan berjihad dijalan Allah SWT, yang memiliki sebuah ganjaran yang sangat besar. Berkaitan dengan jihad, bukanlah sebuah kata yang ekstrim atau ditakuti. Jihad haruslah disenangi oleh setiap muslim.

Pengertian jihad diambil dari wikipedia yaitu berjuang dengan sungguh-sungguh. Artinya segala aktivitas kebaikan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dan semata-mata hanya mencari keridhoan Allah saja. Caranya juga harus sesuai dengan perjuangan Rasul dan tidak bertentangan dengan Alqur'an.

Jihad merupakan bagian dari Islam yang bisa dikatakan sebagai suatu metode untuk mewujudkan perdamaian. Baik damai secara pribadi dan masyarakat yang lebih luas. Bahkan dalam mewujudkan perdamaian jihad boleh dilakukan dengan perang. Terkadang perang menjadi jalan terakhir untuk bisa terciptanya perdamaian. Hal ini boleh dilakukan untuk menegakkan perdamaian tersebut dengan perang, akan tetapi caranya tidak bertentangan dengan sunnah dan Alqur'an, serta niat karena Allah semata.

Dalam sebuah riwayat, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah berduel dengan dedengkot musyrikin quraisy yang bernama Amr bin Abd Wad Almiri. Pertarungannya sangat sengit, kadang posisi Ali dengan pedangnya dibawah dan kadang pula Amr yang dibawah dengan lutut yang menahan serangan Ali. Pada akhirnya Amr terpojok dan terpelanting pedang yang Ia pegang. Kesempatan Ali di depan mata untuk menebas Amr. Namun, tiba-tiba Amr meludahi wajah Ali, dan seketika itu Ali meninggalkan Amr dan tidak jadi menebasnya. Lalu para sahabat bertanya kepada Ali, mengapa Ia menghentikan niatnya untuk membunuh Amr. Ali pun menjawab bahwa ketika Amr meludahinya, Ali begitu marah. Dan Ia tidak mau membunuh Amr karena sebuah kemarahan, bukan karena Allah. Ini adalah sebuah contoh jihad, dimana niat yang dipersembahkan hanyalah kepada Allah SWT.

Bila dibandingkan dengan perang, sebenarnya jihad sangatlah berbeda dari segi cara dan niatnya. Sudah jelas bila dikatakan jihad, maka caranya baik dan niatnya baik semata karena Allah. Tapi bila dikatakan perang, bisa punya banyak motif. Bisa jadi karena kepentingan pribadi, kepentingan kelompok, perebutan kekuasaan, atau balas dendam. Hal tersebut sebuah niat yang menyimpang jauh dari jihad, sehingga sebuah peperangan bisa dilakukan dengan cara yang keji dan zholim, yang penting tujuannya tercapai.

Terkait dengan dengan jihad, tidak semata-mata mengarah pada perang fisik. Banyak konteks yang mengisahkan tentang jihad. Misalnya saja ada seorang sahabat yang ingin pergi ikut perang membela Islam. Kemudian nabi bertanya, apakah engkau punya orang tua. Ia menjawab; punya ya Rasul. Nabi pun berkata "jihadmu adalah mengurus orang tuamu dengan baik". Begitu juga cerita yang lain, pada saat perang semua para sahabat ingin ikut perang, dan kata nabi "sebagian kita berjihad dengan perang dan yang lain menuntut ilmu".

Dalam konteks lain, misalnya juga jihad melawan hawa nafsu yang jahat;
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

(Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya), maka hadits ini derajatnya shahih. Diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu. Juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ad-Dailami. Hadits ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami’ush-Shaghîr, no 1099, dan beliau menjelaskannya secara rinci dalam Silsilah Ash-Shâhihah, no. 1496. (dikutip dari: https://almanhaj.or.id/5063-melawan-hawa-nafsu-jihad-terbesar.html).

Berkaitan perintah berjihad salah satunya terdapat dalam Alqur'an surat An Nisa ayat 95:
لا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا (٩٥

95. Tidaklah sama antara orang beriman yang duduk (yang tidak turut berperang) tanpa mempunyai uzur (halangan) dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk (tidak ikut berperang tanpa halangan). Kepada masing-masing, Allah menjanjikan (pahala) yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar.

Ayat diatas sangat menegaskan begitu mulianya orang-orang yang mau melakukan jihad. Sebab untuk mewujudkan sebuah perdamaian tidaklah mungkin bisa terwujud hanya dengan duduk saja, perlu aksi nyata yang dilakukan. Damaikan diri saja perlu memerangi hawa nafsu, apalagi mendamaikan orang lain dan masyarakat luas, perlu jihad yang lebih ekstra lagi. Bahkan dengan harta dan jiwa yang dimiliki. Akan tetapi Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan pahala yang besar dan derajat yang tinggi. Oleh karena itu, ini menjadi sebuah kesempatan bagi setiap muslim untuk berbuat.


Pada beberapa contoh diatas, bisa diambil sebuah kesimpulan juga bahwasanya jihad itu tergantung pada setiap orang. Artinya setiap orang harus mampu melihat potensi yang ada pada dirinya, dan memanfaatkannya sebagai sebuah jihad. Lihatlah dalam diri, upaya-upaya apa saja yang tidak mudah dilakukan, namun membawa dampak kebaikan jika dilakukan. Jadikanlah itu sebagai sarana untuk berjihad dijalan Allah SWT.
Buka Komentar