Kaitan Islam Terhadap Peperangan

Kaitan Islam Terhadap Peperangan

Kaitan Islam Terhadap Peperangan

kaitan islam terhadap peperangan
BacaNulis.Com - Dalam kehidupan manusia sepanjang hidupnya perang terus terjadi. Peperangan ini sudah melekat pada diri manusia masing-masing. Sehingga apapun jamannya secara empiris perang tetap saja terjadi, walau dengan bentuk dan suasana yang berbeda.

Jika peperangan sudah menjadi tabiat manusia, nah, bagaimana kaitan Islam terhadap peperangan tersebut?. Islam mempunyai kata induk didalamnya yaitu assalam, yang bisa diartikan damai, tentram atau sejahtera. Artinya setiap orang yang masuk ke dalam Islam, hidupnya serasa damai, sejahtera atau tentram dan Ia berupaya menciptakan kedamaian dan ketentraman di alam semesta ini. Inilah yang disebut dengan Rahmatan Lil 'Alamin. Menjadi rahmat bagi semua makhluk yang ada di bumi Allah ini.

Benang merahnya adalah kedaiman. Kaitannya dengan peperangan adalah Islam menggunakannya sebagai cara untuk mewujudkan kedamaian. Tapi sebuah peperangan merupakan jalan terakhir karena Islam tidak menyukainya. Tapi demi terwujudnya sebuah perdamaian bisa di lakukan perang dengan berbagai mudharatnya, dibandingkan mudharatnya yang lebih besar jika tidak di lakukan peperangan. Sehingga jikapun harus perang maka perang yang dilakukan karena kebenaran dan niatnya lillahi ta'ala, bukan karena kepentingan pribadi, kekuasaan atau balas dendam.

Baca juga: Jihad Sebagai Metode Islam Dalam Mewujudkan Perdamaian

Ajaran Islam membawa pada jalan kedamaian. Ini juga tergantung pada orangnya, mau atau tidak untuk mewujudkannya. Pastinya ajarannya sudah sangat komplit.

Jadi bila ada isu bahwa Islam disebarkan dengan pedang, dengan peperangan ini sunguh-sungguh bertentangan dengan induk kata Islam itu sendiri. Bahkan bukti sederhana untuk membantah berita hoax ini bisa di cek dalam Alqur'an bahwa tidak ada satu kata pedang pun yang tercantum di dalam ayat Alqur'an.

Berikut ini BacaNulis.Com membuat sebuah pernyataan tentang peperangan "dalam pikiran manusia, perbedaan adalah sebab terjadinya perang, sehingga menghilangkan perbedaan dan tercapainya kesamaan mewujudkan perdamaian. Namun diujung kesamaan tersebut akan muncul perbedaan baru yang akan kembali menimbulkan peperangan". Pikiran ini tentu tidak membuat peperangan akan terhenti, karena perdamaian dengan mencari kesamaan hanyalah sebuah kesemuan belaka.

Analogi sederhananya: Ada suka A dan B, karena berbeda suku terjadilah peperangan. Pada akhirnya suku A menang dan suku B pun habis dibantai. Pada awalnya suku A menganggap bila yang hidup hanya suku A saja, tidak adanya suku B, maka dapat menghentikan peperangan dan mewujudkan perdamaian. Ternyata ketika sudah dalam suku yang sama (suku A), timbul perbedaan baru yang dulunya tidak pernah dimunculkan. Didalam suku A, terdapat si kaya dan si miskin. Kaya dan miskin ini menimbulkan perbedaan baru yang kembali menimbulkan peperangan. Misalnya saja si kaya menang, dan si miskin habis. Dalam kelompok si kaya ini, ternyata masih ada perbedaan juga. Ada yang pintar dan ada yang tidak pintar. Terjadilah perang selanjutnya, dan habislah orang dalam kategori yang tidak pintar tersebut. Sudah satu suku, sama-sama kaya dan juga sama-sama pintar, peperangan juga belum berhenti karena ada perbedaan warna cat rumah. Ada yang berwarna merah dan ada yang berwarna biru. Terjadi lagi peperangan, yang peperangan tersebut di menangkan oleh rumah yang bercat merah, dan seterusnya, dan seterusnya.

Mari lihat ajaran Islam yang indah. Cek dalam surat Al Hujarat ayat 13;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ 

Terjemahannya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Ajaran ayat diatas menanamkan pada pemahaman manusia bahwa yang menciptakan perbedaan itu Allah SWT. Bukan untuk dijadikan sebagai alasan berperang, melainkan untuk saling kenal-mengenal. Dengan perbedaan itu akan mengajarkan manusia untuk mampu menciptakan perdamaian, serta bisa melihat bahwa perbedaan itu sesuatu yang indah. Sehingga setiap manusia bisa berkasih sayang dengan sesamanya.

Pada ujung ayat dikatakan bahwa "Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu". Ini membuat dorongan untuk berlomba mewujudkan diri sebagai orang yang paling mulia yaitu dengan bertaqwa, bukan mencari -cari perbedaan-perbedaan dan menyalahkan orang/kelompok lain.

Mudah-mudah gambaran ringkas Islam yang dikaitkan terhadap peperangan bisa dipahami. Dengan satu ayat saja diharapkan menjadi sebuah gambaran bahwa Islam itu mewujudkan perdamaian.
Buka Komentar